Perempuan dalam cermin dan Aku

Harmawati
Karya Harmawati  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 26 Mei 2016
Perempuan dalam cermin dan Aku

"Meskin (sangat) sayang aku harus tetap siap untuk kehilangannya. Aku tak bisa apa-apa untuk tetap menahannya tetap di sisiku saat dia ingin berlalu. "Cinta dan sayangku?" katanya, "itu bisa apa?" Konyol ! Dulu aku percaya kalau cinta dan sayang yang aku punya ini bisa membuatnya tetap  bertahan di sini. Sekarang tak lagi. Tak ada lagi yang bisa membuat aku mempercayainya. Dia bisa bertahan jika dia juga memiliki cinta dan sayang untukku, dan juga jika dia memang dia ingin untuk tetap bertahan, di sisiku."Katanya, si perempuan dalam cermin

"Lalu apa rencanamu?" Kataku kemudian,

"Yahhh aku tak harus sedih-sedih amat kalau memang itu terjadi. Karena jika memang dia orang yang pantas untuk membuat aku sedih, maka dia tak akan berlalu, kan? Jika memang dia orang yang pantas untuk membuatku menangis, dia tak akan membuatku menangis." Jawabnya dengan semangat

"Jadi maksudmu kau tak akan bersedih jiikalau suatu hari nanti dia meninggalkanmu? Apa kau yakin? Kau bilang kau sangat mencintainya, kan? Lalu apa kau akan menyerah dengan orang yang kau cintai begitu saja? Terus saat dia berlalu pergi, kau akan mencari lagi yang lain sampai kau temukan orang yang benar-benar akan bertahan itu?" Aku terus bertanya padanya tanpa memberinya kesempatan untuk menjawab. Aku hanya sedikit penasaran.

"Hei, kau menyerangku dengan pertanyaan, yang mana harus ku jawab duluan?" Dia tersenyum, lalu wajahnya kembali menunjukkan kesedihan. "Pertanyaanmu membuatku bingung, dan sepertinya aku salah," sambungnya. "Apa benar aku bisa untuk baik-baik saja saat dia, seorang yang begitu aku sayangi berlalu meninggalkanku. Memikirkannya saja rasanya sudah begitu sulit. Lalu bagaimana bisa aku berpikiran seperti itu, bagaimana menurutmu?"Dia bertanya kembali padaku, seakan dia mulai ragu atas apa yang dia katakan sebelumnya.

"Aku bingung bagaimana harus menjawabnya," jawabku ragu, "dalam hal seperti ini apa tak masalah meminta pendapat orang lain? Karena bisa saja menurutku baik dan tidak untukmu, begitupun sebaliknya. Ini masalah perasaan, kamu tak bisa berbagi apa yang kamu rasakan. Hanya kamu yang merasakannya. Jadi saranku pikirkan dengan baik, yah." kata ku kemudian

"Kalo menurut aku, perasaan itu cinta itu jangan dimain-mainin, yah maksudnya kalo memang kamu benar-benar cinta sama dia, kamu harus jaga dia dengan baik (hehe kayak barang donk) maksudnya pertahankan gitu. Kalo kamu bilang cuma mau ikhlas kalo dia berlalu, itu sih namanya nyerah. Kamu harusnya berusaha dulu. Kalo sudah berusaha yah baru deh nati main ikhlas-ikhlasan. Kan udah berusaha juga," Aku sedikit memberinya pendapat.

"Iya kamu benar," Katanya lirih. "Aku memang benar-benar sayang sama dia. Jadi sepertinya aku bakalan sakit sendiri kalo misalnya main ikhlasin aja."

"Ahh jadi ceritanya aku harus berjuang nih," Suaranya sedikit terdengar semangat,

"Yahh setidaknya harus," aku tertawa,

"Baiklah kalo seperti itu akau akan berjuang,"

"Hei terimakasih sudah mendenarkanku. Tapi sejujurnya aku masih sedikit ragu,"katanya lagi. "Tapi ya sudahlahh, aku harus mencoba"------

 

  • view 94