Pertemuan Sepi & Rindu Tak Bertuan

Harmawati
Karya Harmawati  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 03 Oktober 2016
Pertemuan Sepi & Rindu Tak Bertuan

Dalam kesenderianku bersama sepi, bersama rindu yang tak bertuan, bayangan Temu tetiba menghampiriku. Ia membisikkan sesuatu di telingaku.

"Mengapa kau begitu menikmati sendirimu, menikmati rindu yang menggigitmu ganas setiap hari yang perlahan-lahan akan menelan hatimu."

Aku memalingkan wajahku padanya yang kini telah duduk di sampingku. Aku tertarik mendengarkan ucapannya. Dalam hati aku berharap ia memiliki solusi.

"Lalu apa yan harus aku lakukan?" Tanyaku kemudian

"Gampang saja, kau hanya perlu mencipta temu pada tuan pemilik rindumu." Katanya sambil berlalu

"Apa kau yakin itu bisa berhasil? "Aku tidak menyadari bahwa ia kini telah berlalu.Berlalu tanpa mendengar apalagi menjawab pertanyanku. 

Setelah kedatangannya yang tiba-tiba itu, aku selalu memikirkan kata-katanya. Yang entah apa maksudnya,yang jelas ia bermaksud menunjukkanku pintu untuk keluar dari sepiku menuju tuan pemilik rindu ini.

Ah, aku kini siang dan malam selalu memohon pada Raja pemilik waktu. Memohon temu yang mustahil untuk ada. Namun, Dia adalah sang Pemilik, tak ada yang tidak mungkin baginya.  Yah, Sang Raja pemilik waktu mengabulkan inginanku. Dia memberikanku ruang dan waktu untuk sebuah temu yang selalu kusemogakan. 

Temu yang selalu menjdi permintaanku untuk beberapa harinya kini telah terkabul. Rindu telah berjumpa dengan tuannya. Dan aku kini telah berada di ambang pintu sepi. 

Tapi, tba-tiba dalam temu yang susah payah kunanti itu seolah menusukkan benda tajam di dadaku. Temu yang katanya akan membawaku pergi dari sepi dan rindu menyesakkan ini, mengapa semakin membuatku sesak saja oleh belenggunya bahkan sebelum temu yang kunikmati ini berlalu. Aku semakin terikat dalam sepi bersama rindu yang selalu siap menyayat hatiku setiap saat, padahal aku telah mencipta temu. 

Bagaimana mungkin? Apakah temu mengkhianatiku? Entah, aku tak ingin menyalahkan siapa-siapa. Barangkali, aku saja yang terlalu rakus dan tak bersyukur. Barangkali, aku hanya perlu mensyukuri semuanya. Bukankah Dia sang Pemilik waktu juga telah memberikan waktu-Nya untukku, Dia mengabulkan do'aku. Ah, maafkan aku yang rakus, Pemilik waktu, dan maafkan aku, Temu, telah menganggapmu sebagai pengkhianat.Sepi dan rindu, untuk beberapa waktu, kita mungkin memang ditakdirkan untuk saling menemani. 

Home, 03/10/206

thumbnail