Di antara Dipan Bambu, Segulung Tembakau dan Dua Gelas Teh Hangat

Catatan Ilalang
Karya Catatan Ilalang Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 07 Juli 2016
Di antara Dipan Bambu, Segulung Tembakau dan Dua Gelas Teh Hangat

Di antara Dipan Bambu, Segulung Tembakau dan Dua Gelas Teh Hangat

"Nak sis, sesuatu yang gak di rawat itu akan rusak. Makanya kalo kamu udah punya rawatlah baik-baik dan jaga supaya gak rusak", begitu nasehat beliau ketika kami duduk di dipan bambu yang sederhana siang itu.

Setelah menikmati makan siang, kami, aku dan kakek ku yang satu ini duduk di dipan bambu depan rumahnya dan menikmati siang dengan secangkir teh dan sepiring ubi rebus. Sederhana memang untuk disebut snack, tetapi yang aku tunggu bukanlah snack nya, melainkan cerita-cerita beliau yang menyenangkan. Ia biasa bercerita dengan semangat hal-hal remeh yang telah terjadi, kadang juga membanggakan diri sedikit tentang apa yang dilakukannya di masa mudanya, di lain waktu, ia menasehati dengan hati-hati dan tulus.

Kata-kata yang ia ucapkan tadi adalah jawaban dari pertanyaanku siang ini. Mengapa ia yang sudah tua dan sering kesemutan masih mau mengunjungi kebun kecilnya di bukit sana dan terlihat begitu ringan melakukan itu semua? Tidakkah ia merasa berat dan lelah karena umurnya? Bukankah ada yang lebih kuat dan lebih mampu untuk merawatnya menggantikan dirinya sehingga ia bisa beristirahat di rumah saja?

Aku menanti jawaban selanjutnya dari beliau, dengan memeluk kakiku di atas dipan bambu itu. Aku suka duduk begini ketika mendengarkan cerita beliau, dan beliau tak keberatan dengan tingkahku yang tak sopan ini. Malah dulu dia sering sekali memaksaku menemaninya merokok meskipun ia tahu bahwa aku dilarang untuk merokok oleh ibu, " tak apa, aku nanti yang tanggung jawab" katanya sambil tertawa.

Kali ini ia lanjut menjawab pertanyaanku dengan senyum lebarnya, melanjutkan kata-katanya dengan "Sebenernya bisa aja sih kakek berhenti ke kebun dan santai di rumah, tapi kalo kakek ngelakuin itu entah kenapa badan terasa lemas dan gak semangat. Lagian kakek ke sana sekarang bukan untuk kerja lagi kok, cuman untuk seneng-seneng aja di sana, ngerawat tanamannya."

"Selama ini kebun itu udah ngasih banyak hal, kakek bisa ngehidupin keluarga, nyekolahin anak-anak dari hasil kebun itu. Kalo sekarang gak kakek rawat dengan baik, itu namanya kakek gak berterima kasih sama kebun itu, gak berterima kasih sama Tuhan." Jelasnya.

"Makanya kalo kamu udah di kasih sesuatu sama Tuhan, rawat itu baik-baik. Jangan cuma mau enaknya saja, mau make saja tapi gak mau repot ngejaga, gak mau susah-suah buat ngerawat. Itu namanya gak bersyukur. Kalo kamu gak bersyukur, gak ngerawat pasti nanti itu rusak. Nyesel nanti kamu kalo udah kayak gitu. Makanya dirawat dan dijaga baik-baik" dan dia menutup kalimat itu dengan tarikan yang dalam, menghisap tembakau gulungnya yang biasa menemani di kantong baju lusuh miliknya.

Ia memang sosok yang sederhana dan lugas, tapi entahlah, selalu aku yang menjadi kerdil dan bodoh di hadapannya, dengan cerita-cerita sederhananya seperti ini.


Catatan Ilalang, Juli 2016

  • view 170