Kamu dan Langit Abu Abu

Harmawati
Karya Harmawati  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 22 September 2016
Kamu dan Langit Abu Abu

            “Kamu sekarang lagi di mana? Sudah pulang?”

Aku melirik jam tanganku. Tinggal lima menit lagi, batinku.

            “Halo, Cha? Kamu masih di sana ‘kan?”

            “Eh iya, iya? Maaf tadi kamu bilang apa?” Aku pura-pura tidak mendengar suaranya padahal aku hanya sedang berpikir.

            “Aku nanya, kamu udah selesai belum ngajarnya? Aku jemput yah?”

Sebenarnya masih ada lima menit lagi sebelum waktu pulang, api aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Lagipula perjalanan ke sekolah kan butuh beberapa menit, pikirku.

            “Iya kok, ini udah selesai. Tapi gak apa-apa nih mau ngejemput? Kamu gak lagi sibuk ‘kan?” Aku kembali memastikan. Aku hanya benar-benar tidak ingin merepotkan meski bahkan ini bukanlah yang pertama kalinya dia menjemputku di sekolah tempatku mengajar.

Aku menunggunya di depan pintu gerbang sekolah. Hanya Beberapa menit kemudian, dia sudah berdiri di hadapanku.

            “Udah lama nunggunya? Sorry tadi macet banget sih”

            “Nggak kok, nggak lama.”

Sebenarnya sedari tadi semenjak mengangkat teleponnya. Ada hal yang mengganggu pikiranku. Suaranya ditelepon terdengar serak, tidak seperti dia yang biasanya. Tapi aku mencoba mengabaikan kekhawatiranku. Tapi ternayata kekhawatiranku memang benar.

Sepanjang jalan aku hanya memandanginya dari kaca spion motornya. Kulihat dia hanya fokus mengendarai motornya. Aku paham betul kalau seperti itu pasti dia sedang berpikir serius. Dia bahkan tak pernah melihatku dari kaca spion motornya seperti yang biasa dilakukannya.

            “Bagaimana ngajarnya tadi?”

            ....

            “Cha, kamu gak tidur lagi ‘kan? Suaranya terdengar khawatir

            “Heh, nggak kok. Aku nggak tidur.” Tidur di atas motor memang kebiasaan burukku. Tapi, kali ini aku benar-benar tidak tergoda untuk tidur. Aku mwngkhawatirkannya.

Selama perjalanan hanya itu yang keluar dari mulutnya. Harusnya aku yang mengajaknya berbicara. Tapi aku hanya benar-benar tidak punya keberanian untuk bertanya. Dan sebenarnya dia memang tidak pernah menceritakan masalahnya padaku. Bagaimana pun keadaaanya. Dia hanya selalu meminta aku menemaninya saja. Katanya itu sudah cukup.

Sore itu dia tidak langsung mengantarkanku pulang. Seperti biasa dia selalu memintaku menemaninnya. Menemani duduk di bangku di taman kota, memandangi langit bersama. Kupikir itu ide yang bagus. Dan mungkin aku akhirnya bisa memberanikan diri untu mengajaknya bercerita.

“Kamu kenapa sih? Cerita dong, aku ini pendengar yang baik loh. Meski tidak pandai memberi solusi sih.” Kataku mencoba meyakinkannya

            “Kamu ini masih kecil. Nggak usah sok mau tahu masalah orang dewasa deh. Ntar ngeganggu pertumbuhanmu loh.” Dia tertawa mengejek.

            “Siapa bilang aku ini masih kecil? Udah dewasa kok. Badannya aja yang kecil-sedikit. Lagian apa hubungannya sih kecil sama nggak bisa ngedengar masalah orang dewasa? Itu namanya diskriminasi tauu.” Aku tidak mau kalah. Aku memang tidak suka dibilangi kecil meskipun kenyataanya memang seperti itu.

            “Iya maaf, maaf. Aku hanya bercanda kok.” Suaranya tedengar tak bersemangat

            “Jadi kamu mau cerita kan?” Tanyaku bersemangat

            “Nggak.” Jawabnya singkat

Kali ini aku benar-benar menyerah. Sepertinya aku memang belum bisa dipercayai untuk mendengarkan  masalahnya, pikirku.

            “Terimkasih,” katanya kemudian,”terimkasih karena sudah mau menawarkan diri untuk mendengarkanku. Tapi kupikir kau tidak perlu mengetahuinya. Kau sendiri sudah banyak masalah, bukan? Lagipula, kau menemaniku saja di saat masa-masa sulitku itu sudah cukup membantuku. Terimakasih,” katanya lagi.

Dia mengacak-acak rambutku dan berlalu, aku pun mengikutinya bediri.   

“kau menemaniku saja di saat masa-masa sulitku itu sudah cukup membantuku, benarkah yang dikatakannya?” aku berbicara pada diriku sendiri. "Ah tapi tetap saja bukan itu masalahnya. Karena pada akhirnya aku tidak bisa membuatnya percaya untuk bercerita padaku." Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal

Aku memandang kelangit dan tersenyum sendiri. "Ahh,  langitnya juga mendung, ternyata" kataku dalam hati.

Pada langit yang padanya selalu kutemui rasa nyaman ketika memandangnya. Kali ini terlihat abu-abu, tapi hatiku tak gusar karenanya.  Sepertinya ada hal yang lebih kuinginkan melihatnya dibandingkan melihat  langit biru itu. Ah, sepertinya tak hanya melihat langit biru ataupun langit berpelangi yang bisa membuatku bisa merasa nyaman, tapi rasanya langit abu-abu pun tak akan masalah. Aasalkan kau pun memperlihatkan senyummu. Dan kurasa saat ini tak ada lagi keinginan lain selain melihat senyummu.

“Kumohon, tersenyumlah.” Bisikku

 

Source Thumbnail