Tentang Masa Lalu

Harmawati
Karya Harmawati  Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 15 Juli 2016
Tentang Masa Lalu

Kita boleh saja melihat kehidupan orang lain yang sempurna tanpa secuil kekurangan lalu berpikir bahwa hidupnya tak akan pernah merasakan masalah. Tentu saja ini tidak benar, setiap orang pastilah memiliki masalah pribadi sendiri. Yah kita tak pernah tahu apa yang sebenarnya orang lain alami. Kita hanya melihat dari luar saja bahkan hanya mengira-ngira tentang kehidupan mereka.

Berbicara perihal masalah, seringkali kita kesusahan dalam menghadapinya. Kurasa lebih dari sedikit mengalaminya pula. Apalagi masalah yang terkait dengan masa lalu,. Masalah pribadi, masalah yang bahkan adalah bagian dari hidup kita sendiri. Tak semua masa lalu adalah masalah sih, ini tergantung dari presepsi masing tentag masa lalunya. Jika kita terbebani dan terganggu ketika mengingatnya maka saat itulah masa lalu adalah masalah bagi diri kita sendiri. Kita tersiksa olehnya lalu rasanya ingin berlari sejauh mungkin. Menganggap bahwa itulah solusi yang terbaik.

Tapi apakah kita akan berhasil setelah melakukan semua itu? Tidak! Justru kita hanya akan semakin dibayangbanyanginya lalu lelah dan semakin lelah. semakin tersiksa. Bagaimana mungkin kita bisa lari masa lalu yang merupakan bagian hidup kita sendiri. Dan jika kita bahkan tak bisa menerima atau memaafkan diri kita sendiri atas apa yang terjadi di masa lalu, lalu bagaimana dengan orang lain? Bagaimana mereka bisa menerima kita? Barangkali kita hanya perlu berdamai dengan masa lalu itu. Memulai hidup yang baru. Bukan dengan melupakannya.

Lalu biarkan saja, tak usah risau atas apa yang akan dipirkan oleh orang lain. Apa yang akan mereka katakan tentang diri kita, biarkanlah! Kita adalah satu-satunya yang tahu siapa diri kita sebenarnya. Bagaimana kita, apakah baik atau tidak. Entah mereka berpikir kita baik ataupun buruk tetaplah tidak akan mengubah apa-apa tentang diri kita yang sebenarnya. Bahkan saat menangis ataupun tertawa tak ada yang tahu persis apakah tawa itu tawa bahagia atau tangis itu adalah tangis kesedihan. Hanya kita yang tahu persis. Kita bahkan hidup bukan untuk orang lain terkesan pada kita.

Bukankah selalu ada Dia yang selalu menyayangi kita, selalu menaruh belas kasih terhadap kita. Bahkan jika kita adalah seseorang “pembuat” dosa sekalipun. Bukannya terlalu naif mengatakan bahwa Dia akan menyayangi kita, diri yang sering berbuat dosa padaNya. Tapi bukankah memang kita selalu mendapatkan itu dariNya. Selama kita masih berpijak di bumi, bukankah semua itu karenaNya? Lalu bukankah selalu lebih baik jika kita berprasangka baik daripada berprasangka buruk?

Hidup ini begitu singkat. Kita yang hanya manusia biasa tak pernah luput dari salah dan berbuat dosa. Meskipun itu, kita pun tak perlu berkecil hati. Banyak amalan-amalan yang bisa kita lakukan yang mungkin tak bisa menghapus dosa kita tapi tak mustahil dapat memberatkan amal kebaikan kita. Dalam novel Rindu ynag ditulis oleh Tere Liye, Ahmad Karaeng mengatakan, “Selalulah berbuat baik. Maka semoga besok lusa, ada satu perbuatan baikmu yang menjadi sebab kau diampuni.”

*Acchawa, 15th July, 2016

  • view 182