Pendengar Bisu; Kursi Taman

Harmawati
Karya Harmawati  Kategori Lainnya
dipublikasikan 21 Agustus 2016
Pendengar Bisu; Kursi Taman

Di bawah Langit luas Aisyah dan Perempuan di sampingnya -temannya- duduk di bangku taman. Menikmati belaian angin, sesekali mereka tersenyum. Yah, mereka sedang membicarakan Langit, Langit yang luas tak bertepi, Langit yang indah dengan senjanya, Langit yang kuat dengan hamparannya,Langit yang mereka sukai.

"Aku ingin memiliki hati yang luas tak bertepi layaknya Langit, aku ingin seperti senjanya Langit yang menyejukkan hati, hei aku ingin menjadi Langit yang kuat." Aisyah memulai percakapan. Ia tersenyum dengan penuh semangat pada Perempuan yang duduk sampingnya seolah meminta temannya itu berkomentar

Perempuan itu membalas senyumnya, "Mengapa seperti itu? Mengapa kau ingin seperti Langit? Apa kau sebegitu menyukainya?"

Aisyah mengangguk mantap. "Aku menyukainya pun membutuhkannya dan karena menyukainya maka aku ingin sepertinya. Kau tahu hal yang paling menyenangkan tentangnya adalah kau selalu bisa menatapnya, di manapun ia selalu bersamamu. Langit adalah teman yang baik untuk berkisah" Aisyah menjelaskan

"Iyaa menyenangkan sekali berkisah pada Langit, akupun menyukainya. Lalu mengapa kau ingin berhati luas layaknya Langit dan mengapa kau ingin seperti senjanya Langit pula?" Perempuan itu memandang ke Langit, Aisyah pun melakukan hal yang sama.

"Rasanya akan menyenangkan. Akan banyak ruang di hati. Setiap yang datang akan memiliki tempatnya masing-masing. Lalu kehidupan di sana akan sangat menyenangkan. Sampai aku tak akan merasa kesepian dan jika sedih menghampiri maka aku tak akan merasakannya sebab hatiku luas dengan berbagai rasa dalam setiap ruangnya. Rasa sedih tak akan berasa. Dan aku ingin seperti senjanya yang bisa memberikan kedamaian hati pada penikmatnya, menjadi peredam rindu untuk hati yang sedang berkisah bersama rindu." Lagi-lagi Aisyah menjelaskan dengan mantap dan penuh semangat

Perempuan yang duduk di sampingnya mengangkat alisnya. Ia bingung, tidak mengerti. "Kamu ini bicara apa sih, ngawur. Memangnya ada kehidupan apa di hatimu itu. Apa kamu ini sakit?" Ia mencoba menggoda gadis di sampingnya.

"Huuuhhhhh, Aisyah melenguh panjang. Baiklah, cukup dengarkan saja. Aku sudah menjawab pertanyaanmu, kan? Kau memang tak akan mengerti. Rasanya percuma saja aku bercerita panjang lebar." Aisyah sepertinya mulai tersinggung akan godaan temannya

Perempuan di sampingnya menyadari kekesalan di wajah temannya itu. "Baiklah, baik terserah kau saja. Lalu boleh aku berkata sesuatu?" Katanya kemudian

"Tentu saja." Jawab Aisyah singkat. Ia kembali memandang ke Langit luas seolah berbicara pada seseorang

"Bukan, bukan begitu. Aku hanya ingin bilang kalau kamu ini memang aneh." Perempuan itu tersenyum

"Hatimu luas layaknya Langit pun menyejukkan layaknya senjanya." Katanya kemudian. Kali ini bukan lagi ejekan

"Benarkah? Apakah itu semacam pujian? Bagaimana kau mengetahuinya? Apa kau bisa meramal? Dan bukankah tadi kau mengatakan kau tidak mengerti dan mengatakan aku aneh? Hei cepat jelaskan." Aiyah bertanya pada Perempuan di sampingnya. Ia terlihat serius.

Perempuan itu tersenyum mendengar pertanyaan temannya. Temannya yang satu ini memang benar-benar menggemaskan, begitu pikirnya. "Selama kau menerima orang-orang disekitarmu apa adanya, tanpa membedakan yang satu dan yang lainnya, bukankah itu terbukti bahwa hatimu luas layaknya Langit? Dan selama kau bisa berbagi bahagia dengan mereka, menjadi teman yang baik kala senang maupun susah maka kaupun akan menjadi tempat kembali yang nyaman untuk mereka. Layaknya senja yang kamu katakan. Dengan menerima dengan ikhlas dan sabar untuk segala apa yang Raja semesta berikan untukmu maka kau telah kuat layaknya Langit dengan hamparan luasnya." Perempuan itu menjelaskan dengan baik seolah guru memberi pelajaran pada muridnya 

"Ah, kuharap aku benar-benar bisa." Pandangannya tak lepas dari Langit. 

"Semoga aku pun bisa menjadi langit bagi orang-orang terdekatku," Aisyah berbisik pada dirinya juga pada Langit

"Tentu saja," Perempuan disampingnya tersenyum manis

Mereka tersenyum memandang ke Langit. Langit pun mulai memerah, senja menampakkan dirinya seolah membalas senyum keduanya. 

Sore itu kursi taman menjadi pendengar bisu kisahnya, si gadis kecil Aisyah yang ingin menjadi langit bagi mereka yang disayanginya, ikut meng-semoga-kan inginnya.

  • view 215