#SebuahCerita Hanya Ada kamu & Aku (3)

Chairunisa Eka
Karya Chairunisa Eka  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 11 April 2016
#SebuahCerita Hanya Ada kamu & Aku (3)

Cerita Sebelumnya : #SebuahCerita Hanya Ada Kamu & Aku (2)

Dari dekat dia sangat sibuk sekali mengetik-ngetik layar di handphonenya, dan sesekali tersenyum kecil. Apa yang ada dipikirannya hingga aku yang sedekat dia ini diabaikan begitu saja. Tiba-tiba bunyi handphone berdering ada pesan tanpa nomor di Watshapp lalu diam-diam ku buka, ada pesan tak di kenal menyapaku saat nasi goreng tiba di atas meja, perlahan-lahan aku buka isi pesannya sangat membuatku kaget.

"Hai kamu, apa kabar masih ingat aku? cowok yang sama kamu sekarang itu brengsek, Adikku pernah pacaran sama dia, jangan sampai kamu jadi korbannya, aku sekarang gak jauh dari kamu lihat ke belakang cowokmu'".

Dheg..itu kan? kenapa dia masih hidup, aku kira dia sudah gak ada.

 

---

Aku diam-diam meliriknya dari kejauhan sembari makan tanpa sepengetahuannya. Dia memberikan bahasa isyarat untuk segera membaca kembali pesan yang di kirimkan untukku.

"itu siapa? pacar elo? Udahin aja, gue masih dendam sama dia'. Aku hanya bisa tersenyum sinis, aku memang belum tahu semua tentangnya setidaknya aku memiliki gambaran. lalu ku balas pesannya dengan cetus.

'Kirain lo udah mati, masih hidup aja lo, emang kenapa sama pacar gue? masalah buat lo? Kirain lo sudah gak mau kontekan lagi sama gue, elo masih dendam sama gue pacar gue juga gitu?'".  Sambil ngomel-ngomel dalam hati dan tangan gemetaran membalas pesan singkatnya.

'kamu kenapa?'.  tanyanya kepadaku, dia sempat kaget melihat ekspresiku tidak dari biasanya.

'Aku, aku, aku tidak apa-apa kok cuma lemes aja lihat pembayaran akhir bulan'. kataku bohong dalam hati sebenarnya hanya sebuah pesan.

'Hmmm, sudah habiskan dulu makanannya sayang itu nasinya nangis'. 

'Iya, tapi kalau nggak habis jangan marah ya, nasinya aku bungkus saja buat sisaan makan di rumah'.

'Gak bisa kamu harus habiskan, itu nasi gorengnya'. Padahal memang beneran lagi gak nafsu makan nasi goreng apa mau di kata akhirnya aku menghabiskannya juga dengan susah payah.

'Yuk balik, beruntung kamu makannya habis, repot itu susah-susah abang nasgornya buatin kamu makan'.

'Iya, dari tadi abang nasgornya ketawa-ketawa liatin aku tuh pas kamu bilang nasinya nangis'

'Hahaha...'. Sambil mencubit lengan tangannya.

'Jadi berapaan bang nasi goreng dua ini, sama minumannya juga?'

'Buat neng saya kasih murah, karena baru neng aja yang ngabisin di sini karena saya baru jualan'. Kata abang penjual nasi goreng.

'Loh kok gitu sih bang, harga pasarlah bang'. Kataku sambil ngomel.

'Bercanda neng, jadi totalnya tiga puluh delapan ribu rupiah'. Sambil menyodorkan uang lima puluh ribuan.

'Ambil saja kembaliannya ya bang, yuk say balik ke mobil'. Sambil menggenggam tanganku dan mengantarku ke dalam mobilnya.

 

Hati-hati di jalan, jangan lupa save nomor gue yang baru ya. Tiba-tiba pesan singkat itu kembali membuatku sedikit pusing. Di dalam perjalanan aku menginggat kembali maksud pesan yang disampaikan olehnya. Aku semakin penasaran ada apa dengannya di masa lalu. Dan aku semakin ingin mencari tahu, apakah dia terlibat masalah atau perkelahian. Ah, banyak sekali berjuta-juta pertanyaan untukku yang belum terungkapkan.

'Sudah sampai nih, kamu gak turun?'.

'Ah iya terima kasih'. Sambil membuka pintu tanpa sepatah kata.

'Hei...kamu lupa ini?'. sambil memberi isyarat memegang jaketku.

'Oh iya kenapa aku hampir ketinggalan jaket, terima kasih ya kamu gak turun untuk pamitan?'.

'Salam saja ya, sudah larut malam gak enak sama orang rumahmu'

'Oke, nanti kusampaikan'. Segera aku bergegas menuju kamar dengan terburu-buru.

 

Gue sudah sampe rumah dengan selamat, besok lanjut saja ya gue capek butuh istirahat, untuk masalah pacar gue di bahas nantilah gue gak mau pikirin. 

Bagus kalo lu pulang dengan selamat, selamat sampe di rumah dan selamat tidur. Begitu bunyi pesan Watshapp terakhirnya.

 

Malam ini aku benar-benar tidak bisa tidur. Sejak kapan dia ada di sana saat aku sedang makan, dan semua masa lalu tentangnya hadir di pikiranku. Pusing sekali kepalaku malam ini, apa semua itu yang dia buat untukku, padahal dia baik banget menurutku. Akhirnya malam ini aku googling nama pacarku di laptopku mumpung internet sedang lancar. 

HAAAAAHHHH.....Kasus korupsi? tidak mungkin, mana mungkin dia melakukan kasus korupsi itu tanpa sepengetahuanku. Selama ini aku baik-baik saja berhubungan dengannya, jadi selama ini dia memanfaatku hanya agar dia bisa berkeliaran, dekat denganku? tidak mungkin, itu kejadian sudah 2 tahun yang lalu kenapa aku baru tahu sekarang bodohnya aku. Kenapa masih mau berhubungan dengan koruptor macam dia, dia kaya punya mobil, fashionable, hp canggih. Sedangkan aku? tidak fashionable, hp butut, tidak punya mobil hanya punya motor. Masalah gitu kaya dan miskin? ahhh......puuuussiiinnggggg, untung besok hari sabtu. 

Dan aku pun mengomel sampai tertidur di atas laptop yang menyala sampai pagi hari.

Tok..tok..tok...

Bunyi pintu di kamar membangunkan pagiku.

'Siapa oi??'

'Bangun neng sudah siang, ada tamu nih siaapa lagi kalo bukan?'

Hah..sudah siang? jam berapa ini? jam 11 siang astagaaaaaaaa...aku bisa gila lupa kalau hari ini ada meeting. Tunggu-tunggu ada pesan masuk.

 

Pesan singkat dari kantor

Hari ini gak jadi meeting boss mau ketemu sama orang penting di luar kantor, tolong data-data yang mau di bahas meeting ini di rekap untuk senin besok saja ya, regard 

Untung aku masih tidur dengan nyenyaknya, alamat begadang lagi ini ceritanya, masih untung gak jadi meeting dengan badan yang masih bau iler hahaha tawaku dalam hati.

tok..tok..tok...

'Neng, buka pintunya'. Pembantuku berulang kali mengetuk pintu kamarku gak bosan-bosan.

'Iya sebentar'.

'Ada apa mbok yo?'. Sambil ngucek-ngucek mata.

'Itu ada tamu di luar sedang menunggumu'

'Tamu siapa ya mbok? apa pacar saya mbok?'

'Lah iya neng siapa lagi sih neng masa orang lain lagi?'

'Oh ya, aku mandi dulu ya mbok, bisa sampaikan untuk menunggu aku selesai mandi?'

'Iya cepat ya mba, sarapannya sudah saya siapkan di meja, orang rumah lagi pergi ke Bogor sudah berangkat tadi pagi gak enak bangunin mba-nya yang lagi tidur'.

'Baik mbok, terima kasih mbok'

Tumben dia pagi-pagi ke sini ada apa ya? Apa ada hal penting semalam yang mau dibahas, ah sudahlah yang penting mandi dulu. Ngomong sambil mandi. Selesai mandi aku bergegas untuk berpakaian dan menyapanya. Juga mengajaknya sarapan.

'Hai, ada apa nih pagi-pagi, sudah menunggu berapa jam? Aku sarapan dulu ya, kamu sudah sarapan? apa mau temani aku sarapan?'.

'Eh iya kamu tumben cantik pagi ini, sudah setengah jam ga apa-apa kok, aku sudah sarapan kamu saja yang sarapan'.

'Iya tapi temenin ya, sambil ngobrol bisa kan?'

'Hmmm...oke aku temenin'. 

 

Di meja makan

'Kok kamu sarapannya roti gandum sama susu? gak ada sarapan lain?.

'Ya siapa tahu kamu ngajak aku makan lagi di luar'.

'Yeee....aku hari ini gak kemana-mana jadi di rumah kamu aja'.

'Tumbeeennnnn ya kamu, jarang-jarang loh ya kamu kesini pagi-pagi'.

'Iya nih gak seperti biasanya ya, banyak hal yang mau aku ceritakan penting tapi nanti deh selesai makan'

'Sekarang sajalah ini aku sudah mau habis makannya'. sambil memperlihatkan piring yang sudah mulai kosong.

'Itu juga susu di gelas belum kamu habiskan kok'

'hehehe...tau aja'

Aku dan pacarku memutuskan untuk mengobrol di gazebo sampai siang. Aku pun bersiap untuk menjadi pendengar yang baik baginya, dan dia yang lebih dulu memulai percakapan.

'Jadi kita ngobrolnya di sini ya? Bagus sekali gazebo-nya terakhir aku ke sini belum ada'.

'Iya, ini baru beberapa minggu yang lalu selesai, kebetulan aku memang ingin punya tempat santai yang enak jadi aku minta tolong temanku untuk membuatkan desain gazebo-nya, orang tuaku setuju dan suka semua ini pakai uang hasil kerjaku'.

'Oh...hangat disini tidak terlalu panas ya, pantes kamu suka sekali di sini ya sekarang'.

'Ya kan siapa tahu bisa ngobrol santai berdua di sini sama kamu biar kamu betah hehehe'.

'Alah...alah...bisa aja'.

'Ada apa yang membuatmu ke sini ya apa ada hal penting yang mau kamu bahas?'.

'Iya, aku kangen sama kamunya jadi aku ke sini, tapi untuk hari ini saja'.

'Maksudnya? Aku nggak ngerti apa yang kamu bilang'. Masih dengan tanda tanya.

'Begini, sebelumnya aku minta maaf sama kamu, aku nggak bisa meneruskan hubungan ini. Kamu orang spesial yang sangat terlalu baik buatku. Kamu bisa mencari orang lain yang lebih baik dariku, bisa kan?'

'Jadi kamu ke sini untuk bilang putus?'

'ehem..(sambil batuk-batuk), iya maksudnya seperti itu, kita gak usah berhubungan lagi, hubungan kita harus di akhiri saja. Aku tahu kamu pasti sedih setidaknya aku putus dari kamu baik-baik dan tidak membuat kamu terluka'.

'Tidak, aku sebenarnya sudah mulai sayang sama kamu, tetapi kenapa semuanya harus berakhir seperti ini saat hatiku masih di kamu?'

'Aku tahu aku salah hari ini, aku tak seharusnya bilang hari ini, tapi aku harus segera melepaskan kamu. Aku yakin kamu bisa mendapatkan penggantiku dengan segera, aku yakin itu kok'. Sambil menggenggam erat tanganku, dan tak akan lepas untuk terakhir kali.

'Aku harus bagaimana tanpa kamu, pasti hariku akan sepi lagi'.

'Kamu gak usah bingung, masih ada kan orang yang sayang sama kamu, kamu gak sendirian kok'.

'Tidaaakkk..(sambil terisak-isak), akulah yang sayang sama kamu'.

'Maaf, aku tidak bisa aku harus segera pergi dari sini, terima kasih untuk semua yang kamu dan aku lalui bersama'.

'Mas, ini bukan mimpi kan? ini nyata kan?'.

'ini nyata, ini juga bukan mimpi lihat sekelilingmu, aku pisah sama kamu baik-baik. Aku yakin kamu bisa menerimanya, aku pamit dulu'.

(Meninggalkanku sendirian di gazebo).

 

Tanpa sadar dia telah meninggalkanku sendirian di rumah dan hari ini keluargaku tidak di rumah pula.

'loh mba pacarnya kemana? Ini baru mbok bawakan minuman kok sudah pergi'.

'Sudah mbok aku mau masuk ke dalam ruang tamu dulu, mending minumnya mbok yang habiskan'. (Sambil menyeka air mata agar tidak terlihat oleh mbok pembantunya di rumah).

 

Aku meninggalkan Handphoneku di ruang TV. Banyak telepon masuk dan pesan singkat dari teman-temanku, bahkan keluargaku. Mengabari kondisiku saat ini, juga memintaku untuk tidak menyetel TV. Membuatku agar tetap tenang, dan tidak larut dalam kesedihan.

'Mboooooooookkkkkkk......Tidak mungkin, barusan itu siapa mboooookkkk'. Si mbok pun jadi ikutan panik dan bingung.

'Iya neng, sebentar ada apa ya neng?'. Tanya si mbok dengan nada bingung.

'Mbok remote TV nya di manaaaaaa???'. Sambil marah-marah ke mbok.

'Aduh mbok nggak tau neng, di mana lupa terakhir mbok taruh di bawah sofa'. Padahal mboknya juga nggak tahu terakhir taruh di mana saat membersihkan.

'Coba di ingat lagi mbok taruh di mana di sofa juga gak ada'.

'Duh, sabar neng mbok lagi coba inget-inget'.

'Ah mbok ini gimana sih pelupa ini sudah ketemu ada di buffet'.

'Neng tadi bilang apa yang barusan sih?'. Mboknya jadi ikutan panik nggak tahu harus ngomong apa lagi.

'Ya mbok bisa duduk di sini sebentar nggak please mbok aku mau setel berita di TV'.

'Astaga...'.

'Itu kan...masnya kamu??? yang tadi dateng ke sini kan???'.

'Hah??? Apa??'.

'Lihat itu motor dan juga mobilnya, bukannya itu motor yang terakhir dateng kesini kan temanmu? mobil itu mobilnya mas-mu kan?'.

'Mboookkkkk...itu tidak mungkiiinn...itu cuma mimpiiii mbok benarkan aku hari ini cuma mimpi mbok'. (sambil menangis).

'Lah mana mbok tahu mbok juga nggak ngerti tadi yang dateng itu siapa'. Masih dengan wajah yang bingung.

Ya Allah ya Gusti apakah aku hari ini bermimpi tolonglah aku ini benar hanya mimpi please. Aku tahu ini semua hanya mimpi, aku tahu itu aku tahu. hiks...hiks...

Mbokku hanya bisa menenangkanku sambil memelukku dengan erat. Suara ketuk pintu terdengar dari arah ruang tamu. Ternyata semua teman-temanku datang untuk menenangkan dan menghiburku menunggu keluargaku balik ke rumah. Selama hampir 3 jam teman dekatku berusaha untuk menenangkan pikiranku yang kusut, dan air mataku yang mulai membengkak. Tidak ada satupun yang berhasil menenangkanku, hanya bisa menunduk lesu untuk menunggu orangtuaku tiba.  Keluargaku sudah tiba di rumah saat semua temanku sudah menyerah. Hanya satu dari dua kata yang mereka sampaikan untukku agar aku bisa lebih rileks dan tenang. Ibuku segera bergegas menghampiriku dan menenangkanku. Pikiranku sudah tidak terkontrol. Hari ini aku benar-benar sepeerti orang gila, dan stress.

'Nak kamu harus ikhlas yang pergi dua-duanya adalah orang yang pernah dekat dengan kamu. Ibu gak tahu kalau itu masmu, dan juga temanmu makanya ibu percepat pulang. Ibu juga tidak percaya padahal semalam masmu datang kesini mengantar kamu pulang'.

'Ibuuuuuuu...benarkan ini aku cuma mimpi aku masih nggak percaya kalau masku sudah nggak ada, padahal tadi datang ke rumah, ngobrol sama aku bu di gazebo dan dia putusin aku buuuu di sana hiks...hiks..'.

Ibuku memberi kode ke mbokku apa benar masku datang, dan memberi isyarat kalau memang benar masku datang, dan mbokku pingsan mendadak kalau masku sebenarnya kecelakaan semalam. Dan aku hampir tidak percaya dengan semua yang terjadi hari ini, seisi rumah pun kacau karenaku.

'Sudah nak ikhlaskan, kamu tidak usah ke rumah sakit, mana mungkin keluarganya tidak kenal dengan kamu, yang penting kamu doakan saja'.

'Tidak bu aku mau ketemu dia, mau lihat yang terakhir kali please bu kalau hari ini benar bukan mimpi kan bu?'

'Ini nyata nak lihat mereka semua ini nyata, kamu sedang tidak bermimpi'.

'Bohongggg....aku mau ketemu masku mau ketemu buuuuu ini cuma mimpi'.

'Aduh, Yah gimana caranya untuk menenangkannya aku sudah mulai bingung yah'. Gumam Ibu yang mulai menyerah.

'Sudah biarkan ma sampai selesai menangisnya nanti juga berhenti'. Anggap Ayah enteng.

'Bu kita temani ya, Ibu gak sendirian kok, ada kita bu'.

'Terima kasih semuanya, sudah menemani anakku sampai aku kembali ke rumah'.

 

Handphoneku berdering, ada 2 panggilan secara serentak dan tidak sama sekali ku kenal. Dan membuatku hampir teriak seperti orang kesakitan. Temanku langsung meraih handphoneku dan berbicara melalui telepon, aku tidak tahu apa yang temanku bicarakan di telepon. Aku masih dengan rasa tangisku yang belum berhenti.

'Ini barusan ada 2 telepon masuk tidak di kenal, meminta kamu untuk datang di Rumah Sakit, aku bilang hari ini kamu gak bisa, kamu harus lebih tenang, baru besok boleh datang buat menjenguk keadaannya kritis, cuma masmu yang lebih parah. yang satunya gak tau ini mantanmu atau temanmu ya, keadaannya baik hanya patah tulang'.

'Seriusssss?? buuuu ini bukan mimpi kan? buuu?'. Sambil mendorong-dorong ibuku sampai kepalanya pusing.

'Ini nyata naaakkkk'. Ibuku mulai berteriak dan membuyarkan semua pikiranku, ibuku mulai depresi dan marah kepadaku agar aku segera berhenti untuk menangis.

'Handphonenya sementara aku pegang dulu, ngomong-ngomong kodenya berapa ini? kok di kunci sih? mana aku bisa telepon kalau begini hei'. Adikku mengomel dan segera merebut handphoneku dari tangan temanku.

'Itu tanggal lahirku kodenya'.

Handphoneku berdering lagi dan aku mendapatkan kabar buruk bahwa masku meninggalkanku untuk selamanya. Aku bahkan tidak bisa mendengar percakapan di telepon karena mataku yang sembab dan membengkak.

'Kak, adek mau ngabarin ini yang telepon barusan keluarganya, dia minta kakak hari ini dateng ke rumahnya. Dia sudah di bawa ke rumah. Hai ini mau di makamkan mungkin sehabis magrib. Aku sudah bilang kakak gak bisa karena keadaan kakak'

'Ibuuuuu aku mau ke sana tolong buuuuuuu'.

'Kita mau kok temani kamu tapi kamu gak boleh sendirian di sana akan banyak wartawan, jangan sampai kamu terkena dampaknya'.

'Ya Allah terima kasih teman-teman kalian semua sudah hadir saat aku susah begini'.

 

Cinta tidak akan pernah ada habisnya, saat datang dan pergi semuanya menyimpan banyak kenangan. Ada suka dan ada duka, semuanya bagai cerita yang tak'kan usai. 
 

Sepeninggal orang yang aku cintai, aku pun harus memulai kembali menata kekosongan hatiku dengan memperbanyak kesibukkan kerja. Di kantor semua orang sudah tahu siapa aku yang sebenarnya, nampaknya mereka semua biasa saja tidak ada yang berubah. Hanya saja kerjaanku yang semakin banyak, aku juga bahkan di larang lembur di atas jam 9 malam oleh bosku mengingat aku satu-satunya perempuan yang sering pulang larut malam. Kesendirianku ini tiba-tiba hadir kembali, tanpa sengaja aku membuka file komputer yang semua isinya adalah kenanganku dan masku di masa lalu. Semua itu hanyalah khayalan, dan aku bangga bisa mencintainya, menjadi yang terakhir dalam kehidupannya. Tapi bukan untukku, aku masih sangat mencintainya hingga sekarangpun walau hati ini terpisah oleh maut. 

-TAMAT-

 

Jakarta, 11 April 2016

-C-