Cerita Pernikahan (Part 2)

Catatan Kecilku
Karya Catatan Kecilku  Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 06 Mei 2017
Cerita Pernikahan (Part 2)

Satu per satu aku menemukan vendor-vendor  yang diinginkan, kemudian menyesuaikan dengan dana yang tersedia. Ada beberapa vendor yang terpaksa tidak sepakat karena harganya melampaui dana yang tersedia. Yaudah akhirnya harus cari-cari lagi vendor yang lain.

Waktu itu masih berusaha memberi pikiran yang positif ke diri sendiri kalau aku akan bahagia dengan pernikahan ini, karena ini jawaban doaku yang meminta yang terbaik menurut-Nya. Hai seseorang disana, masih ingat kah waktu-waktu terakhir kita yang kita habiskan sebelum pernikahan ku berlangsung? Kamu tau, kala itu aku bahagia. Sangat bahagia, tapi juga sangat sedih dan kecewa.

Semua persiapan berjalan lancar. Tapi tidak dengan HATI ku. Aku masih belum bisa sepenuhnya meyakinkan diriku bahwa semua akan baik-baik saja dan berakhir bahagia. Aku seperti tidak memiliki pilihan apapun. Membatalkannya hanya akan membuat keluargaku malu dan pastinya sangat kecewa. Meneruskannya adalah pilihan satu-satunya meskipun harus mengorbankan hati.

Tibalah pada tanggal 12 Desember 2015...

Hari itu adalah hari lamaran secara resmi (calon) suami. Bersama keluarganya, (calon) suami datang ke rumah untuk melakukan ritual lamaran layaknya adat Melayu dengan membawa beberapa seserahan sederhana permintaanku (keripik paru, keripik belut, keripik ceker, bakpia). Waktu lamaran, cuma pengin dibawakan seserahan makanan aja, nggak mau yang lain. Dan makanannya itu keripik-keripikan, biar bisa dibagi-bagi ke saudara atau tetangga nantinya.

Ketika lamaran berlangsung, aku berada di kamar untuk menunggu dipanggil ketika sampai pada proses "menyatakan bahwa benar yang dilamar adalah ini orangnya, bukan yang lain". Ketika keluar dan melihat (calon) suami dan keluarganya, tanpa alasan yang jelas aku menangis. Entah itu tangisan kebahagiaan atau tangisan kesedihan. Kemudian proses demi proses lamaran berlangsung dan berakhir dengan pernyataan "lamaran pihak laki-laki diterima oleh pihak perempuan".

Setelah proses lamaran berlangsung, (calon) suami beserta keluarga kembali ke rumah. Kemudian aku melanjutkan acara selanjutnya, yaitu Khatam Al-Qur'an. Acara ini biasanya dilakukan guna memberikan kelancaran acara. Hai seseorang disana, beberapa waktu sebelumnya aku banyak diajarkan olehmu tentang cara membaca Al-Qur'an yang baik dan benar. Apa kita dipertemukan sekedar hanya untuk itu? Kenapa kita tidak bisa terus sama-sama belajar sampai tua nanti? Apa Tuhan menginginkan seseorang yang lebih baik dariku untuk mendampingimu?  Acara khatam Al-Qur'an berjalan dengan lancar. Sangat lancar malahan.

Setelah itu semua, hal yang ingin ku lakukan adalah tidur. Aku ingin cepat melewatkan hari yang cukup melelahkan untuk tubuh dan perasaanku. Dan aku masih berharap jika ketika nanti aku terbangun dari tidurku, ternyata ini semua hanyalah mimpi. Mimpi yang cukup menguras dan mengaduk-aduk perasaanku. Hai seseorang disana, ketika hari itu, kamu sedang apa? Ketika itu ingin sekali aku menghubungi, mengadu, dan menangis kepadamu.

13 Desember 2015, 05.00 WIB

Ternyata harapanku tidak terwujud. Ini semua bukanlah hanya mimpi, tapi kenyataan yang harus aku hadapi, takdir yang harus aku jalani. Dalam waktu 3 jam ke depan, aku akan menjadi istri seseorang yang telah ditakdirkan untukku.

Semua persiapan telah sesuai dengan keinginanku. Semuanya tinggal menjalani proses demi proses nantinya.

13 Desember 2015, 08.00 WIB

Akhirnya ijab dan qabul itu telah terucap. Dan semua orang yang hadir sepakat untuk menyatakan bahwa ijab dan qabul itu SAH. Kalau ditanya bagaimana perasaanku, aku tak tau apa jawaban yang paling tepat ketika itu. Setelah proses ijab qabul selesai, aku dipersilakan memasuki ruangan. Lagi-lagi, aku menangis. Lagi-lagi entah itu tangisan kebahagiaan atau tangisan kesedihan. Tapi di balik itu semua, di hati kecilku, aku tetap bersyukur, karena Tuhan mendengarkan sebagian doa-doaku.

"Life isn't about a happily ever after. It's about finding a happiness even in the darkest of times"-Ika Vihara

Aku yakin aku dan suami sekarang dan nanti akan bahagia. Menjadi pasangan suami istri yang selalu diridhoi Tuhan. Tidak hanya bahagia di dunia, namun juga di akhirat.

Aku akan meninggalkan semua cerita masa lalu yang memberikan kenangan. Aku harus dan akan hidup pada masa sekarang dan masa depan, bukan masa lalu. And now, I'm happy  to be his wife. Hai suami, aku akan membersamaimu hingga nanti dan kita akan menua bersama. Maafkan aku atas kesalahanku di masa lalu.

 

Dilihat 39