Dear, my great Dad

Harmawati
Karya Harmawati  Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 20 Mei 2016
Dear, my great Dad

Tadi sore lihat seorang ayah yang sedang lewat bersama anaknya yang sedang nangis ingin dibelikan mainan. Jadi teringat masa kecil dulu, paling tidak mau diam kalau ada maunya, ngambek, nangis dan jurus andalannya tidak mau pergi sekolah kalau keinginannya belum kesampaian. That’s me when I was child. Kalo sekarang sudah tidak lagi –masih ragu sih- eh tapi Insya Allah deh tidak lagi. Soalnya Harma yang sekarang udah bisa sedikit mengerti. Mengerti bagaimana Ayah selalu berusaha untuk memenuhi setiap kebutuhanku bahkan keinginanku. Ayah selalu bekerja keras, ayah tak pernah mengenal lelah dalam bekerja karena ayah sangat khawatir jika tidak bisa memenuhi keinginan anaknya. Ayah juga bahkan tidak memperhatikan dirinya sendiri yang ayah tahu adalah hanya menanyakan kabar anaknya saja.

Ayah, sekarang aku sudah mulai dewasa, dan ayah semakin tua. Ayah sebenarnya aku –agak- sedikit tidak suka kenyataan itu. Tapi bagaimana lagi, memang begitulah adanya.  Ayah, aku harap belum terlambat untuk menjadi anakmu yang manis dan penurut. Aku tahu bagaimana ayah telah bekerja keras untukku. Dan aku tidak tahu bagaimana harus membalas ayah. Karena sampai sekarang ini ayah lah yang menghidupiku. Jadi satu-satunya hal yang bisa aku lakukan –yang setidaknya tidak terlalu membebani ayah- adalah tidak menangis lagi saat ingin meminta sesuatu. Karena aku tahu tanpa meminta pun ayah akan memberikannya untukku –diwaktu yang tepat- aku hanya perlu bersabar, dan menunggu. Aku akan jadi anak manisnya ayah. Aku sayang ayah.

  • view 117