Pernah Dengar Kisah Pulau Lipan? Belum? Biar Kuceritakan.

Harmawati
Karya Harmawati  Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 07 September 2016
Pernah Dengar Kisah Pulau Lipan? Belum? Biar Kuceritakan.

Ini hanya sedikit cerita tentang Pulau Marasende. Pulau yang katanya ada Lipan sebesar tikar di sana; Lipan Raksasa. Pulau ini kadang-kadang dijuluki Pulau Lipan. Apa kamu penasaran? Sama, iya saya juga penasaran. Penasaran rindu ingin mengunjunginya lagi -_-

Well, apa kamu pernah dengar Pulau Marasende atau Pulau Lipan? Ah,  saya rasa tidak. Ini pasti pertama kalinya kamu dengar.Atau jangan-jangan kamu berpikir pulau seperti itu tidak ada atau mungkin pas liat tulisan ini kamu langsung bilang gini 'memangnya ada yah pulau yg namanya Marasende atau Pulau Lipan? Baru tahu tuh.' 

Jika kamu memang bertanya demikian jawabannya adalah ADA. Iya, itu kampung halaman saya. Tempat saya dilahirkan, dibesarkan, tempat saya bermain. Tempat orang tua saya tinggal. Salah satu pulau dari ribuan pulau yang ada di Indonesia. Salah satu pulau dari puluhan pulau di Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan.

Apa yang ingin aku ceritakan tentang Pulau ini? Entahlah, saya hanya tetiba rindu saja. Mau ke sana tapi angin lagi kencang-kencang nya lagian saya masih praktek nagajar jadi yah saya bisa apa. Cuma bisa liat-liatin foto-fotonya hiks hiks. Jadi saya rasa ini mungkin bisa jadi penawar rindu; menulis tentang Pulau Kesayangn saya ini. Duh kenapa jadi curhat gini sih -_-

Baiklah maaf. Tadi kamu juga bilang tidak tahu dan tidak pernah dengar soal Pulau ini yah? Oke tidak masalah, jadi karena kamu tidak tahu apa dan bagaimana pulau yang katanya ada Lipan Raksasa di sana itu, biar  saya ceritakan yah mulai dari mengapa pulau ini diberi nama Pulau Marasende juga Pulau Lipan. 

Jadi kata Marasende itu adalah bahasa mandar (bahasa asli orang sana) terdiri dari dua kata; Mara berarti marah, Sende berarti Menerkam. 

Kamu pasti bertanya-tanya lagi mengapa namanya seram seperti itu? 

Ini ternyata ada hubungannya dengan Lipan Raksasa itu. Jadi dulu sekali jauh sebelum saya lahir bahkan sebelum Pulau Marasende berpenghuni. Di sana ada Lipan sebesar tikar, Lipan Raksasa. Saya tidak tahu persisnya yang jelas katanya Lipan ini besar sekali, yah namanya juga raksasa yah. Terus setiap ada kapal yang lewat di sekitar pulau itu pasti saja lipan ini terbang menerkamnya. Dan, inilah mengapa akhirnya pulau ini dinamai Marasende. 

Bagaimana akhirnya Pulau ini bisa berpenghuni padahal ada Lipan Raksasa di sana? 

Jadi ceritanya kabar akan Lipan Raksasa ini telah terdengar sampai ke kerajaan. Entahlah jangan tanya saya siapa yang menyebarkan dan bagaimana bisa cerita ini tersebar ke kerajaan, saya juga belum lahir waktu itu. Dan, seorang raja lalu mengutus dua orang kepercayaanya; pendekar yang hebat untuk mengunjungi pulau itu  sekaligus membunuh Lipan Raksasa tersebut. 

Akhirnya kedua pendekar pun sampai di Pulau Lipan, dengan susah payah mereka menghadapi si Lipan Raksasa. Konon, satu pendekar masuk kedalam perut Lipan Raksasa itu. Entah si pendekar ini sengaja atau memang ditelan oleh Lipan Raksasa karena kelemahan Lipan Raksasa itu ada di bagian perutnya. 

Lalu pendekar satunya pun tak mau menyianyiakan kesempatan itu. Ia mencoba mengambil kesempatan untuk membunuh Lipan tersebut. 

Rupanya usaha sang pendekar tidak sia-sia. Lipan Raksasa akhirnya terbunuh meskipun pendekar yang satunya juga ikut tewas. Sepertinya pendekar yang masuk kedalam perut Lipan itu sengaja mengorbankan dirinya demin terbunuhnya si Lipan Raksasa.  Karena tak bisa dipisahkan, antara si pendekar yang satu denga si Lipan Raksa, mereka pun akhirnya dikuburkan bersama-sama. Si pendekar yang selamat akhirnya menetap di Pulau itu. Lalu mungkin selanjutnya banyak para pelayar yang singgah dan menetap di sana.

Sampai sekarang kuburan Lipan Raksasa dan Pendekar masih ada. Jadi nisannya itu adalah pohon yang sangat tinggi. Kami di sana menyebutnya dengan 'Kayu Angin' dalam bahasa indonesia artinya (mungkin) Pohon Angin. Pohon itu tidak bisa tumbuh di dekat rumah. Katanya tidak baik. Saya lagi-lagi tidak tahu alasannya mengapa. Pohon 'kayu angin' itu hanya ada satu di sana; nisan Lipan Raksasa. 

Pohon ini adalah pohon yang tertinggi di antara pohon lainya. Biasanya pohon inilah yang akan pertama kali dilihat oleh kapal yang ingin menuju ke Pulau Marasende. 

Entah sejak mulai umur berapa saya mendengar cerita ini. Ini bukan cerita dongeng yang bisa ditemui dibuku kumpulan dongeng. Pertama kali saya mendengar dari nenek saya. Tapi saya selalu mendengar hal yang sama dari mulut kemulut tentang Pulau kami ini. Saya percaya ini bukan mitos. Ini adalah kisah cerita terbentuknya pulau di mana saya dilahirkan. Siapa yang akhirnya memberi nama pulau ini? Saya tidak tahu,mungkin sang pendekar yang mengalahkan Lipan Raksasa tadi. 

Seperti dengan namanya; Marasende. Jika kamu tahu artinya dalam bahasa Mandar. Pulau ini pastu terkesan menakutkan buat kamu. Bahkan pulau-pulau yang lainnya yang tahu tentang pulau ini memang kadang menyebutnya juga dengan 'Pulau Lipan'. 

Sekarang tidak ada lagi Lipan Raksasa yang menerkam para pelayar. Tapi, apa kamu tahu? Lipan ini sepertinya tidak benar-benar mati. Lipan ini masih suka marah dan kadang-kadang menerkam. Jadi, siapapun yang mengunjungi pulau ini mereka tidak boleh punya niat buruk kalau tidak maka Rakasa Lipan akan marah dan menerkamnya. Seraaamm!!!

Eh tapi tenang saja, jangan keburu takut dulu. Pulau ini tidak menakutkan seperti sejarahnya. Orang-orang di sana baik. Sangat Ramah. Ditambah lagi dengan pemandangan laut, sunset, wah keren deh pokoknya. Kalo tidak percaya silahkan berkunjung ke sana dan buktikan sendiri hihi 

Mengenai tempatnya, Pulau Marasende ini jauh dari kota Pangkep. Tidak ada pulau lain di dekatnya. Ada sih,tapi harus menempuh perjalanan beberapa jam dulu. Perjalanan ke Pulau Marasende ini kalo dari kota Pangkep mungkin butuh waktu 12 jam-an lah dengan mengendarai kapal laut. Tapi sebenarnya tergantung dari kecepatan kapal itu sendiri sih. 

Ohiya, dulu di sana listriknya cuma menyala kalo malam. Tapi sekarang sudah bisa nyala juga kalo siang kok. Terus di sana juga tidak ada koneksi internet loh. Jadi no telponan no internetan yah. Di sana juga tidak ada mobil, tidak pasar, mall apa lagi. 

Bagaimana kami hidup di sana dengan keadaan teknologi serba terbatas seperti itu? Hum menyenangkan, kok. Sangatt menyenangkan. Mungkin teknologi ini tidak ada apa-apanya dengan Kekeluargaanya di sana yang sangat mengagumkan. Di sana, dalam satu pulau itu berasa kalau kami semua adalah saudara. Di sana suasanya hangat banget. Ahh, damn, I really miss it -_-

Kapan-kapan kamu (kamu: siapa aja yang baca tulisan ini) juga ke sana yah jalan-jalan. Supaya bisa menyaksikan salah satu ciptaan indah-Nya. Di sana keren loh. Liat aja fotonya hihi :D

Ini liat keren kan? :D Hum itu yg kyk pohon itu namanya 'togo-togo' :D

Ini gambar lautnya. 

Itu kapal yg biasa dipake kalo mau ke Makassar atau ke mana aja. :D jadi tambah rindu ko gini :( dari gambar 2-4 saya ambil dari blog Ratna yang pernah jalan-jalan ke sana. Terimakasih Ratna (padahal belum pernah ketemu :D) gambar 1 saya sendiri yang capture beberapa tahun yang lalu -_-

  • view 709