Ayahku Seorang Perokok

Harmawati
Karya Harmawati  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 28 Agustus 2016
Ayahku Seorang Perokok

Rokok, aku begitu familiar dengannya meski aku hanya seorang anak perempuan kecil Ini karena Ayahku seorang perokok. Ayahku bahkan sering menyuruhku membelikan rokok kesukaanya di warung sebelah rumah. Aku sebenarnya tak suka melihat Ayah merokok, lebih tepat aku mengkhawatirkannya. Setiap kali aku melihat Ayah sibuk menghisap rokoknya hatiku rasanya ikut terbakar.

Aku tak suka melihat Ayah merokok. Tidak, aku hanya sayang Ayah. Aku tak ingin rokok-rokok Ayah menyakitinya. Aku tak ingin rokok-rokok itu menjauhkan Ayah dariku. Mesi aku hanya seorang anak perempuan kecil Ayah tapi aku sangat menyayangi Ayah. Aku peduli dengannya. Tapi aku bisa apa? Aku tak berani berbicara pada Ayah, bahkan jika aku berani apa Ayah bahkan akan mendengarkanku? Aku rasa tidak. Aku tahu Ayah dengan baik, dia bahkan tidak pernah mendengarkan ibu saat menegurnya. ‘Ayah kapan kau akan berhenti dengan rokok-rokokmu itu’ batinku saat melihat Ayah  merokok lagi.

Kemauan untuk melihat Ayah berhenti merokok tak perlu lagi dipertanyakkan. Tapi aku merasa putus asa karena sampai kapanpun aku takkan berani menegur Ayah. Aku takut Ayah marah padaku, aku takut Ayah membenciku. Dan aku rasa tak akan ada orang yang bisa menyadarkannya bahkan dirinya sediri. Yah, Ayah sekarang sering baruk-batuk, dia tahu betul itu dampak dari merokok namun dia tetap tak ingin berhenti. Satu-satunya yang bisa kuperbuat adalah  mendoakannya pada Sang Pemilik hati agar Dia berkenan mengetuk hati Ayah. Agar Ayah sadar. Agar Ayah tidak lagi menyentuh rokok.

Lalu beberapa hari terakhir ini media dipenuhi dengan berita rokok. Bukan hanya media saja, beberapa teman-teman juga ikut bahas itu. Bulan depan harga rokok akan naik seharga Rp. 50.000 per bungkusnya. Mendengarnya seolah ada angin segar yang mengampiri. Aku senang karena mungkin dengan adanya kenaikan ini Ayah akan berhenti merokok. Tapi entah mengapa ada bagian dari diriku yang merasa sedih dan aku tak bisa mengabaikan perasaan ini. Aku berbisik pada hati kecilku bahwa inilah kesempatan Ayah untuk tak lagi menyentuh rokok tapi percuma perasaan ini tak ingin membaik. Bagian dari diriku ini seolah berkhianat ia seakan tak setuju akan kenaikan rokok ini. Apa mungkin hati ini khawatir Ayah tak bisa lagi merokok? Ah, Aku bahkan tidak tahu persis apa yang aku khawatirkan ‘melihat Ayah berhenti merokok’ atau ‘melihat Ayah tak lagi bisa merokok’. Benarkah ini karena Aku benar-benar menyayangi Ayah? Aku hanya ingin melihat Ayah berhenti merokok. Iya, hanya itu, karena aku sayang Ayah

Ayah, aku menyayangimu. Aku tahu berhenti merokok membuatmu tidak nyaman tapi Ayah rokok itu tak baik untukmu juga untuk aku, ibu dan adik. Ayah, apa kau tahu, sebatang rokok membuatmu selangkah menjauh dari kami. Ayah, bukankah kau juga tahu bahwa pada rokok itu sendiri sudah terdapat peringatan bahwa merokok membunuhmu. Lalu mengapa, Ayah? Ayah, barangkali memang sudah saatnya bibirmu beristirahat menghisap rokok-rokok membunuhmu secara perlahan itu. Barangkali ini adalah jawaban dari rapalan do’aku bersama Ibu yang Allah telah kabulkan.

Dan kepada mereka yang berdasi, aku tahu kebijakanmu ini menciptakan beberapa pendapat negatif dan positif. Tapi biarlah, aku hanya seorang Anak perempuan Ayah. Aku tidak tahu menahu soal ini karena satu-satuya hal yang aku tahu adalah aku ingin Ayahku berhenti merokok. Aku mendengarkan beberapa pendapat sana-sini tapi sebenarnya aku tidak benar-benar mengerti Aku hanya percaya bahwa kalian lebih tahu daripada aku dan aku berharap bahwa memang inilah yang benar-benar terbaik untuk dilakukan. Lalu Ayah, Ayah akan berhenti merokok. Rokok Rp. 50.000, hentikanlah Ayah untuk mengkomsumsimu karena sejatinya itulah alasan kau tercipta.