Ibumu, Ibumu, Ibumu

Harmawati
Karya Harmawati  Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 22 Desember 2016
Ibumu, Ibumu, Ibumu

Hari ini, semua orang mengucapkan hal yang sama. Mereka mengungkapkan perasaanya kepada wanita terkasihnya. Tanpa terkecuali di sosial media pun demikian.

Hari ini hari para Ibu. Dia adalah wanita yang kepadanya kita sebagai seorang anak harus berbakti, ya tentu saja pada Ayah pun demikian, meskipun dalam suatu hadist dikatakan bahwa, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.'” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)

Dari hadist tersebut rasanya kita tak perlu lagi menjelaskan bagaimana kita harus bersikap padanya. Selain dari itu, Ibu memang seseorang yang paling banyak berkorban, dia yang bertaruh nyawa melahirkan kita, anaknya, ke dunia ini. Sebelum itu bahkan dia sudah membawa kita ke mana-mana selama sembilan bulan --saat kita berada dalam perutnya.

Rasanya, saya tak perlu menulis seperti ini. Semua orang tahu akan kasih dan pengorbanannya. Lalu mengapa saya menulis ini? Entahlah, saya rasa saya juga ingin mengucapkan hal yang sama. Saya ingin mengatakan cinta dan terimakasih padanya. Bahwa saya mencintainya meski tak jarang membangkang perkataanya dan saya berterimakasih untuk cinta dan pengorbanannya meski saya sering lalai dari itu. Meski saya tahu, Ibu tidak akan pernah membaca ini. Dan, mungkin Ibu tidak akan tahu bagaimana perasaan saya saat ini, bahkan buka saat ini saja --setiap saat saya mendengar mereka memanggil ibunya.

Tapi, ini bukan apa-apa dibandingkan dengan mereka yang di sana yang kehilangan ibunya di depan matanya. Jadi saya setidaknya harus tetap bersyukur. Sebab dibandingkan dengan mereka, saya masih memiliki kesempatan untuk bertemu dengan Ibu. Dan juga setidaknya, di sini saya tinggal bersama dengan seorang ibu meskipun saya memanggilnya bibi, bukan dengan sebutan ibu.

Banyak hal yang seharusnya disyukuri, kan? Meski itu tetap saja tidak merubah keadaan, tapi tetap saja kita selalu lebih baik dengan mensyukuri. Lalu, sepertinya saya tahu mengapa saya menulis ini. Iya, setidaknya saya bisa melakukan ini. Mungkin seperti itu.

Ibu, bukan hanya hari ini saja. Setiap hari setiap saat you're always in your chlidren's heart. And, I know you'll never read this, but just let me said that I love you and I really longed you. Thanks for every single love, praying and sacrifice that you have done. And, forgive me for every things that may be hurt you.  Keep you health there, Mom <3

22th Dec, 16

thumbnail

  • view 178