Bagai Ilalang

Chairunisa Eka
Karya Chairunisa Eka  Kategori Puisi
dipublikasikan 04 April 2016
Bagai Ilalang

Hai...kamu apa kabarnya disana? pernah kau mencoba untuk merinduku saat merasakan aku tak lagi berada disampingmu. Setegar apa dirimu ketika mencoba melangkah pergi kemudian menghilang bersama perginya angin berhembus. Rasanya luar biasa ya kemanapun tujuanmu pergi tidak ada yang perlu kau cemaskan.

Mungkin kamu memang belum tahu seperti apa sesungguhnya diriku, ah sudahlah lupakan saja cerita tentangku. Lakukanlah sesuka hatimu agar kamu merasa bahagia, merasa dirimu paling sempurna. Padahal aku tahu banyak hal yang kamu sembunyikan agar merasa sempurna. Ya, sosok seseorang yang pantas menjadi bagian tulang rusukmu.

Aku bagaikan debu yang kotor terbuang bersama angin secuil batu yang tak ditengok. Aku bagaikan ilalang menari diatas hamparan langit biru yang membuatku mampu tertawa lepas . Aku bagaikan air yang jernih ketika air mata membuat duka yang sangat dalam.

Aku memang berjalan pada lorong yang salah, dalam menapaki bukit untuk menuju puncak kebahagiaan, seketika itupun aku jatuh dalam jurang yang dalam. Aku tak mampu melewati sungai yang deras saat jembatan itu terputus untuk menemuimu. Aku bahkan tak berani menyeberangi lautan ketika hujan badai menerjang dan memisahkan antara aku dan kamu.

Hai kamu...aku memang tak pernah bisa menjadi yang sebaik kamu minta. Aku begini adanya bisa saja kamu rubah secara instan. Padahal aku butuh proses untuk menjadi sempurna dimatamu sebaik yang kamu mau. Jangan pernah mencoba meminta banyak hal terlalu terburu-buru.

Hai...kamu aku memang seperti ilalang yang terlanjur sepi diantara hamparan hijaunya rumput yang menari lincah. Aku hanya butuh keramaian disaat itu, aku hanya ingin kamu meramaikannya. Jika itu bisa karena aku percaya yang terbaiklah yang akan ada mewarnai hari bagai pelangi

Hai...kamu seandainya waktu bisa diputar kembali, aku mungkin tak mampu bisa tertawa lepas atau terlalu takjub denganmu. bersamamu aku seperti bunga mawar yang berduri. Jujur, merindumu sangat berat ketika kubuka album kenangan itu dan sangat terpuruk melepasmu pergi.

Hai...kamu bukankah kamu senang disana tak ada lagi celotehan riang yang membangunkan mimpimu? Tak lama lagi mungkin kamu akan sangat bahagia tanpaku. Ah...rasanya aku akan sangat lama untuk melupakan semua tentangmu. Bahagia hanya sebentar yang bisa kunikmati sehari esoknya tak ada lagi canda tawa renyahmu itu. Pembelajaran yang sangat berharga tak akan bisa lagi aku dapatkan di kamu.

Hai...kamu tidak apa-apa aku sendirian disini karena ilalang itu akan pergi bersama hembusan angin layu sebelum berkembang mati sebelum menjadi kompos. Air yang jernih akan tetap jernih, sungai yang deras akan tetap deras, laut yang terjal akan tetap terjal. Karena disana kehidupan akan membawamu kesuatu tempat dimana kamu belum pernah mencoba menantangnya. Akankah aku mencobanya membuat jembatan terputus itu kembali walau tak seperti semula?


  • Ayin Elfarima
    Ayin Elfarima
    1 tahun yang lalu.
    Hai, kamu. Aku suka tulisan ini.

  • Anis 
    Anis 
    1 tahun yang lalu.
    tapi ilalang keren kok mba, dia bisa bertahan hidup, dan selalu berkembangbiak jadi banyak :/
    *iya gak sih?

    • Lihat 5 Respon