Catatan Kecil untuk Sahabat Masa Kecil

Catatan Ilalang
Karya Catatan Ilalang Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 13 Mei 2016
Catatan Kecil untuk Sahabat Masa Kecil

Dulu, ketika kau menginjakkan kaki pertama kali di kota kecil ini, engkaulah yang pertama menarik tanganku untuk bermain, mari kita kejar layang-layang itu, katamu.
Engkau juga yang pertama kali mengajariku berenang dan memancing di pantai belakang rumah, mengajariku bagaimana bergembira hanya dengan sebuah ban bekas dan setonkat kecil bambu.

Engkau juga yang mengajariku bagaimana membuat sebuah meriam dari bambu dan karbit yang kita curi secara diam diam di bengkel samping rumahmu, dan kemudian di bentak oleh orang tua kita karena mengarahkan meriam itu ke pintu-pintu rumah kita.

engkau juga yang memaksa aku untuk menemanimu mengicipi jambu monyet di sekolah dekat rumah dengan diam-diam di atas dahannya, walaupun sering aku yang kau tertawakan karena tak bisa memanjat dan ketika aku sudah di atas pun engkau masih mengejekku ketika aku takut menuruni pohon itu.

Sering aku melihatmu dari pintu rumahku, sibuk membersihkan beras, menanak nasi, memotong kayu sendirian. bahkan engkau sering sekali menjadi korban teriakan ibumu ketika adikmu menghilang pergi bermain tanpa pamit.

Engkaulah temanku pertama kali di kota ini, yang menyambutku dengan gigi putihmu di sela sela senyum manis di kulit wajahmu yang hitam terbakar matahari. Engkaulah orang yang sering aku lihat dengan iri karena selalu tersenyum apapun yang kau hadapi. Ya, engkau pernah marah dan menangis sekali dua kali, tapi selalu engkau sembunyikan dengan berlalu dari hadapanku, bersembunyi di sudut lain rumahmu.

Dan di hadapan pusaramu ini, aku duduk dengan sebatang lilin yang menyala kecil sebagai teman. Berusaha mengenangmu dengan segala ingatku, berusaha mengamini dengan denyut jantungku bahwa engkau akan baik-baik saja.

Tak ada air mata di sini. Mungkin karena hatiku sudah keras digerinda kenyataan hidup yang selalu kita acuhkan di hari-hari kita berlomba lari. Mungkin pula aku yang sudah menjadi angkuh dengan apa yang melekat pada diriku ini.

Atau mungkin karena kepedulianku padamu sudah berkarat oleh juga ketidak pedulian dan diam antara kita bertahun-tahun lamanya.

Ah, aku tak tahu. Yang pasti duduk dihadapanmu kini, aku merasakan sesak kecil di dadaku. Merasakan sedikit penyesalan, mengapa aku tak menghabiskan waktuku lebih banyak lagi denganmu. Entah untuk mengejar kupu-kupu, melompat dari tepian dermaga ke laut gelap yang menakutkanku, sekedar berlarian menerobos celah-celah sempit di rumah-rumah nelayang mengejar layang-layang bersama yang lain, atau sekedar berlarian di sore hari sambil menunggu adzan magrib berkumandang dan orang tua kita datang mencari kita sambil membawa rotan kecil untuk menarik tangan kita pulang.

Entah kenapa aku dengan naif selalu percaya bahwa waktu tak akan pernah mengkhianati kita, bahwa kita baik-baik saja, bahwa sudah cukup kenangan kebersamaan kita dalam hidup ini.

Entah kenapa aku begitu bodoh mempercayai itu semua ...

 

Catatan Ilalang, 13 Mei 2016

  • view 116