Proses Pendewasaan

Harmawati
Karya Harmawati  Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 15 Juli 2016
Proses Pendewasaan

Aku berharap semua perubahan yang ada di depan mataku memang adalah proses menuju kedewasaan saja. Hal-hal yang tak dilakukan karena memang kita –sebagai orang yang sudah dewasa- seharusnya tak lagi melakukannya. Ada hal yang lebih penting untuk dilakukan. Begitu tepatnya.

Meski kau memang memang mengatakan semuanya hanya karena kita sudah dewasa. “Kita hanya tak lagi melakukan hal-hal yang tak seharusnya kita lakukan lagi. Hanya karena kita sudah dewasa.” Begitu katamu. Tapi tetap saja aku masih tetap khawatir. Di hari itu kau mengatakannya padaku bahwa kita bukan lagi anak-anak, kita sudah dewasa dan meski kita dalam suatu hubungan kita tak harus selalu menghabiskan waktu bersama-sama sepanjang hari.

Tak ada lagi waktu untuk bermain-main, perjalanan kita masih panjang dan waktu kita tak banya. Itulah mengapa kita harus pandai dalam memanfaatkan setiap waktu, setiap kesempatan yang ada. Jadi tak ada yang perlu dikhawatirkan, lagipula kita masih bisa bertemu disetiap akhir pekan. Aku tahu, kau berusaha meyakinkanku tanpa harus membuatku khawatir, tanpa membuatku ragu. Dan tentu saja aku selalu percaya padamu.

Aku mengerti maksudmu, aku mengerti perasaanmu. Tentu kau tak ingin hanya berdiri saja ditempat yang sama, begitupun aku. Yah kita memang harus beranjak dari tempat yang kita pijaki sekarang. Kita harus melangkah untuk mendapat sesuatu yang lebih baik. Tapi meskipun itu, tetap saja aku masih sering tak mau tahu akan semua itu.

Aku menutup mata dan telingaku dan aku tak ingin berpikir dan tak mau menerima semua itu jika rinduku padamu memuncak. Aku menutup diri tak memikirkan yang lain, yang aku tahu aku hanya ingin bersamamu saja. Meski aku tahu sikapku lebih dari sekedar egois, childish¸bahkan karena sikapku yang demikian, aku mengganggu pekerjaanmu.

Tapi kau tahu, aku selalu berterimakasih padamu, sebab kau masih saja tak pernah lelah memberiku penjelasan yang meski seharusnya itu hanya sekali saja terucap olehmu. Hanya terimakasi dan mungkin juga maaf yang bisa kuucapkan. Kalau boleh jujur, sebenarnya aku juga menginginkan hal ini terjadi. Kita sama-sama berjuang untuk masa depan. Hanya saja aku terlalu egois tak mau bersabar sedikit akan rinduku. Aku minta maaf ! Lalu terimakasih karena kau bahkan tak pernah mempermasalahkan hal itu, kau tetap bersabar. Terimakasih, sekali lagi kuucapkan.

*Acchawa, 15th July, 2016

  • view 213