Karena Aku Tak Ingin Bahagia KITA Hanya Sebatas Dunia Fana ini

Harmawati
Karya Harmawati  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 05 September 2016
Karena Aku Tak Ingin Bahagia KITA Hanya Sebatas Dunia Fana ini

Aku anak kedua dari empat bersaudara. Kakakku yang perempuan sudah menikah dan kini sudah memiliki anak. Dia sekarang tinggal brsama keluarga kecilnya, bersama suami dan anaknya. Adikku, dua orang anak laki-laki, mereka kembar dan masih duduk di bangku Sekolah Dasar kelas satu. Dan, aku sendiri baru saja menyelesaikan UN di sekolah menengah atas. Ayahku adalah seorang tukang kayu di kampungku, dan ibuku hanya seorang ibu rumah tangga. Ayahku setiap hari bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari kami.

Kami memang hanya keluarga yang sederhana. Namun, itu tak lantas menjadi alasan untuk aku dan adikku tumbuh jadi anak yang murung. Tapi sebaliknya, kami bahagia. Kami selalu ceria. Ayah yang selalu mengajarkan kami banyak hal. Ibu yang selalu setia mendengarkan cerita kami. Itu cukup menjadi alasan kami untuk merasa bahagia. Aku bersyukur karena untuk merasa bahagia tidak harus berlimpah materi. Sebab jika iya, maka aku dan keluargaku tak akan pernah merasa bahagia.

Seperti malam-malam biasanya setelah sholat isya kami menghabiskan malam di depan TV, kadang-kadang menikmati teh buatan ibu. Tapi, malam itu ada yang sedikit berbeda. Ruang keluarga yang biasanya dipenuhi dengan suara gelak tawa kedua adek kembarku, kali ini berlalu dengan permbicaraan yang serius. Ini berhubungan dengan kelulusanku di SMA. Ayah berencana melanjutkan sekolahku diperguruan tinggi.

Ayah tahu, sejak kecil aku ingin menjadi seorang pengajar. Ayah juga bilang dia tak ingin aku berakhir seperti mereka, ayah dan ibu. Dia ingin aku menjadi manusia yang lebih baik, yang bisa bermanfaat buat orang lain, katanya. Selain itu, ayah juga tak akan khawatir lagi masalah kedua adik kembarku sebab kata ayah akulah yang akan mengambil alih meyekolahkan mereka jika aku berhasil nanti.

            “Kamu tahu kan, nak, ayah sekarang sudah semakin tua. Pada masanya ayah akan beristirahat kerja dan tidak bisa lagi menghidupi kalian. Saat itulah kamu akan menggantikan posisi ayah menghidupi dan menyekolahkan adik-adikmu.” Ayah terdengar serius.

“Kamu tidak usah khawatirkan ayah, nak. Kamu cukup sekolah, belajar dengan baik. Raih impianmu. Masalah biaya serahkan sama ayah. Ayah dan ibu akan selalu ada untukmu. Ayah dan ibu ridho. Tapi hanya sebatas itu yang bisa ayah dan ibu upayakan. Sisanya kamu harus berjuang seorang diri.” Ayah mengakhiri pembicaraan malam itu dan berlalu ke kamarnya.

            “Ayah, selain impian yang ingin menjadi seorang pengajar itu. Aku memang tertarik dengar tawaranmu untuk melanjutkan kuliah. Karena aku ingin membantumu memikul beban berat dipundakmu. Hanya saja aku tidak yakin apakah itu benra-benar akan meringankan bebanmu, ayah?” Aku akhirnya berbicara dengan suara berat. Tangisku pecah. Ayah terhenti mendengar ucapanku. Dia kembali menghampiriku.

            “Sayang, saat kamu masuk kuliah, kau memang tak bisa langsung membantu ayah akan beban yang kau maksud itu. Entahlah, ayah tak mengerti maksudmu. Bagaimana mungkin ayah merasa terbebani dengan keluarga ayah sendiri. Tapi, ayah percaya niatmu baik. Jika memang itu yang kau risaukan, itu tak perlu, sayang. Akan selalu ada jalan percayalah sama ayah.” Ayah mengecup keningku dan berlalu.

Setelah perenungan panjang malam itu. Aku akhirnya memutuskan akan mengikuti keinginan ayah; melanjutkan kuliah, mencapai impian menjadi seorang pengajar. Ayah akan membiayai kuliahku. Ayah akan mengupayakan segala kemampuannya untuk memenuhi kebutuhanku selama kuliah. Tentang do’a tak perlu lagi dipertanyakan. selebihnya, semua adalah tanggungjawabku.

Sore itu aku akan berangkat. Adek sedang tidur pulas. Kupandangi wajah mereka satu persatu.

“Kakak akan sangat merindukan kalian.” Batinku. Ibu ikut memandangi mereka.

         “Ibu, doakan, Icha yah. Icha bakalan kangen banget sama ibu.” Aku memeluk ibu manja

         “Iya, sayang. Ibu selalu mendoakanmu. Jangan khwatir. Kamu baik-baik yah di sana. Ingat ayah dan ibu di sini. Kuliahnya yang baik. Kasihan ayahmu, dia bekerja keras, banting tulang untuk membiayai kuliahmu.” Ibu menatap wajahku dalam-dalam.

            “Icha, kamu akan tinggal jauh di kampungnya orang. Tak akan ada ibu dan ayah di sana. Tapi ada Allah dan do’a ibu juga ayah yang menemani. Jadi jangan takut. Kamu tidak sendiri.” Ayah mencoba menguatkan aku.

Tidak seperti ibu, ayah selalu tidak banyak bicara hanya beberapa kata yang keluar dari mulutnya. Aku kembali menangis dipelukan ibu. Ini adalah kali pertama aku berpisah dengan mereka. Sekarang sudah saatnya berangkat.

Ayah, aku sangat bangga padanya. Setiap kKata-katanya selalu bisa membuatku merasa yakin, merasa lebih kuat. Kata-kata ayah yang selalu kuingat jika lelah menghampiriku diperantauan. Katanya, jika kau menginginkan sesuatu maka kau harus berupaya keras mendapatkannya. Jangan khawatirkan masalah jalan maupun caranya. Karena ketika kau berniat mendapatkannya maka jalan dan cara itu akan memperlihatkan dirinya sendiri. Aku rasa ini adalah alasan ayah mengapa begitu yakin menyekolahkanku meski dia harus bekerja keras mengumpulkan biayanya.
Dan, sekarang ada hal yang baru kumengerti. Saat aku masih dalam proses kuliah aku memang belum bisa meringankan beban ayah tapi nanti saat aku berhasil mencapai impian itu. Sedikit demi sedikit aku akan melakukannya; membantu ayah memikul bebannya. Aku yang akan menjadi pengajar bagi adik-adikku dan anak yang lainnya kelak.
Untuk ayah, ibu juga kedua adikku. Maaf, kini waktu bersama kalian menjadi lebih singkat sebab aku harus kuliah dan tinggal jauh dari kalian. Padahal aku ingin menikmati lebih lama kebahagiaan sederhana dalam rumah kecil kita. Namun, Aku tetap mensyukuri waktu yang singkat ini. Jika Dia yang mempertemukan kita di sini tak keberatan, aku ingin meminta hidup sekali lagi bersama kalian setelah ini. Namun aku tahu Dia tidak akan mengabulkannya tanpa ada usaha yang aku lakukan. Aku rasa itulah mengapa aku ingin menjadi seorang pengajar.
Ayah, ibu. Apa kalian tahu mengapa aku ingin menjadi seorang pengajar? Biar kuberi tahu. Aku ingin menjadi seorang pengajar bukan hanya sekedar impian. Bukan sekedar agar bisa membantu memikul beban ayah. Tapi juga agar ilmu yang kudapat dari hasil kerja keras ayah menyekolahkanku bisa bermanfaat bagi orang lain. Katanya, ilmu yang bermanfaat itu akan mengalir terus amalannya meski aku tak lagi berada di dunia ini. Lalu, diam-diam aku berharap, apa yang aku bagi kepada orang lain bisa menjadi jembatan untukku dan untuk ayah, ibu dan adik kelak menuju surga-Nya. Agar kita bertemu lagi di surga-Nya. Hal lain apalagi yang lebih membahagiakan selain sehidup sesurga bersama kalian, keluarga sederhanaku.

05-09-16/SehidupSesurga

Picture:Pixabay.com

 

 

 

  • view 306