PENERIMAAN

Harmawati
Karya Harmawati  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 31 Agustus 2017
PENERIMAAN

Hari itu, untuk pertama kalinya dia berbicara panjang lebar denganku. Biasanya, dia hanya menjadi pendengar yang baik saat bersamaku. Mendengarkan ceritaku dan sesekali meresponnya dengan tertawa. Tapi, kali ini sedikit berbeda. Mungkin dia merasa bersalah atau mungkin juga bosan membaca pesan-pesan singkatku -yang terus membahas hal yang sama- yang kukirimkan padanya setiap hari . Dia barangkali ingin memberiku penjelasan agar aku tidak salah paham, kupikir begitu.

Meskipun sebenarnya aku tidak apa-apa. Mengirimkan pesan-pesan singkat yang bahkan tidak penting seolah sudah menjadi rutinitasku meskipun selalu hanya berakhir dengan tanda read tanpa balasan. Seperti orang bodoh ,memang, tapi aku benar-benar tidak masalah. Sebab kupikir dia juga tidak bersantai-santai. Dia sibuk dengan tanggungjawabnya. Dan sebagai seseorang yang ingin selalu mendukungnya aku tidak mungkin mengeluh hanya karen pesan singkatku tidak dibalas. 

Namun, barangkali aku hanya benar-benar sangat menyayanginya sehingga hal itu tidak kujadikan sebagai masalah. Kupikir, itulah alasan yang sebenarnya. Aku tahu dia juga mengerti hal ini, tapi entah. Dia masih saja memaksaku untuk mendengarkannya berbicara.


“Aku tahu kamu tidak butuh penjelasan semacam ini. Mengenai pesan-pesan singkatmu, aku tahu meskipun kamu mengirimkannya setiap hari dan membahas hal yang sama, tapi kamu tidak benar-benar masalah dengan hal itu. Sebab kamu perempuanku yang selalu mengerti aku lebih dari aku mengerti diriku sendiri. Aku hanya merasa benar-benar beruntung memiliki kamu, tapi aku selalu saja membuatmu khawatir. Maaf.” Katanya. 

Aku masih terdiam mendengarkan dan memberikannya ruang untuk tetap bercerita

Aku tahu kamu merasa tertekan. Bersama denganku kamu harus lebih berusaha keras menahan sabar. Lebih berusaha keras meredam rindu. Kamu tahukan, beginilah keadaanku. Aku seolah dipaksa oleh hidupku untuk terus bekerja keras dan abai pada duniaku yang lain juga dunia kita. Menjadi seorang yang lebih dewasa dari yang seharusnya. Dan kenyataan yang mungkin menyakitimu aku hanya punya sedikit waktu untukmu” 

Sejenak dia terhenti berbicara. Dia memandang ke langit seolah menahan sesuatu yang akan jatuh dari matanya.

… Maaf untuk abai juga pada dunia kita. Aku hanya selalu memikirkan cara bagaimana harus kupenuhi tanggungjawabku, sampai rasanya untuk memikirkan bagaimana membuatmu senang, melakukan hal-hal romantis bersamamu, aku seolah tak sempat untuk memikirkan hal itu sampai aku kembali terlelap di malam hari. Aku tidak punya banyak waktu untukmu. Maaf, aku harus sejujur ini. Aku tidak tahu bagaimana harus mengatakannya. Aku juga tidak yakin apa ini tak masalah memberitahumu secara langsung. Tapi, kupikir ini lebih baik mengatakannya langsung padamu.” Katanya, tanpa menoleh padaku sedikitpun.


Aku terus memandanginya. Membiarkan dia terus bercerita. Aku sekaligus merasa senang, untuk pertama kalinya dia mengungkapkan apa yang seharusnya dia ungkapkan tanpa menutup-nutupinya lagi. 

Kukatakan padanya bahwa dia tidak harus mengkhawatirkan aku. Karena aku akan selalu baik-baik saja selama membersamai waktu dengannya. Aku akan selalu baik-baik saja selama dia juga baik-baik saja. Dan aku akan selalu baik-baik saja dan terus berada di sana menemaninya sampai akhir. Setidaknya hanya itu yang bisa kulakukan untuknya. Sebab membantunya mengurangi bebannya aku pun belum mampu untuk hal itu.

Dia memang bukan orang yang romantis. Bahkan kupikir dia tidak tertarik untuk hal-hal semacam itu. Barangkali, dia berpikir bahwa kenyataan dia mencintai kekasihnya, sesekali bertemu, saling bertukar kabar dan tetap setia pada rasanya, dan memperjuangkannya tanpa harus mengatakan ini dan itu, itu sudah cukup baginya. Dan mungkin alasan utamanya adalah karena dia tidak memiliki cukup banyak waktu untuk hal-hal semacam ini.

Dia juga mungkin tidak tahu, bahwa, sesekali, seorang perempuan juga ingin mendengarkan kata sayang dari kekasihnya. Mendengarkan mereka bercerita perihal keadaan hubungannya. Perempuan berpikir hal-hal semacam ini cukup romantis maka dari itu mereka menyukainya. 

Kenyataan bahwa dia abai dan tak memiliki waktu untuk hal-hal seperti itu, buatku, itu tidak masalah. Meskipun kenyataanya aku juga salah satu dari perempuan semacan yang kusebutkan itu, tapi tak apa. Aku akan bertahan tanpa hal-hal semacam itu. Aku, setiap saat, hanya perlu memberitahu diriku bahwa dia melakukannya dengan cara yang berbeda. Dia melakukannya dengan caranya sendiri. Maka akupun akan merasai hal romantis itu dalam hal berbeda pula. Lagipula mencintai itu tidak butuh alasan untuk menerima.

08/31/2017

  • view 39