Being Happy by Avoiding This Bad Habits!

Harmawati
Karya Harmawati  Kategori Lainnya
dipublikasikan 27 September 2016
Random Room

Random Room


Cover & judulnya udah diganti. Isinya cuma ada celotehan random. Ada beberapa nasihat yang saya peruntukkan untuk diri saya sendiri. Syukur alhmdulillah kalo bisa useful juga buat orang lain ^^

Kategori Acak

3 K Hak Cipta Terlindungi
Being Happy by Avoiding This Bad Habits!

Berbicara tentang bahagia akan menimbulkan banyak pendapat. Bahagianya saya sama kamu pasti juga berbeda. Ada bahagia menurut versi kita masing-masing. Tapi di sini saya menulis  tentang ‘penghambat’ bahagia menurut versi saya. Mungkin beda denganmu, mungkin juga sama.

Hmm, kalo menurut saya, the way to be happy is really simple and no matter how simple the way, the happiness is happiness. Yup, banyak hal-hal sederhana yang bisa dilakukan untuk mencapai bahagia. Namun, banyak juga hal-hal yang sederhana yang bisa ngebuat kita kesulitan untuk menuju bahagia itu sendiri. Apalagi kalo sering ngelakuin hal-hal ini seperti;

  1. Mengeluh

Pada saat kita mengeluh terhadap sesuatu apapun itu, sudah pasti kita nggak bahagia. Iyalahh, mana mungkin kita ngeluh kalau udah berasa bahagia. Tapi kadang-kadang, orang terlalu berlebihan. Nggak semua juga yang tidak sesuai dengan expectation kita harus dikeluhkan. Karena mengeluhkannya juga tidak akan menyelesaikan masalah atau ngebuat hal itu jadi perfect terus kitanya jadi bahagia. Puas. Tidak, tidak semudah itu. Tapi akan selalu ada cara lain jika cara yang satunya tidak menyelesaikan masalah. Apa itu? Bersyukur. Iya kalau kita bersyukur pasti kita akan merasa cukup. Lagian, walaupun kita udah dapat lebih tapi kalo kita nggak bersyukur tetap saja semuanya akan masih tetap terasa kurang. Ujung-ujungnya juga ngeluh. Kan jadi lupa bahagia kalo sibuk ngeluhnya.

  1. Menyalahkan

Tidak jarang kalau kita lagi ada masalah, kita bukannya mikirin solusi buat masalah kita tapi justru malah sibuk mikirin penyebab masalah itu terjadi. Kita malah sibuk nayalahin keadaan ataupun orang lain bahkan nyalahin diri sendiri. Padahal kan kalo kita pintar-pintar, kita bisa menjadikan masalah sebagai pembelajaran buat diri kita sendiri. Padahal setiap kejadian itu kan ada hikmahnya. Jadi selesain aja masalahnya nggak usah disesalin apalagi membabi buta menyalahkan. Terus apa hubungannya dengan bahagia? Hm soalnya kalau sering menyalahkan, orang lain jadi bakalan illfeel sama kita terus ngejauhin kita. Bahagianya kita bakalan jadi berkurang. Karena bagaimana pun orang lain apalagi teman kita sendiri juga punya kontribusi tersendiri untuk bahagianya kita. Nah, kalau mereka ngejauhin kita. Bahagia kita jadi berkurang, ‘kan? Dan, meskipun diri kita sendiri kita juga tetap tidak boleh menyalahkannya karena itu sama aja kita nggak menghargai dan tidak percaya sama diri kita sendiri. Bagaimana bisa bahagia kalo gitu? Tapi ini bukan tentang bahagia saja sih. Menyalahkan keadaan ataupun orang lain bakalan ngebuat kita jadi nggak bertanggungjawab.

  1. Membenci

Bahagia menurut saya itu tentang perasaan. Tentang apa yang hati saya rasakan, tentang apa yang pikiran saya pikirkan. Kalau di dalam hati ada perasaan dendam, dan dipikiran saya, saya membenci seseorang maka sudah dipastikan bahagia mungkin bakalan susah stay sama saya. Karna kalau urusan benci pasti ada amarah yang ikut andil bersamanya

  1. Mengkhawatirkan

Dosen saya dulu pernah bilang gini, “If you think hard you’ll get hard, and if you think easy you will get easy.” Saya tahu, maksud dosen saya tidak sesederhana ‘think easy get easy,’ Lalu saya menyimpulkan perkataan dosen saya seperti ini, “what you think is what you’ll get.” Tapi meskipun saya selalu ingat dengan kata-kata ini tetap saja saya masih suka worry-an. Terlalu penakut saya, mugkin. Untuk beberapa reality, saya sering memarahi diri saya sendiri. Karena sebelum kenyataan itu terjadi saya terlalu khawatir dan alhasil saya jadi kelelahan sendiri. Waktu saya yang bisa saya gunakan untuk melakukan hal-hal yang bisa buat saya bahagia malah saya habiskan untuk mengkhawatirkan hal-hal yang belum pasti terjadi. (Semoga abis nulis ini udah nggak suka gitu lagi deh -_-)

  1. Mengharapkan lebih

Kalau kita berharap kita juga harus siap kecewa. Iya, kecewa kalo harapannya gak sesuai apa yang terjadi and automatically waktu kita untuk berbahagia tersita lagi untuk kecewanya kita, ‘kan? Tapi ini juga nggak berarti kita harus berhenti berharap. Iya boleh berharap tapi jangan terlalu berlebihan. Siapkan ruang untuk kecewa nanti kalao kenyataan yang terjadi tidak sesuai dengan harapan kita.  Dan terkadang kita terlalu sering bicara tentang diPhp-in, dikecewain, padahal sebenarnya kita nggak bakalan berasa digituin kalau kita sendiri nggak terlalu banyak berharap. Well, jadi kalo nggak mau dikecewain ataupun diphp-in jangan terlalu mengarap deh. Soalnya kalo kecewa nanti waktu berbahagianya berkurang lagi -_-

Self reminder specially for me. Semoga abis nulis ini perasaannya udah lega dan bisa lebih bahagia lagi. Dan penghambat-penghambat ini bisa goes away. Hmm terus bisa useful juga buat yang udah ngebaca tulisan ini ^^

09/27/2016

Source Picture

  • view 233

  • Mochamad Syahrizal
    Mochamad Syahrizal
    1 tahun yang lalu.
    wah asli semuanya tepat persis kayak saya mantap, jadi ada pencerahan

  • u h
    u h
    1 tahun yang lalu.
    Jadi teringat pesan seorang guru, "Bahagia karena bersyukur bukan bersyukur karena bahagia."
    Terlihat simpel tp efek dr kalimat it bsa luar biasa.

    • Lihat 1 Respon