Aku, Kamu, dan Perspektif Kita

Kurnia Okthesya
Karya Kurnia Okthesya Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 09 Februari 2016
Aku, Kamu, dan Perspektif Kita

picture1

Setiap orang memiliki pandangan yang berbeda dalam menganalisis dan memahami sesuatu. Namun terkadang kita merasa jengkel jika apa yang orang lain?fikirkan sangat bertentangan dan terkesan tidak masuk akal jika dibandingkan dengan yang kita yakini.

Dulu saya sering sekali merasa aneh dengan hal tersebut, dengan beberapa orang yang menurut saya terlalu kekanakan dalam mengambil keputusan, terlalu serius menanggapi lelucon yang diberikan, terlalu cuek menanggapi orang lain sehingga terlihat tidak beretika, terlalu memaksakan ideologinya kepada lingkunagn disekitar, terlalu mementingkan diri sendiri, dan terlalu-terlalu lainnya yang saya pandang itu sebagai bukti keegoisan mereka karena setiap opini yang diberi dan aksi yang mereka lakukan terkesan tidak mempertimbangkan keadaan pihak lain selain diri sendiri dan golongan tertentu yang terkait dengan mereka. Tapi nyatanya, saya adalah yang paling egois diantara semuanya.

Satu dari banyak hal?yang turut berpartisipasi dalam menyadarkan keegoisan dan ketidak-open-minded-an saya adalah ketika beberapa waktu lalu terjadi percekcokan terkait akun-akun kecantikan di instagram. Lebay juga ya kalau disebut cekcok, hm mungkin lebih ke perbedaan pendapat.

Jadi sebuah akun instagram yang isinya adalah perempuan-perempuan cantik(yang sepertinya akun ini dimiliki oleh hampir setiap kampus dan daerah(?)) sebut saja nama akunnya @cantikKampus?ya. Nah sama seperti akun lain yang sejenis, akun tersebut berisi foto-foto perempuan yang cantik secara "rupa'. Hingga suatu hari, sebuah?akun lain yang kita sebut saja dengan @mahasiswaKampus?kontra dengan si @cantikKampus. Menurut @mahasiswaKampus, akun @cantikKampus terlalu sempit dalam mendefinisikan "cantik" karna hanya terkait fisik dan hal ini dapat menimbulkan kecemburuan bagi mahasiswi yang fotonya tidak dimuat di @cantikKampus. @mahasiswaKampus dalam aksi ketidaksetujuannya ini memosting gambar yang merupakan wujud dari "perempuan cantik" dalam pendangan si pengelola @mahasiswaKampus. Menurutnya, cantik itu tidak hanya berdasarkan rupa, tetapi juga dilihat dari keaktifan dan berbagai kontribusinya di berbagai kegiatan kampus. Jelas saja hal ini menjadi pembicaraan orang-orang karena cepatnya pergerakan informasi di media sosial dan komunikasi sehingga hal ini hampir meliputi seluruh penjur kampus.?

Sebagai manusia?biasa yang berperan sebagai pengamat, saya berusaha memahami keadaan ini dari dua sisi?yang berbeda, sebagai admin dari @cantikKampus dan @mahasiswaKampus. Sebagai @cantikKampus, menurut saya melakukan hal itu hanya untuk bersenang-senang saja dan saya rasa, orang-orang sudah begitu memahami bahwa akun-akun seperti ini memang berkonsentrasi pada perempuan yang cantik berdasarkan definisi yang berkembang secara general yaitu "rupa" nya dan sejauh perempuan-perempuan se-kampus tidak mempermasalahkan ini ya why not? It's just for fun btw.

Dari sisi @mahasiswaKampus, saya mencium aroma aktivis kampus disini. Kenapa? Pertama dari?definisi "cantik" yang diberikan oleh si admin @mahasiswaKampus, kedua karena setau saya beliau?memang anak organisasi ditambah lagi kalau dilihat secara personalnya?beliau cukup berideologi. Maksud saya adalah ideologinya sendiri yang mungkin terbentuk dari banyak hal pembantu seperti lingkungan organisasi, teman bermain, apa yang dia baca, dll sehinggaa beliau bisa mendefinisikan "cantik" tidak hanya terkati kualitas fisik saja, tetapi juga pribadinya.

Nah disinilah saya menyimpulkan?bahwa terkadang kita begitu egois dalam memandang sesuatu sehingga begitu mudah menyalahkan orang lain dan berujar?"Dia tuh nggak bisa ngelakuin?ini!". Karena seberanya terdapat?banyak hal yang menyebabkan dan mengantarkan seseorang ke perspektif yang mereka miliki dan yakini, bisa jadi itu disebabkan oleh latar belakang pendidikan mereka, teman bermain mereka serta topik bahasan mereka, buku yang mereka baca serta?tontonan yang selalu mereka prioritaskan, atau didikan orang tua mereka yang juga memiliki perspektif tersendiri terhadap metode terbaik dalam mendidik anaknya. Ada banyak hal yang bisa mempengaruhi dan menyebabkan seseorang memiliki cara berfikir yang berbeda walaupun dalam memecahkan kasus yang telah dijalani bersama.

Apa pelajaran yang saya dapatkan?

Aku, kamu, dan kita semua, masing-masing memiliki cara berfikir yang berbeda serta perspektif yang mungkin tidak sama. Bukan karena aku lebih pintar atau kamu yang lebih berpengalaman, tetapi karena kita disusun dari unsur yang berdeda, lingkungan yang tidak sama, serta kesukaan yang beraneka yang mengantarkan kita menjadi pribadi yang memiliki perspektif tersendiri dalam mencerna berbagai hal yang ada. Lalu? Apa kita tidak bisa bekerja sama? Tidak, kita tentu bisa bekerja sama. Kita hanya perlu saling menghargai dan mencoba mengerti,agar bisa melengkapi berbagai hal untuk lebih baik lagi.

  • view 163