Dear You; Jiwa yang Rapuh

Harmawati
Karya Harmawati  Kategori Motivasi
dipublikasikan 31 Agustus 2017
Dear You; Jiwa yang Rapuh

Di dunia ini ada hal-hal yang tidak bisa kita hindari. Seperti misalnya, dalam sebuah pertandingan semua orang yang ikut berpartisipasi, tidak semuanya bisa menang. Pasti ada yang kalah. Begitu juga dalam setiap urusan tidak selamanya berjalan mulus. Sesuatu yang kita inginkan seringkali tak sesuai dengan apa yang terjadi. Hal-hal seperti ini tidak bisa dihindari. Mereka bilang ini seperti hukum alam. Kita harus paham ini, dan sebaiknya jangan memaksakan kehendak. Berdoa saja dan lakukan yang terbaik. Hal-hal baik akan segera menghampiri.

Kita ,tentu, boleh saja menginginkannya tapi tidak harus memksakan. Kita tetap mengusahakannya dan berdoa dan kalau misalnya hasilnya nanti masih belum sesuai dengan apa yang kita inginkan. Yaudah berbesar hati nerimanya. Rencana sang pemilik selalu lebih baik dan selalu datang tepat waktu. Tak pernah cepat dan tidak pernah terlambat.

Tapi, tetap saja hal ini terkadang tidak mudah. Saya pribadi seringkali gloomy berlarut-larut gara-gara proposal saya belum di ACC-in sama dospembimbing (kok?). Tentu saja saya bukannya malah serius kerjain proposalnya saya eh malah sibuk ngadu sana sini soal yahh soal proposalnya beginilah, inilah, itulah. Padahal saya seharusnya mengerjakannya saja dengan baik-baik. Dan berdo’a. Terus sabar revisi dan bimbingan lagi. Kalau begini, kan, mau lari ke mana juga pasti proposal saya di ACC-in. Tapi, begitulah antara penyesalan dan kesadaran selalu datang di akhir-akhir. Tapi untung masih sempat sih. Dan, hubungannya dengan yang saya katakana sebelumnya, harusnya saya tetap bersikap positive mengingat bahwa suatu keadaan yang tidak sesuai dengan harapan kita sudah sangat lazim untuk terjadi.

Berbesar hati menerima ketentuanNya –sabar, ikhlas, berdoa, terus berusaha dan tidak menyerah untuk sesuatu yang rasanya sulit kita capai– dengan bekal ini pasti tidak akan terlalu susah menghadadapi keadaan yang,menurut kita, terasa sulit. Tapi yah begitulah, it is not too easy. Mungkin dengan mengigatkan diri agar sadar akan hal ini akan cukup membantu. Harus dilakukan terus menerus karena sekali saja tidak cukup. Untuk self-reminder semacam ini, seseorang mengatakan, harus dilakukan terus menerus, diibaratkan dengan mandi yang efeknya tidak bertahan cukup lama. Kira-kira seperti itulah, hehehe

Dan, untuk hal-hal lain yang tidak terelakkan, saya biasanya mengingatkan diri saya untuk hal-hal yang semua orang sudah tahu ini –dengan cara menulis, tentu saja. Tapi tetap saja, untuk diri saya pribadi, selalu tidak percuma untuk melakukan ini yang bagi saya terapi untuk jiwa saya yang rapuh, ehhh


Berhenti Menginginkan Kesempurnaan

Hal ini bisa berarti dalam hal apa aja. Misalnya saja kita mengerjakan sesuatu dan kita ingin apa yang kita kerjakan itu bisa sempurna sesempurna mungkin. Kalo tidak sempurna maka kita tidak akan merasa puasa, begitu. Padahal, kan, jika kita mengerjakan sesuatu apapun itu pasti ada saja peluangnya untuk hasil yang tidak begitu atau kurang sempurna, kan? Iya itu wajar. Bahkan seorang ahli pun bisa saja melakukan kesalahan dalam pekerjaannya. Nah, kalau kita menunggu sesuatu yang sempurna dulu untuk berbahagia, pasti akan sedikit rumit yah soalnya, kan, kita sudah tau dengan baik kalau di dunia ini tuh tidak ada yang sempurna. Iya, kah? So, stop wishing for perfection.

Stuck in the Past

Pasti rame deh yang begini. Saya juga sih kadang-kadang. Kadang eh seringa malah; susah move on, eh. Yah ini seperti penyesalan gitu. Nyesel atas apa yang dilakukan dan yang terjadi di masa lalu. Iya sih memang sudah lewat tapi masih ada bekas-bekasnya. Rasa-rasanya masib berbekas. Jadi, mungkin biarpun kita mikirkin soal masalalu ini bukan berarti kita mau ke sana, yah cuma sekedar mikirin aja gitu….belanya saya kalau marahin diri sendiri yang stuck di masa lalu. Okelah, cuma mikirin tapi apa gunanya juga? Mau balikin waktu dan ganti keadaanya juga tidak bisa,kan? Jadi mendingan udah relain saja sudah si masa lalu. Ambil pelajarannya supaya hal yang sama tidak terualang di masa depan. Ini lebih baik, kan? Eh tapi kalau cuma mengingat kenangannya tanpa berpikir hal lain dari itu, boleh?

Menginginkan Penerimaan

Penerimaan yang seperti apa? Okelah, ini mungkin ada beberapa, tapi dalam hal ini yang saya maksudkan adalah penerimaan yang dimana orang lain selalu ada dipihak kita, selalu mendukung, suka  sama kita termasuk apapun yang kita lakukan. Entah, apa ini sudah cocok dengan yang sebut penerimaan? Huh, tapi yah anggap saja seperti itulah. Jadi, ini adalah keadaan dimana kita melakukan sesuatu dan kita meninginkan orang lain setuju atas apapun yang kita lakukan. It is not like that we can’t wish for this, but it will little annoy, yah soalnya tidak semua orang bakalan setuju deh. Kecuali mungkin untuk orang terdekat seperti keluarga atau teman. Diluar daripada itu, yah mungkin ada, tapi cukup sedikit. Contoh kecilnya saja, akan ada saja orang yang tidak menyukai orang lain apapun yang dilakukan orang itu. Jadi ini seperti mustahil, sih, buat saya. Yah karena menurut pengalaman pribadi saja, saat saya melakukan sesuatu dalam hal yang ingin saya capai ada saja orang yang nyinyirin. Iya ini mungkin karena saya tidak piawai dalam hal tersebut dan itu membuatnya muak. Atau mungkin apapun alasannya. Kebawa nafsu curhat deh. Padahal, terlepas dari apapun yang saya lakukan, saya hanya berusaha mencapai hal yang ingin saya capai. Dan beruntungnya, saya tidak begitu tahu malu dan terlalu sibuk memikirkan diri saya sendiri, sehingga meskipun saya tahu mereka mikirnya begini dan begitu, saya tetap tidak peduli. Dan tetap melanjutkan misinya saya. Ini jadi seperti dendam yang memotivasi saya melakukannya.


Sebenarnya sih emang gampang kalo cuma ngomong doang. Kalau ngalamin sendiri juga pasti bakalan kalang kabut. Mikirnya kacau balau. Tapi, untuk itu alasan makanya saya nulis. Untuk nasehatin diri, untuk mengigatkan diri, untuk mengobati diri yang mungkin sudah terkena penyakit ini, hiksss-,

08/31/2017

 

  • view 50