Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Lainnya 8 Juni 2018   14:27 WIB
Kisah Rumah Adat Karo Yang Berusia 154 Tahun

Karo bukan hanya terkenal untuk wilayah Brastagi saja. Desa Lingga Karo yang sudah ada sejak 1860 dan 154 tahun. Rumah itu masih terawat dengan baik dan daya tarik wisatawan asing.

Desa Lingga di Kabupaten Karo adalah desa yang menyimpan warisan budaya dan sejarah Karo. Di desa ini pelancong bisa datang ke Karo Traditional House yang berusia lebih dari 150 tahun dan bangunannya masih asli. Luar biasa!

Seharusnya jam 11:00 malam kami tiba di Desa Lingga, teman-teman kawan berkumpul hingga 2 jam ditambah sepeda motor salah satu teman kami rusak. Meski sudah pukul 13.00 WIB Kami belum sampai di Desa Lingga.

Karena perutnya bergemuruh, kami berhenti di sebuah restoran Muslim yang terletak di persimpangan Desa Berastagi-Lingga. Asyiknya, restoran ini dinat Gunung Sinabung puncak sedikit tertutup kabut dan sesegera mungkin.

Selesai untuk mengisi energi, perjalanan kami berlanjut. Akhirnya pintu gerbang dengan prasasti Majuah-juah balasan kita. Kami segera memarkir sepeda motor di halaman Rumah Adat Karo.

Rumah Tradisional Karo di Desa Lingga didirikan pada tahun 1860 dan bangunannya masih asli hingga saat ini. Rumah Tradisional Karo memiliki fitur dan bentuk yang sangat istimewa.

Di dalamnya ada ruang besar dan tidak memiliki kamar. Satu rumah dihuni 8 atau 12 keluarga. Saat ini, rumah hanya dihuni oleh satu keluarga saja.

Rumah adat karo berupa rumah panggung, tingginya sekitar 2 meter dari tanah didukung oleh tiang ukuran kayu. Rumah Kolong sering digunakan sebagai tempat menyimpan kayu dan sebagai kandang ternak.

Rumah ini memiliki dua pintu, satu menghadap ke barat dan yang lainnya menghadap ke timur. Di depan setiap pintu ada teras, terbuat dari bambu bulat yang disebut ture. Atap rumah terbuat dari serat.

Di ujung atap ada anyaman bambu berbentuk segitiga, yang disebut Ayo-ayo. Di bagian atas Ayo-tyo ada tanduk atau kepala kerbau dengan posisi ke bawah.

Ketika kami mengunjungi rumah tradisional, kami tidak bertemu turis lain kecuali turis dari Jerman dan Perancis. Mereka cukup antusias mendengarkan penjelasan pemandu. Ironisnya, warisan budaya dan sejarah seperti ini lebih diminati oleh para wisatawan yang menggunakan masyarakat kita sendiri.

Karya : Chaerul anam