Menyayangi adalah kebahagiaan

Harmawati
Karya Harmawati  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 12 Juni 2016
Menyayangi adalah kebahagiaan

Lira masih murung lantaran ayahnya belum bisa membelikannya sepeda yang dari dulu ayah janjikan padanya. Maklum saja ayahnya hanya bekerja sebagai kuli bangunan, gajinya hanya cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga. Itulah mengapa Lira tak pernah memaksa ayahnya untuk memenuhi keinginanya tersebut sebab ia paham betul dengan keadaan keluarganya.

“Ayah, jadi kapan nih Lira dibelikan sepeda yang ayah janjikan,” kata Lira manja

“Sabar donk sayang, ayah sedang mengumpulkan uang untuk membelikan sepeda anak ayah yang manis ini.” Ayah mencoba membuat Lira mengerti.

Tapi tentu saja, Lira belum cukup dewasa untuk memahami dengan baik keadaan tersebut, tak jarang ia masih tak mau menerima alasan ayahnya yang tak kunjung membelikannya sepeda kesukaannya itu.

Lira sangat menyayangi ayahnya, ia tak ingin membuat ayahnya susah. Meski ia masih belum bisa melupakan keinginanya untuk memiliki sepeda tapi tetap saja ia tak ingin membuat ayahnya susah. Seringkali ia menangis sembunyi-sembunyi karena tak sanggup melihat ayahnya bekerja keras ditambah lagi usia ayahnya sudah cukup tua. Sudah seharusnya ayah istirahat, tapi apa boleh buat? Jika ayahnya tak kerja maka mereka tak akan bisa memenuhi kebutuhan mereka.

Meskipun itu, Lira tak pernah bersedih dengan keadaan keluarganya, yah dia anak yang cukup cerdas. Meski dia gampang sedih, tapi dia pun pandai dalam memotovasi dirinya sendiri. Dia sadar bahwa keadaan yang demikian tak harus menyita kebahagiaannya. Karena meski segala sesuatunya butuh uang, tapi ia percaya bahwa setidaknya ia masih bisa berbahagia walau tanpa gelimangan uang. Itulah prinsipnya.

Namun pada akhirnya Lira menyerah. Entah karena sudah tak sanggup menunggu atau karena ia telah benar-benar memahami keadaan keluarganya. Lira telah memutuskan untuk tak lagi menagih janji ayahnya untuk membelikannya sepeda.

Lira menghampiri ayahnya yang sedang menikmati secangkir kopi, “Ayah lagi sibuk yah?” tanya Lira

“Tidak kok sayang, ini cuma lagi nikmatin kopi buatan ibumu, ada apa?” Jawab ayahnya

“Ayah , hm sekarang Lira janji tak akan meminta apa-apa lagi dari ayah, Lira juga tidak bakal maksa-maksa ayah buat belikan Lira sepeda lagi,” kata Lira sambil bersandar pada bahu ayahnya dengan manja.

“Ada apa sayang? Kenapa tiba-tiba anak ayah ngomong seperti itu?” Ayah memandang Lira dan membelai rambutnya, “ayah bakalan belikan sepeda kok, tapi Lira yang sabar yah sayang?” katanya lagi

“Nggak, nggak apa-apa kok, yah. Lira baik-baik aja kok. Maafin Lira yang selama ini buat ayah susah. Buat Lira, lihat ayah, ibu dan adek baik-baik aja itu udah lebih dari cukup buat Lira.” Kata Lira, ia kemudian memeluk ayahnya

Lira menangis dalam pelukan ayahnya, tapi ia tak ingin jika ayahnya tahu jika ia menangis. Lira sadar bahwa tanpa meminta pun pada ayah akan membelikan apapun untuknya jika memang ayah memiliki uang. Ia lalu berjanji tak akan banyak menyusahkan ayahnya lagi, karena ia sadar tanpa itupun ayahnya memang sudah kesusahan.

“Aduh anak ayah udah kayak orang dewasa aja ngomongnya,” ayah tersenyum, “yaudah kalo gitu sekarang Lira siap-siap buat sholat yah.”

“Iya yah,” Lira berlalu dengan bahagia dengan kecupan di pipi ayahnya.

Ayah memandangi Lira yang berlalu,

“Ayah juga sudah cukup bahagia dengan melihat kamu bahagia nak,” ayah berbisik, airmatanya lalu menetes.

Setelah itu Lira benar-benar berusaha untuk tak terlalu membebani ayahnya. Ia mencoba sebaik mungkin. Baginya menyayangi ayah, ibu dan saudara-saudaranya, berbahagia dengan mereka dalam kehidupan sederhanya sudah lebih dari cukup. Ia tak hentinya bersyukur pada-Nya sebab telah diberikan orangtua yang saat ini dimilikinya.

  • view 91