Untuk Dua Hati Yang Tersakiti Olehku, Maafkan Aku...

Catatan Kecilku
Karya Catatan Kecilku  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 11 April 2016
Untuk Dua Hati Yang Tersakiti Olehku, Maafkan Aku...

2015

Aku telah sah menjadi seorang istri dari seorang laki-laki yang selama beberapa tahun terakhir telah menjadi teman setia bagiku. Ya, menurutku dia adalah orang yang paling setia. Meskipun telah tahu benar bagaimana keburukan dan kekurangan ku yang sering ku perlihatkan di hadapannya, namun dia tetap teguh dan yakin ingin hidup bersamaku.


Perempuan mana yang tak akan bahagia dengan ini semua. Menikah-dengan-laki-laki-yang-mencintainya adalah impian semua perempuan di dunia, bukan? Tapi, pernikahan akan menjadi lebih baik bila sepasang manusia itu mencintai dan dicintai. Saling memberi dan diberi. Saling mengasihi dan dikasihi. Bukan hanya menerima saja atau diterima saja.


----


2014


Skenario dari Tuhan yang tak pernah terencana dan terpikir oleh ku di tahun ini mulai menjadi suatu sebab dan akibat yang hingga kini masih sering menyesakkan dada dan mulai terputar-putar kembali dengan jelas.


Aku bertemu denganmu yang sejak awal pertemuan itu telah membuatku mengagumimu. Entah apa yang aku suka darimu. Entah apa yang membuatmu memiliki daya tarik yang kuat layaknya magnet kutub utara yang dengan kuatnya menarik magnet kutub selatan. Tapi saat itu aku sadar, aku tak berhak untuk mengagumimu. Karena aku......

telah memiliki laki-laki setia yang ada bersamaku.


Satu kalimat. Dua kalimat. Tiga kalimat, tanpa sadar menjadi satu cerita telah aku sampaikan kepadamu. Begitu pula sebaliknya. Berawal dari satu cerita, kemudian berlanjut ke cerita yang lain, menjadikan aku dan kamu semakin nyaman. Yaa, tanpa aku sadari, aku menjadi nyaman bersamamu. Berbagi cerita. Berbagi tawa. Berbagi air mata. Berbagi nasihat. Berbagi apapun yang ada di pikiran kita masing-masing, membuat kita semakin tak bisa menghindari hubungan ini.


Aku mengakuinya bahwa aku nyaman bersamamu.


Satu hari tanpa suara dan ceritamu, akan menjadikanku berada di ruang hampa udara. Kosong. Sepi. Kamu yang mampu membuatku menjadi perempuan yang lebih baik. Mampu menasihatiku tanpa harus dengan menggurui. Mampu membuatku selalu terpukau dengan cerita-ceritamu. Mampu membuatku selalu tertawa dengan leluconmu. Mampu menghapus setiap air mata yang aku teteskan dengan tangan lembutmu. Mampu membuatku sadar bahwa aku berada di persimpangan jalan yang harus menentukan pilihan terbaik.


Aku maupun kamu tak pernah mau menyia-nyiakan waktu yang tersisa. Karena kita sama-sama tahu benar, suatu saat, entah kapan, Tuhan akan merenggut kebersamaan kita, untuk kemudian memerintahkan kita berlakon sesuai dengan skenario-Nya.


Masing-masing dari kita selalu sibuk mencari tempat yang bisa kita kunjungi bersama, mencari film yang bisa kita tonton bersama, mencari makanan yang bisa kita habiskan bersama, mencari cerita yang akan kita dengar bersama, mencari ilmu yang akan menjadi sesuatu yang baru bagi kita, mencari apapun yang dapat membuat kita bersama, membuat kita tertawa, membuat kita melupakan skenario Tuhan sejenak, membuat kita semakin nyaman satu sama lain, dan membuatku semakin ingin terus bersamamu.


Bersamamu aku merasakan hangatnya seorang kakak. Merasakan kepedulian seorang sahabat. Merasakan kemanjaan seorang adik. Bersamamu, aku merasakan mencintai sekaligus membenci. Mencintai semua kekurangan dan kehadiranmu. Membenci semua kelebihan dan kehilanganmu.


Perlahan aku mengubah pilihanku kepadamu. Mulai meyakinkan kedua orangtua ku bahwa aku ingin hidup bersamamu, bukan bersamanya. Setiap kesempatan berusaha selalu aku manfaatkan dengan baik. Karena aku takut, semuanya akan menjadi terlambat.


Tapi sekeras apapun usaha kita. Sesering apapun do'a kita kepada-Nya. Sebanyak apapun air mata kita menetes. Jika di skenario-Nya belum ada namaku dan namamu untuk bersama, maka kebersamaan kita adalah sebuah kemustahilan. Takkan pernah ada.


----


Satu tahun berlalu sejak perkenalan pertama kita. Dan ternyata, kita hanya diberikan waktu satu tahun itu untuk bersama, berbagi, dan lupa sejenak dengan skenario-Nya. Ya, hanya satu tahun. Waktu yang begitu singkat bagiku. Dan aku belum sempat untuk bersiap menghadapi kehilanganmu. Belum siap untuk meninggalkan dan ditinggalkan. Belum siap. Dan tak akan pernah siap untuk itu.


Dan saat itu, telah ada satu hati yang tersakiti. Yaitu hatimu.


-------


2016


Aku yang secara raga dan jiwa telah bersamanya saat ini. Telah berikrar di hadapan-Nya untuk hidup bersama sebagai suami istri yang saling mencintai. Telah melakoni cerita yang dituliskan di skenario-Nya. Namun, aku yang sekarang benar-benar telah berbeda dengan aku yang dulu. Karena hingga saat ini, aku masih menyimpan perasaanku untukmu.

Dan itu, menambah satu hati yang tersakiti lagi. Yaitu hatinya.


Maafkan aku yang terlalu egois terhadap kalian. Maafkan aku yang telah mengoyak dan mencabik-cabik hati yang telah kalian berikan untukku.

Maafkan aku....


Semoga kamu dan dia tahu, aku disini, hidup bagaikan mayat yang berwujud manusia karena rasa bersalah ini. Bila suatu hari Tuhan memberikan kesempatan, ingin sekali aku meyembuhkan hati yang terlanjur luka dan sakit itu.


Maafkan aku...

 

 

 

---

Salam dari perempuan yang tak pantas untuk kalian cintai dan perjuangkan

  • view 159