Bodoh atau Cinta Aku Hanya Mau Kamu

Harmawati
Karya Harmawati  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 25 September 2016
Bodoh atau Cinta  Aku Hanya Mau Kamu

Aku serasa masih tidak percaya kita masih bisa menikmati saat saat yang seperti ini. Duduk bersama di sore hari dan seperti biasa kita memandangi langit kemerahan yang tak bertepi. Hal yang tidak akan pernah membuatku bosan melakukannya bersamamu. Meskipun hanya duduk berdampingan dan sesekali terlibat percakapan kecil tapi hal itu sudah terasa sangat hebat buatku. Setelah semua yang pernah terjadi dan kini kita masih bisa melakukannya.

Ah aku tetiba jadi teringat beberapa tahun lalu kau pernah pergi dari sisiku dan memilih untuk tinggal di sisi orang lain. Huh, mengigatnya saja sudah membuatku sesak. Bahkan meski kini kau telah kembali ke sisiku tapi tetap saja sakitnya masih belum hilang dan kurasa akan tetap seperti itu. Yah, sampai sekarang aku masih sering menangis sendiri, aku masih sering mencemburui dia. Meskipun kau telah berulang kali mengatakan bahwa semua itu hanya untuk mengisi waktumu saja. Sebab katamu saat itu kau benar-benar merinduiku yang sedang melakukan perjalanan waktu itu. Tidak akan pernah ada yang sama seperti diriku, katamu.

Aku tahu, itu alasan tidak masuk akal. Tapi entahlah, aku hanya menurut dan percaya mendengarkan semuanya. Aku memaafkanmu dan kembali menjalani semuanya seolah tak pernah terjadi apa-apa. Ini tidak seperti bahwa aku merasa bersalah sebab semuanya terjadi karena memang kesalahanku dan bagaimanapun juga pengkhianat tetaplah pengkhianat. Aku melakukan semuanya hanya karena aku benar-benar tidak inign berpisah denganmu bahkan meski kau telah menyakitiku. Aku hanya ingin kau dan aku tetap berjalan dan mencoba mengabaikan semua yang hal menyakitkan itu. Meskipun itu benar-benar sulit. Karena ku benar-benar sakit, sangat sakit. Siapa yang tidak akan merasa sakit saat orang yang disayanginya mengkhianatinya?

Ah, tapi perempuan itu benar-benar lemah ah maksudku diriku benar-benar atau barangkali terlalu bodoh? Yah, mungkin aku hanya terlalu bodoh. Bagaimana mungkin di saat aku benar-benar tersakiti olehnmu namun di saat yang bersamaan aku juga benar-benar sangat merindukanmu. Aku membutuhkanmu. Aku menginginkanmu berada di sisiku. Bodoh, aku memang benar-benar bodoh. Tapi aku benar-benar tidak ada pilihan lain, dari semua yang ada di dunia ini hanya kamu yang kuinginkan menemaniku waktu itu. Kamu yang telah menyakitiku.  Tapi semuanya benar-benar sulit dan aku harus tetap melupakanmu. Tekadku sudah bulat.

Namun di saat yang bersamaan dengan alasan yang tidak mampu kumengerti, kau benar-benat datang tanpa kuminta. Kau datang meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Kau bahkan memintaku kembali. Sebenarnya kau tak perlu melakukan itu karena tanpa kau minta pun aku sudah mamaafkanmu dan sebenarnya aku memang tidak pernah menyalahkanmu. Aku tidak akan pernah membencimu. Aku hanya benci rasa sakit ini. Aku hanya kecewa. Dan aku masih tetap pada rasaku padamu. Itu bukanlah masalah. Tapi, memintaku kembali? Ah, aku tidak tahu apa yang kurasakan, entah bahagia atau semakin sakit,

Permintaanmu untuk memintaku kembali benar-benar sukses membuatku semakin sakit. Padahal seharusnya aku bahagia. Entahlah aku hanya benar-benat sedih. Katamu kau ingin selalu bersamaku, lalu mengapa kau beranjak dari sisiku? Ahhh, rasanya benar-benar sesak. Aku kini bahkan mulai berekelahi dengan diriku sendiri.

Dan tetap saja keadaannya benar-benar tidak sesederhana itu. Karena bagaimanapun juga, aku pun tidak ingin jatuh ke lubang yang sama lagi. Aku tidak ingin kejadian yang sama terulang kembali. Aku benar-benar takut. Dan belum lagi teman-temanku mengatakan bahwa aku tak seharusnya menerimamu kembali karena katanya sekali kau berbuat demikian maka kau akan melakukannya lagi, sekali, duakali dan seterusnya. Dan apa yang mereka katakan memang benar adanya. Meskipun sebenarnya ada bagian dari diriku yang tidak setuju.

Hatiku bilang tetap ingin bersamamu, ia masih sangat sayang. Setiap orang berhak mendapatkan kesempatan yang ke dua dan juga aku tidak adil jika aku mengikuti kata-kata teman-temanku, lalu aku tidak mengikuti kata hatiku sendiri, katanya. Ia bilang aku hanya akan semakin sesak jika tidak mengikuti kata-katanya. Hatiku bilang untuk menerimamu kembali. Ia tidak ingin sakitnya bertambah sakit karena harus mengabaikanmu. Katanya juga, andaikan kau tak meminta kembali mungkin ia akan memilih untuk melupakanmu . Tapi  kau meminta semuanya untuk kembali seperti semula dan ia benar-benar tidak bisa mengabaikanmu. Tetap mencintaimu dan tetap bersamamu adalah pilihannya, katanya. Dan meskipun kau tak di sampingku ia akan tetap menyimpan rasa itu untuku. Ah, benar-benar keras kepalanya.

Aku tersenyum mengingat semuanya. Rasanya masa-masa itu sangat sulit.

            “Bagaimana aku bisa melewati semuanya? Ah aku rasanya benar-benar gila waktu itu.” Bisik seolah bertanya ke langit.

            “Maafkan aku, semuanya akan baik-baik saja, sayang.” katanya sambil menggenggam tanganku.

            “Ah, bagaimana dia selalu bisa membaca pikiranku,” gerutuku.

Dia tersenyum padaku, lalu kembali memandang ke langit luas. Akupun mengikutinya.

 

[efek bosyaaaan ngerjain laporan -_-] sekalian belajar nulis ^^]

Source Thumbnail

 

           

 

  • view 216