Pelayan Tak Tahu Malu

Harmawati
Karya Harmawati  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 21 Juli 2016
Pelayan Tak Tahu Malu

Meski hanya seorang pelayan, Tuannya lah yang selalu setia menemaninya dalam lelah atas hidup yang dijalaninya. Hatinya tak pernah berbohong pada Tuannya itu. Tentu saja. Untuk apalah ia berbohong pada Tuannya yang baik hati itu. Pada orang yang selalu ada untuknya. Tapi pada semua orang ia terus berbohong. Berbohong pada semua orang yang bisa ia bohongi. Terus berbohong tanpa kenal lelah. Tidak! Dia lelah, sangat lelah. Lelah tiada tara. Siang malam ia terus berpikir kebohongan apalagi yang akan dia ciptakan. Sungguh munafik dan malang dirinya. Bagaimanalah dirinya tidak lelah akan pekerjaan yang menyiksa diri itu.

Tapi apalah daya, ia harus bertahan bahkan jika harus melakukan pekerjaan yang berat itu. Beruntunglah ia memiliki Tuan yang sangat bijak. Sangat bijak, bijak di atas yang terbijak. Pada Tuannya ia tak perlu berbohong, pada Tuannya ia tak perlu melakukan pekerjaan yang melelahkan itu. Pada Tuannya dia tak perlu berpura-pura.

Sesekali ia berpikir andaikata ia bisa tinggal bersama Tuannya, pastilah ia tak perlu menghadapi kehidupan yang penuh kebohongan, penuh sandiwara dan penuh kemunafikan itu. Tapi sekali lagi, sungguh malang nasibnya. Ia hanyalah seorang pelayan di rumah Tuannya. Ia punya rumah, kehidupan, tempat yang mana di dalamnya ia selalu dan hanya melakukan pekerjaan yang membunuhnya secara perlahan, berbohong.

Siang malam ia terus berpikir bagaimana ia akan mengakhiri kebohongannya yang melelahkan itu. Rasanya ia sudah sangat lelah. Tulang-tulangnya telah rapuh sudah tak sanggup lagi untuk melanjutkan. Tapi ia telalu munafik untuk berhenti. Tuannya yang baik hati telah beberapa kali memanggilnya, memaksanya untuk berhenti tatkala pelayannya yang malang itu datang padanya dengan kepayahan bercucuran air mata, mengadu betapa lelahnya dirinya. Tapi ia sungguh munafik, sungguh. Ia dengan berani menolak titah Tuannya itu, tapi tetap saja masih berani menampakkan diri di hadapan Tuannya bersama setumpuk pengaduan. Duhai, lihatlah betapa munafik dirinya. Ia bahkan tak berani memilih untuk hidupnya. Sungguh malang.

Dalam kelelahan. Dalam jiwa yang rapuh. Sebelum terlelap dalam tidurnya, ia selalu berbisik. Seakan memohon pada semesta agar Tuannya tak pernah mengusir dari kepelayanannya. Dan semoga Tuannya yang bijak itu masih enggan mendengarkan bahkan jika hanya untuk berkata, “Tuan, aku takut,” itu sudah lebih dari cukup baginya. Tanpa belaian yang menenangkan hati yang resah lagi dan tanpa tatapan yang menyejukkan hatinya. Tapi tak apa, meski ia akan sangat merindukkannya.

Ia lalu terlelap dalam tangis.

Mkss, 21 July 2016

pictsource : condenaststore.com

  • view 161