First Journey

Candra SA
Karya Candra SA Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 26 Juni 2017
First Journey

Secangkir minuman pagi ini masih mengepul, pagi ini disambut oleh hujan rintik yang menyejukkan kota Bogor.

"Vin kuliah jam berapa hari ini?"aku bertanya.

"Jam sembilan can, lu jam berapa?"

"iya gua jg sama jam sembilan" jawabku

Kelvin teman samping kamar, dia berasal dari DKI Jakarta. Dia tidak sendiri di kamarnya. Dengan tubuh tegap teman sekamarnya datang "eh berlian, baru datang lu?" aku menyapa. "yoii. Baru beres asistensi gua" dia menjawab. Ya dia Muhammad Berlian, dia berasal dari kota yang terkenal akan pem-pek-nya, Palembang.

Semalaman aku menyelesaikan tugas di kamar ini. Keadaannya masih sama seperti awal pertama aku datang ke tempat ini, masih kumuh, tampak tak menarik sedikitpun. Aku datang ke kamar ini lebih awal dari pada teman sekamar-ku. Tapi setelah beberapa hari tinggal di tempat ini tidak tampak dia hadir di asrama ini, hingga sekarang pun beritanya tidak pernah terdengar. Mungkin kesempatan belajar disini tidak dia ambil, padahal dia sudah terdaftar di sini sebagai mahasiswa baru, tapi yasudahlah itu kan urusan-nya.

Asrama ini berbeda dengan asrama yang empat bulan lalu aku tempati di Banten sana, meskipun sekarang di asrama ini bebas, aku boleh membawa apa saja, tapi aku lebih nyaman di asrama ku sebelumnya. Bagaimana tidak, selama enam tahun kita bersama di asrama, semua rasa dan asa kita alami bersama. Dimulai dari Sekolah Menengah Pertama (SMP), sampai lulus Sekolah Menengah Atas (SMA). Berbagai macam watak, sifat, dan karakter kita sudah tahu satu sama lain. Sampai-sampai  kita hafal bagaimana teman-teman kita berbicara di depan anggotanya.

11 juni 2010, kala itu aku diantar kedua orang tua-ku ke lembaga pendidikan islam itu. Umur yang masih dianggap muda, menuntut aku harus menimba ilmu ditempat yang lumayan jauh dari rumah. Hari itu adalah dimana aku harus beradaptasi di lingkungan yang baru. Tak ada handphone, televisi apalagi playstation. Tapi itu bukan suatu halangan yang sulit bagiku.

Ketika aku masuk wilayah asrama, disana sudah ada petugas yang menunggu. Mereka memberi salam kepada-ku dan kedua orang tua ku.

"Assalamu'alaikum"

"Wa'alaikum Salam" orang tua ku menjawab.

Aku terdiam, tak sedikit pun kata yang keluar dari mulut-ku. Aku sibuk, aku sibuk memperhatikan bangunan asrama tingkat ini.

"Dimana tempatku nanti?" aku bergumam dalam hati.

"Candra!"

Panggilan ayah membuyarkan lamunanku. Ternyata ayah dan ibuku sudah selesai berbincang dengan petugas tadi. Dan sekarang ayah sudah memegang kunci.

"Kunci apa itu? Apa itu kunci kamarku nanti?". Aku bergumam untuk yang kedua kalinya

Aku mengikuti langkah ayahku ke arah asrama yang mulai nanti malam aku akan tidur disana.

Sesampainya di depan pintu asrama, aku terdiam sesaat. Sekarang aku melihat barisan ranjang di sudut kiri dan kanan, mungkin ada 25 ranjang di asrama ini. Ini lebih mirip rumah sakit kelas yang paling rendah. Tapi mau tidak mau, aku harus bisa menyesuaikan diri di tempat ini. Kunci, yang aku kira itu kunci untuk kamar ku sendiri ternyata salah, itu kunci lemari ku. Lemari yang besarnya tak lebih besar dari lemari buku yang ada di rumahku.

Selama kedua orang tua-ku merapihkan barang-barang, memasangkan sprei dan menata pakaian ku ke dalam lemari, aku berjalan ke arah belakang untuk melihat kamar mandinya. Mungkin untuk yang kesekian kalinya aku terdiam.

"ini kamar mandi atau apa!". Aku bergumam

Kamar mandi yang kulihat sekarang lebih mirip kandang kuda, sampah dimana-mana, lantai yang tak enak di pandang lagi, dan banyak coretan tangan bahkan telapak sandal di tembok.

  • view 42