Tidak Ada Salahnya Berkomunikasi Dengan Baik

Catatan Kecilku
Karya Catatan Kecilku  Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 24 Mei 2016
Tidak Ada Salahnya Berkomunikasi Dengan Baik

Komunikasi, bila digambarkan dalam sistem tubuh manusia, dapat diibaratkan dengan pembuluh darah. Pembuluh darah merupakan sistem sirkulasi yang berfungsi membawa dan menyalurkan darah dari satu bagian tubuh ke bagian tubuh lain. Begitu pula komunikasi, merupakan sistem penyampaian informasi, yang dibawa oleh satu pihak untuk disampaikan ke pihak lain. Jika komunikasi diibaratkan seperti pembuluh darah, yang merupakan bagian vital dalam sistem tubuh manusia, maka dapat diartikan bahwa komunikasi merupakan bagian yang vital dalam hubungan antar manusia.

Apabila terjadi sesuatu pada pembuluh darah, maka tubuh manusia, baik hanya sebagian atau bahkan keseluruhan dapat mengalami gangguan, kerusakan, atau bahkan kematian. Sama halnya dengan komunikasi, jika terjadi sesuatu pada komunikasi, maka hubungan antar manusia, baik hanya sebagian atau bahkan keluruhan dapat mengalami gangguan, kerusakan, atau bahkan perpecahan yang berujung putusnya hubungan. Dan hal tersebut sudah banyak kita lihat melalui media, baik cetak maupun elektronik, baik lokal maupun internasional, yang di setiap pesan sebenarnya yang disampaikan oleh komunikator, selalu diberi “bumbu” agar menarik, kemudian disampaikan kepada komunikan, yang kemudian menghasilkan feedback yang diharapkan atau tidak diharapkan.

Begitu pentingnya komunikasi, seharusnya membuat kita tidak dapat berbuat seenaknya, menganggap remeh, atau bahkan bersikap masa bodoh terhadapnya. Kesalahan sedikit dalam menyampaikan pesan saat berkomunikasi, dapat menimbulkan persepsi yang berbeda dengan yang seharusnya, yang kemudian memunculkan kesalahpahaman, yang pada akhirnya memantikkan perpecahan (sedikit lebay sih, tapi kenyataannya dapat terjadi).

-----

Baiklah, beberapa paragraf di atas hanyalah sedikit pembuka saja mengenai pentingnya komunikasi dalam lingkup yang luas. Selanjutnya saya mau menuliskan sedikit lagi mengenai pentingnya komunikasi dalam lingkup yang sempit, yaitu dalam kehidupan berkeluarga. Saya janji, hanya sedikit saja.

----

Untuk mengetahui betapa pentingnya komunikasi dalam kehidupan berkeluarga dapat diamati melalui lingkungan terdekat, yaitu lingkungan keluarga.

Sebagai seorang manusia yang sering berinteraksi, secara sadar maupun tidak, pasti dapat melihat bagaimana cara komunikasi antar manusia, yang dapat berbeda satu dengan yang lainnya. Ada orang yang berkomunikasi secara efektif dan berkualitas, sehingga menghasilkan feedback seperti yang diharapkan. Namun, ada pula yang berkomunikasi dengan tanpa salah satu diantaranya (efektif dan berkualitas), sehingga menghasilkan feedback yang tidak diharapkan.

Komunikasi yang efektif dan berkualitas diperlukan saat ini oleh sebuah keluarga, apalagi mengingat banyaknya kesibukan sang suami atau sang istri ataupun keduanya di luar rumah yang menyebabkan tidak banyaknya waktu yang dimiliki untuk berkomunikasi dalam waktu yang cukup lama. Sebagaimana kalimat “Kualitas lebih penting daripada kuantitas”, maka kualitas harus lebih diutamakan dalam hal ini.

Banyak keluarga yang bertahan hingga akhir hayat. Namun banyak pula keluarga yang harus selesai di tengah jalan. Memang banyak alasan yang mewarnai hal tersebut, namun yang paling sering terdengar oleh kita adalah sudah tidak ada kecocokan, sudah tidak sejalan lagi, sudah tidak  memiliki visi yang sama, bla bla bla. Sadarkah kita bahwa akar dari semua alasan itu adalah ko-mu-ni-ka-si.

Mungkin saja komunikasi antara kedua pasangan tersebut kurang efektif dan kurang berkualitas, sehingga pesan yang disampaikan menjadi tidak jelas. Misalnya, sang istri yang pendiam, biasanya akan menyampaikan hal yang diinginkannya secara tersirat, namun sang suami yang tidak peka, tidak mengerti maksudnya dan memberikan reaksi tidak seperti yang diharapkan sang istri. Seketika itu juga……..pyar! muncul lah istilah wanita sulit untuk dimengerti J.

Padahal, jika dilihat lebih baik lagi, yang salah bukanlah karena dia wanita, makanya sulit untuk dimengerti. Bukan itu. Bisa saja itu juga berlaku sebaliknya, laki-laki yang sulit dimengerti. Yang kurang benar dalam hal ini adalah komunikasi yang dilakukan. Sang istri kurang baik dalam menyampaikan pesan yang ingin disampaikan. Apabila tidak ingin menyampaikan pesan secara verbal, gunakan bahasa non verbal dengan baik, sehingga sang suami mampu memahami maksudnya. Karena sesungguhnya sang suami bukanlah seorang peramal, yang dapat meramalkan maksud sang istri dengan tanpa ada tanda atau aba-aba  yang jelas. Dengan begitu, tidak akan muncul lagi meme atau video yang bercerita tentang wanita yang selalu benar dan sulit untuk dipahami oleh para laki-laki.

Nah, bila sudah sama-sama tidak dapat saling memahami maksud pasangan masing-masing, merasa paling tidak dimengerti oleh pasangan, dan perasaan-perasaan lain, maka muncul lah pembenaran bahwa jalan terbaik yang harus ditempuh adalah perpisahan. Mungkin saja, saya pun tidak mengetahui dengan pasti, selain masalah kesalahpahaman dalam komunikasi, bisa saja ada sebab-sebab lain yang mendukung. Tetapi, jika mau menilik lebih dalam lagi akar permasalahan dalam keluarga masing-masing, dan menemukan bahwa komunikasi penyebab segalanya, alangkah baiknya akar permasalahannya (komunikasi) itu yang harus dibereskan, bukan hubungan rumah tangganya yang dibereskan.

Kalau sudah tau semua bermasalah dari komunikasi, ya jalan terbaik yang ditempuh adalah memperbaiki komunikasi itu sendiri. Sering-seringlah mengobrol cantik dengan pasangan, walaupun itu hanya beberapa menit saja. Coba lakukan dari sekarang, dari keluarga kecil, kemudian semua akan berdampak luas, dan akan bermanfaat bagi diri sendiri dan lingkungan. Bertindaklah sebijak mungkin terhadap permasalahan yang dihadapi.

Tulisan ini didedikasikan untuk diri sendiri sebagai catatan diri dan introspeksi diri, agar ke depannya lebih baik lagi. Salam semangat :)

  • view 141