[Fikber KOMPI] Ada Apa Dengan Arjuna? #8

Chairunisa Eka
Karya Chairunisa Eka  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 08 Mei 2016
[Fikber KOMPI]  Ada Apa Dengan Arjuna? #8

[Fikber KOMPI]  Ada Apa Dengan Arjuna? #8

 Penulis : Chairunisa Eka

 

Masa lalu

Seolah Arjuna ingin mencoba mengingat

Di antara indahnya langit bertabur bintang

Ada rasi bintang orion yang bersembunyi

Gugusan bintang di langit ini

Waktu tak bisa hentikan imaji

Masa lalu…

Ah, maksud hati tak akan mau mengingat

Tapi apa daya akhirnya teringat

Arjuna seolah kembali ke masa lalu, mengingat semua yang telah terjadi akibat kecelakaan, sudah 2 tahun berlalu tetap saja Juna berusaha keras untuk mengingat apa yang masih bisa dia ingat hingga saat ini, otaknya terus berputar-putar mencari tahu semua yang ingin diketahuinya.

Guru Durna di masa lalunya dan tentang cinta yang mengganggunya. “Hatiku memang keras lebih keras seperti batu, tak bisakah aku lebih berhati lembut untuk mencoba jatuh cinta lagi”. Ujar Juna dalam hati.

Juna sangat menikmati malam indah ini sendirian di balkon lantai 3,  yang dijadikannya tempat singgah untuk beristirahat dan mencari inspirasi di antar hingar bingar Ibukota Jakarta yang kejam. Menteng menjadi tempat singgah termanis bagi Juna semenjak kepergiannya untuk di rawat di Rumah Sakit Swasta terkenal di Jakarta, meninggalkan desa jauh menyeberangi lautan selat jawa agar juna tidak bisa kembali ke desa asalnya.

Perangai Juna pun berubah semenjak tinggal di Ibukota yang tadinya lemah lembut pun sekarang berwajah preman. Entah apa yang ada di pikiran Juna hingga dia berubah seperti ini. Lesmana Adik Arjuna tentu saja bingung dengan keanehan dan sifatnya yang sudah berubah dratis pada kakaknya, berbeda dari sebelumnya di Desa.

“kak…”. Teriak Lesmana di bawah tangga dari lantai 2. Susah payah Lesmana berteriak sekencang-kencangnya dengan suara oktaf yang lebih tinggi bak paduan suara. Tetap  saja suaranya tidak akan terdengar.

“Kaaaakkkkeeeeeekkkkk Arjunaaaaaaaaaa”. Teriak Lesmana lagi dengan menggunakan toa kertas yang di buatnya, Lesmana memang tidak kehilangan akal dia mencoba merobek kertas di atas meja yang diambilnya dari kamar kakaknya.

'Duk…aww…’ (Kepalanya kejedot meja yang dijadikan alas tempat membaca, mejanya cukup lebar dan tidak terlalu kecil atau besar).

Arjuna pun terbangun dan kaget mendengar suara Lesmana yang memanggilnya dengan sebutan kakek.

“Kakak ada di atas sana gak sih? Buruan turun gak takut masuk angin apa, bantuin adek lah kak tugas matematika nih”. Ujar Lesmana.

Dengan tergopoh-gopoh Juna akhirnya turun dengan muka sebal karena asyik bermimpi, malah mimpinya buyar gara-gara Adiknya yang super manja ini. Semenjak tidak ada orang tua mereka, Lesmana jadi lebih manja kemana-mana selalu dengan kakaknya yang penuh tato di tangan kiri dan badannya ini. Tidak mau sama kakak tirinya yang super cerewet dan hobby dandan, yang membuatnya jadi kehilangan tingkat kegantengannya bahkan dirinya jadi terlihat kurus, tidak lagi gemuk.

“Apaan sih ganggu orang tidur tahu gak, memangnya tugas matematika bikin apa sih?” Semprot Juna marah-marah.

“ini loh kak, aku di suruh guruku buat tugas makalah sebelum Ujian Nasional, Kan kakak pintar memanah, bolehlah sekali-kali bikin makalah tentang memanah cinta eh salah memanah buah”. Ujar Lesmana terkekeh-kekeh.

“Enakan memanah langsung gampang dek, kalau di suruh nulis, ogah ah gak banget dek mendingan adek cari orang lain aja tuh kan kakak tirimu jago matematika, kenapa gak tanya dia aja”. Tatap Juna dengan mata mulai tinggal 2 Megawatt.

“Oh ya sudah…kalau emang gak mau bantu huh…”. Batin lesmana. Dasar muka preman gak ada lembut-lembutnya sekarang nih si kak Juna, ngomong sendiri sambil main hati.

 

***

 

Dia seperti apa yang selalu kunantikan, aku inginkan
Dia oh dia melihatku apa adanya seakan ku sempurna
Dia seperti apa yang selalu kunantikan, aku inginkan
Dia melihatku apa adanya seakan ku sempurna

 

Lagu maliq & D’Essentials mengalun lembut di telinga Juna siang ini di Kafe Panahan, Senayan. Dia, lagu favorit Juna yang sering di putar dan selalu ada di playlist JOOX miliknya. Juna terus terbayang-bayang sampai kapan ada ‘Dia’ pemilik hati yang baru bagi Juna. Tak menutup kemungkinan untuk melupakan Srikandi, Juna masih merindukan Srikandi hadir di setiap mimpi dan khayalannya. Terus dan terus untuk mengingat Srikandi entah itu sedang galau atau tidak bagi Juna, Srikandi adalah sosok perempuan pujaannya yang tidak bisa digantikan dengan apapun. Juna masih menyayangi Srikandi, dan berkat Srikandi pula, Juna jatuh cinta pada pandangan pertamanya. Sulit bagi Juna untuk melepaskan hatinya yang baru untuk sosok perempuan lain di hidupnya yang kedua.

“Maaf Pak Juna saya terlambat bisa langsung saja bahas bisnis syariah kita?”. Anis-Salah satu penerbit skripsi pengembang ekonomi makro syariah. Manis, berhijab modern, berhati lembut, si tukang kutu buku, dan bukan sosok Juna yang cocok dijadikan calon kekasih barunya. Anis ini baru sampai di Jakarta demi bisa bertemu dengan Juna secara langsung untuk membahas suatu pekerjaan baru.

“Silahkan duduk dulu Ibu Anis, biar enak ngobrol-ngobrolnya”.

“Pak Juna, apakah ada yang ingin anda tanyakan ke saya pak?”

“ooh…emmmhhh…sebentar saya lepas earphone dulu, barusan kamu eh Ibu ngomong apa ya bisa di ulang?”

“Bapak bisa memanggil saya Anis, jangan panggil saya dengan Ibu saya masih single pak belum ada jodoh yang mendekat”. Ujar Anis tertawa dengan rayuan gombal mautnya.

“eeeehh…Ibu satu ini pinter juga ya ngegombalnya, maaf Anis maksud saya, apa bisa di ulang pertanyaan barusan?’

“Pak Juna, apakah ada yang ingin anda tanyakan ke saya pak?”. Kali ini Anis mengulangi pertanyaannya ke Juna.

“Iya ada, Anis sudah siapkah cek giro dan kantor yang akan kita buka bersama teman-teman lainnya? Saya yakin kalau teman-teman KOMPI’ers tertarik dengan membuka kantor pusat di sini. Saya lebih nyaman kalau kita buka kantor di Menteng dekat dengan Taman Menteng, siapa tahu kita bisa buka Taman Single buat kamu nis supaya Anis gak jomblo-jomblo amat hehehe…”

“Aduh si bapak ini bisa saja deh, saya belum mengecek surat giro-nya pak. Belum keluar beberapa hari yang lalu saya sudah cek ulang lewat e-mail”.

“Ya sudah bagaimana kalau kita buka teknik promosi buku perdana yang nantinya bisa sangat bermanfaat bagi pembaca, Anis kan jago ngitung duit”.

“Duh pak saya kan gak jago ngitung duit, saya bisanya ngabisin duit”.

Akhirnya mereka pun tertawa lepas bersama tanpa beban. Hari sudah semakin sore mereka berdua berpisah di kafe panahan, Senayan.

 

***

 

Larasati Ayu Srikandi, Juna terus mencoba mengingat nama lengkap Srikandi yang di kenalnya dulu. Entah kenapa Juna tidak bisa Move-On. Diam-diam Juna membuka link Inspirasi, dan mencoba membuat akun pertama dengan nama Arjuna, dan nama lain @sangpanah. Juna mencoba membuat tulisan menarik tetapi tidak berhasil akhirnya juna membuat foto selfie pertamanya dengan caption di dalam fotonya. Akulah Arjuna sang panah di Desa Bukit Pelangi. Di tulis pula ringkasan @sangpanah siap temukan warna baru untukmu.

“Tsaaaahhh…..sepertinya akan sangat keren deh ini foto, siapa tahu aku bisa ketemu Larasati-larasati yang lain, Arjuna siap Move-On kok Laras lihat saja nanti kamu akan sangat senang di sana”. Senyum simpul bahagia di wajah Juna.

 

“Kak…mau antar Lesmana ke Dojo nggak? Pengen pintar latihan memanah kayak kakak dulu nih, kan kecilnya Lesmana gak di bolehin memanah, Cuma bisa pegang dan lihatin kakak bawa-bawa alat panah. Kali aja siapa tahu Kakak bisa ketemu lagi dengan Guru Durna di sana atau ketemu teman-teman kakak yang baru pulang merantau di Hutan namanya Pak Dinan”.

“Lho kok tau Pak Dinan sih, memangnya kamu kenal di mana?”

“ya..di Dojo lah kak, kan di sana ada warung kopi, kakak nyebutnya KOMPI (koprolan sambil ngopi) hahahaha…”. Lesmana tertawa riang puas mengerjai kakaknya yang sedang bloon.

Tanpa pikir panjang, Juna mengiyakan saja ajakan Lesmana dan bersiap pergi ke Dojo, Juna tidak lupa mematikan komputernya dan bersiap bersangkat bersama Lesmana.

‘Eh, tunggu dulu dek kita ke sana naik apa?”

“Tenang kak, ada mbak Cha tetangga cantik kita di seberang itu mau nemenin dan nganterin kita ke Dojo. Mbak Cha gak sendirian tuh ada Mba paling seksi aduhai membahenol teriakannya ngalahin teriakan toa masjid kak, namanya Mba Ade”.

“ooo…”

“…..”

“Hai Les, ayok kita berangkat kalian duduk di belakang mobil saja ya aku sama mba Ade di depan”

“Oh ya kak kenalkan dulu ini kakak saya Arjuna”. Layaknya cowok ganteng sok PEDE yang ingin kenalin kakaknya kepada dua wanita di depannya.

“Iya tau koooooookkkkkk”. Teriak berbarengan dengan mba Ade.

“…..” Juna Cuma bisa melongo. (Muka preman hati Hello Kitty).

“Juna kenalin dulu ini temanku namanya mba Ade”.

“Ooo…iya…iya… salam kenal mba Ade”

 

***

 

Mbak Cha & Mba Ade

Kita sudah sampai nih di DOJO. Lha, malah si Arjuna dan Lesmana asyik ngorok dan bikin pulau di kursi mobil.

“Astaga….hahaha”.

“Ssstttt….foto dulu deh mereka berdua sebelum bangun”. Cekrek…crekek..crekek…terus di upload deh di Medsosnya mba Ade.

“Ade udah dong kasian tuh makhluk kalau di fotoin sambil ngorok begitu”.

“Biarin lah emang gue pikirin…jarang-jarang gue liat iler banyak se-kapuk di kursi mobil lo mba Cha”.

“Itu Juna ngoroknya berisik ya sampe gak denger kita ngomong apa yak mba Ade”

“Tuli kali tuh bocah apa pura-pura gak denger?”

“Yaelah kejam bener lo de sama cowok gimana gak keras hati lo pantes jomblo gak kering-kering”.

 

***

Di KOMPI Pak Bay dan Pak Dinan sudah sibuk dengan kopi dan laptopnya tidak menghiraukan keadaan Ayin dan Vera yang sedari tadi sebal mencari signal supaya bisa berselancar liar di Inspirasi, Bagus yang sibuk dan sok serius nonton bola. Mau numpang minta wifi mereka sungguh pelit, “Dasar laki-laki urakan menyebalkan ngirit signal!!!” Seru Vera.

“Ver tau nggak Pak Dinan ini keluar dari Hutan keren banget yah signalnya langsung kenceng kudu kita berguru sama dia kali aja bisa dapat full tank signal yang bandel”. Ujar Ayin.

“Eh..ngomong-ngomong lihat mbak Shinta gak? Terakhir pergi ke toilet kok gak balik-balik bener-bener siluet lincah yang tak terduga deh”. Canda mba Vera.

Anis tiba-tiba datang mendiamkan 4 orang yang sibuk berkutat ria masing-masing, lewat pintu ajaib yang tak terduga entah datangnya dari mana Anis berpura-pura membuka laptopnya diam-diam tanpa sepengetahuan mereka.

“Halooo…teman-teman siapa yang kita bawa hari ini, ini loh Arjuna yang kita bahas dari kapan tahu ternyata asli ada loh, kirain mirip sama pak Bay, hehehe…”. Canda Shinta dengan suara merdunya.

Pak Dinan Berkata, “Hai Juna yuk mari duduk sama kita-kita masih ada bangku kosong di sini”.

“Lho Anis sejak kapan datang?”. Sergah Pak Bay.

“Sejak kalian berdua sibuk sama laptop masing-masing, dan sibuk ngobrol berdua”.

“Ooo”. Ujar mereka serentak.

 Juna pun duduk terdiam melihat mereka yang begitu akrab dan sibuk dengan obrolannya masing-masing, akhirnya juna tertidur. Juna di dalam mimpinya masih terbayang-banyang mengingat kejadian dan kebersamaannya dengan Guru Durna saat berlatih memanah, dan membahas desanya saat perang membara, Juna seolah kembali ke 6 tahun yang lalu apa yang sedang terjadi padanya saat itu, entah apakah mesin waktu yang membawanya kemari ke era modern ini”.

 

[Bersambung ke Fikber KOMPI #9]

Referensi :

  1. Rasi bintang orion/waluku : Rasi bintang ini dapat dilihat di langit sebelah barat. Dinamai Orion, yang artinya adalah pemburu, rasi bintang ini didedikasikan bagi Orion, putera Neptune, seorang pemburu terbaik di dunia.
  2. Megawatt : bahasa gaul anak kemarin sore, yang artinya bersiap pasang alarm di pulau kapuk
  3. JOOX : Pemutar musik yang sedang nge-trend di kalangan remaja.

Cerita dalam Fikber ini hanyalah Fiktif belaka, bila ada nama dan kejadian yang sama ini bukan salah penulisnya tetapi salahkan Arjunanya.

Cerita Sebelumnya:

Fikber #7

Fikber#6

Fikber#5

Fikber#4

Fikber#3

Fikber#2

Fikber#1

Created By: KOMPI [Komunitas Pegiat Fiksi Inspirasi]

 

*Thumbail

 

 

 

Jakarta, 07-08 Mei 2016

-C-


  • Fadly Poetra
    Fadly Poetra
    1 tahun yang lalu.
    Kerenn ..

  • Eny Wulandari
    Eny Wulandari
    1 tahun yang lalu.
    Topppp... Jossss... !!! Teruskan mbak Cha, hehe.

  • Nisrina S Nissinero
    Nisrina S Nissinero
    1 tahun yang lalu.
    Selamat pagi, Mbak Eka, ijinkan saya mengomentari karya ini sebagai bentuk tanggung jawab menjadi peserta terakhir fikber ini.

    Pertama kali baca saya langsung tertawa, karena Juna yang amat digandrungi para cewek digambarkan suka bikin pulau saat tidur (alias ngiler), hehehe boleh juga usilnya.

    Dan satu poin yang agak 'mengganggu' saya adalah penggunaan dojo sebagai tempat latihan memanah. Karena setahu saya, dojo adalah tempat untuk latihan beladiri yang berasal dari Jepang, seperti karate, aikido, kempo, dll. Untuk panahan sepertinya itu bukan budaya Jepang deh, Mbak. Ntar deh saya coba ngumpulin data lagi.

    Selain itu, mbak Eka cukup berhasil membawa pembaca mengikuti alur tulisan yang mengalir dan renyah. Oh iya, untuk penggunaan gambar dengan background pelangi, dan penggunaan istilah Desa Bukit Pelangi harap hati-hati, karena bisa menimbulkan prasangka buruk, hehe...karena pelangi saat ini identik dengan LGBT. ^_^ Peace, mbak.

    Mungkin cukup sekian dari saya, Mbak. Maaf bila ada kata-kata yang kurang berkenan, maklumlah saya komen bukan berdasarkan ilmu sastra.

    Salaam kenal,
    Great Learner

    • Lihat 1 Respon

  • Anis 
    Anis 
    1 tahun yang lalu.
    Ada Apa dengan (Arjuna Pembawa) Cinta?
    udah nonton AADC belum mbak?

    1. seperti yang saya bilang tempo hari, mbak Cha emang cocok jadi anak sastra tulisan ini banyak deskrispi (atau narasi ya?) yang bagus untuk pengembangan cerita.
    pake teknik show, bener gak(?)

    2. nyambung dengan cerita sebelumya.
    enak dibaca dengan tema kekinian dan kehidupan sehari2 ala dewasa, eh, remaja maksudnya.

    3. ada pengenalan anggota Kompi.
    dan.....
    kenapa saya ada di situ?
    eh
    kenapa saya ditokohin seperti itu?
    tapi bagus kok

    4. inti tulisan ini masih berkutat dengan 'hiburan' (kok hiburan sih, duh apa ya...) pasca galau ditinggal si Cinta (emang Rangga?), si Laras maksudnya.
    bener gak mbak?

    5. apa lagi ya...
    maaf kalo ada salah kalimat mbak

    • Lihat 1 Respon

  • DEBORA KAREN
    DEBORA KAREN
    1 tahun yang lalu.
    Nitip jemuran dulu mau nyuci