Karya Inspiratif "Arti Pendidikan Inklusif Bagi Kamu"

Chairunisa Eka
Karya Chairunisa Eka  Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 03 Mei 2016
BISINDO

BISINDO


Bagaimana rasanya kehilangan pendengaran? Bagaimana mereka bisa berkomunikasi dengan kita yang berpendengaran normal? Banyak hal yang perlu kita pelajari untuk mengenal siapa mereka sesungguhnya

Kategori Acak

4.3 K Hak Cipta Terlindungi
Karya Inspiratif

Hari Pendidikan Nasional yang ditetapkan setiap tanggal 2 Mei. Dan cerita penggalan terbaru pada tanggal 2 Mei 2016 ini menandakan masih adanya Pendidikan yang belum memenuhi keinginan para penyandang disabilitas mendapatkan hak sepenuhnya sebagai Warga Negara Indonesia termasuk tunarungu/ wicara untuk mendapatkan guru yang bisa pandai berbahasa isyarat dengan baik dan atau interpreter di perguruan tinggi. Bisakah saya sedikit menyentil Bapak Menteri Pendidikan Anes Baswedan oh tentu saja tidak, justru harus di mulai dari diri kita sendiri dengan mendekatkan diri kepada Pendidik supaya mendorong terjadinya pembelajaran yang inklusi menyenangakan, efektif dan tidak memberatkan para siswa maupun perguruan tinggi khususnya bagi tunarungu/ wicara.

Masih ingat sekali dalam ingatan saya saat mempelajari buku tentang KI HAJAR DEWANTARA tokoh Bapak Pendidikan Nasional, salah satu tulisan paling fenomenal sepanjang masa ing ngarsa sung tulodo, ing madya mangun karsa, dan tut wuri handayani. Artinya adalah di depan memberi teladan, di tengah memberi semangat, dan di belakang memberi dorongan. Beliau bersama Douwes Deker dan Dr. Cipto Mangunkusomo (3 serangkai) juga mendirikan sebuah Perguruan yang bercorak nassional yang diberi nama Nationaal Onderwijs Institut Taman Siswa (Perguruan Nasional Taman Siswa) pada 3 Juli 1992. Perguruan ini sangat menekan kan pendidikan rasa kebangsaan kepada peserta didik agar lebih mencintai bangsa dan tanah air untuk memperoleh kemerdekaan.

Bagaimana dengan nasib para tunarungu/ wicara dalam menempuh Pendidikan di Sekolah? Apakah mereka mampu mendapatkan Pendidikan dengan baik di Sekolah Umum?

Jawabannya tentu saja bisa, guru harus bisa memahami muridnya di sekolah inklusi agar mampu berkembang dengan murid lainnya, tidak perlu di istimewakan, murid tunarungu/ wicara sama halnya dengan murid non-tunarungu. Harus pantang menyerah menerima setiap cacian, cobaan, makian dan hinaan yang di dapat oleh teman lainnya. Justru itu akan menjadi gerbang suksesnya di masa depan sesaat lulus dari sekolah. Bahwa setiap cacian, cobaan, makian, dan hinaan tidak akan menjadikannya menyesal dan keluar dari jalur yang telah di tempuhnya untuk mendapatkan Pendidikan sebaik mungkin dan berprestasi di akademik, guru harus dapat mendorong siswa tunarungu/ wicara dan non-tunarungu/ wicara agar dapat di bina dengan pengajaran yang sesuai dengan amanatnya untuk mencerdaskan siswa, bukan membodohi. Berperilaku baik dalam lingkungan Pendidikan agar siswanya bisa berhasil di masa depan setelah menempuh 12 tahun mendapatkan Pendidikan dengan baik dari SD sampai SMA.Dulu Dinas Pendidikan mensyaratkan tamatan 9 tahun untuk dapat menempuh Pendidikan dari SD hingga SMP, dimulai dari caturwulan 1 hingga caturwulan 3, dan di ganti dari semester 1 dan semester 2 yang hingga kini di terapkan. Sekarang ini Anak-anak Indonesia terutama penyandang disabilitas harus dapat menempuh Pendidikan hingga 12 tahun. Agar mereka dapat menikmati berbagai pengalaman belajar yang bisa mengubah angan dan mimpi mereka menjadi nyata, serta dapat mengasah kemampuan mereka di luar akademik.  Dengan menempuh Pendidikan ini mereka akan dapat mampu meneladani semangat perjuangan, meraih kemerdekaan dan mencintai tanah air, serta menjadi pribadi yang mampu mengubah dunia dengan karya yang nyata dan mampu menjadi teladan setiap para pemuda di tanah air.

Tidak ada salahnya belajar dari orang-orang terdahulu, agar kita dapat meraih kemerdekaan itu dengan tanpa pamrih dan terus mengabdi di bumi pertiwi. Salah satunya adalah hak tunarungu untuk mendapatkan penerjemah di perguruan tinggi dengan menutut kepad kaprodi, guru yang pandai Berbahasa Isyarat menggunakan BISINDO (Bahasa Isyarat Indonesia). Agar sebagai tunarungu mampu menjadi pribadi yang mencintai nilai-nilai sosial, dan kebangsaan. Mari kita kembali UUD 1945, sangat penting sekali agar masyarakat menyadari kembali pentingnya UUD 1945, banyak orang yang mengabaikan pancasila bahkan tidak hapal dengan pancasila.

Amandemen BAB XIII BIDANG PENDIDIKAN
Ayat 1 :  Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan
Ayat 2 :  Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah  wajib membiayainya.
Ayat 3 :  Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta ahlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang.
Ayat 4 :  Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20% dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional.
Ayat 5 :  Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menunjang tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia.

 Untuk menjadi warga Negara yang sejahtera dalam menempuh Pendidikan adalah Pemerintah harus terus mendorong setiap warga mendapatkan pendidikan dengan biaya yang murah, memadai, dan tidak memberatkan orang tua yang notabene merupakan penyandang disabilitas. Pemerintah harus memberikan ruang IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi) yang berdayaguna agar mampu di manfaatkan oleh siswa di sekolah, maupun perguruan tinggi. Agar mereka memiliki daya saing yang lebih luas dengan dunia luar dan berkembang sebagai mana mestinya.

Langkah yang harus di tempuh pemerintah menciptakan ruang pendidikan yang inklusi adalah sebagai berikut :
  1. Meningkatkan akses pendidikan terhadap masyarakat penyandang disabilitas untuk bisa menikmati pendidikan berkualitas di Indonesia.
  2. Menghilangkan ketidakmerataan dalam akses pendidikan, semisal aktivitas fisik, dan ruang gerak bagi penyandang disabilitas di desa maupun di kota.
  3. Meningkatkan mutu pendidikan dan kualifikasi guru dan dosen yang berkompoten, untuk menyiapkan tenaga siap pakai yang di butuhkan sesuai dengan kejuruannya.
  4. Memperbaiki dan membangun infrastruktursarana dan prasaran pendidikan termasuk Sekolah Luar Biasa Negeri yang terbengkalai.
  5. Pembiayaan bagi masyarakat miskin atau masyarakat penyandang tunarungu agar dapat dengan mudah bisa menikmati fasilitas pendidikan.
Di dalam CRPD atau Konveksi Hak-hak Penyandang Disabilitas
Pasal 24 tentang Pendidikan :
Alinea 2 Dalam memenuhi hak tersebut, Negara-negara pihak wajib menjamin :
  • Penyandang disabilitas tidak di kecualikan dari sistem pendidikan umum berdasarkan alas an disabilitas, dan bahwa penyandang disabilitas anak tidak di kecualikan dari pendidikan dasar wajin dan gratis atau dari pendidikan lanjutan berdasarkan alas an disabilitas;
  • Penyandang disabilitas dapat mengakses pendidikan dasar dan lanjutan yang inklusif, berkualitas dan gratis atas dasar kesamaan dengan orang lain di dalam masyarakat yang mereka tinggali;

Sebagai seorang pendidik harus bisa menyediakan pembelajaran yang efektif agar dapat di pahami oleh para siswa. Sehingga pendidik bisa memfasilitasi siswa yang tunarungu bisa mengikuti pembelajaran di sekolah umum maupun Sekolah Luar Biasa.

Dan yang terbaru adalah Undang-Undang No 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas
Bagian Ketiga, Pendidikan
 
Pasal 40 :

Alinea 3 : Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib mengikutsertakan anak penyandang disabilitas dalam program wajib belajar 12 tahun.

Pasal 44 :

Perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan keguruan wajib memasukkan mata kuliah tentang pendidikan inklusif dalam kurikulum.

 Penutup :

Memperoleh kesamaan dan kessempatan dalam menepmuh bidang Pendidikan, serta memperoleh pemanfaatan sumber daya IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan teknologi), dan keterampilan dasar yang di butuhkan untuk kemandirrian dan partisipasi penuh dalam menempuh pendidikan dan pengembangan sosial agar mampu bersosialisasi dan berkomunikasi di masyarakat. Sebagai dasar pertimbangan bahwa memang benar masih ada tunarungu yang kurang berbahasa dengan baik sehingga masih banyak pengembangan berbahasa dengan baik melalui Bahasa Isyarat yang menghatarkan tunarungu bisa berkomunikasi selayaknya salah satunya adalah memahami Bahasa Indonesia, sangat penting bagi tunarungu agar mampu menangkap bahasa yang dapat di kuasainya dengan baik, dan tidak terbalik- balik di dukung dengan potensi pendidik yang berkualitas, berbudaya, dan berpengetahuan luas mampu membawa tunarungu/ wicara berhasil menempuh pendidikannya di Sekolah umum maupun di Sekolah Luar Biasa. Harapannya dapat mengembangkan juga minat baca tunarungu/wicara dengan memperluas perpustakaan, buku yang menjadi jendela dunia dalam mencapai keberhasilan berbahasa. Pengalaman adalah guru terbaik untuk mencari ilmu.

 Tambahan Masukan Bagi Pemerintah :
Pemerintah maupun kementerian sosial dan jajarannya harus berfikir ulang termasuk mengubah kurikulum pendidikan bagi Anak berkebutuhan Khusus di Sekolah Luar Biasa tidak hanya untuk tunarungu. wicara saja tetapi semua lapisan ketunaan, membentuk kurikulum yang sama dengan sekolah umum ringan dan tidak memberatkan (untuk menghasilkan anak cerdas dan manusiawi). serta mengganti jam masuk sekolah (karena saya ingat pada salah satu teman saya yang anaknya tuna netra maupun tuna daksa, harus berangkat dari sebelum subuh agar tidak terjebak macet untuk tiba di sekolah, padahal jarak dari rumah dengan sekolah sangat cukup jauh). Jika ini di lakukan secara terus menerus Anak tidak akan bisa belajar mandiri di usia dini, dalam tingkat sekolah dasar ke sekolah menengah. Dan juga untuk para pendidik yang mengajar di SLB jangan membuat siswa ABK menjadi kesulitan dalam mengerjakan tugas Pekerjaan Rumah yang harus selesai pada saat itu juga. Belajarlah dari pendidikan di Jepang dalam mendidik siswa yang bermoral, terdidik, dan disiplin.

Jakarta, 03 Mei 2015

Di torehkan melalui tuts keyboard oleh Chairunisa Eka

 

Tunarungu/Wicara, Pendidikan, UUD 1945, CRPD, UU NO 8 TAHUN 2016, Inklusi, Inklusif

 

Thumbail : Milik Pribadi

Caption : Dalam Rangka Kemandirian Bagi Siswa-i Tunarungu di SLB-B YKDW , Karawaci, Tangerang (14 April 2011)