KUBURAN KAMI DIMANA-MANA

AURORA
Karya AURORA  Kategori Sejarah
dipublikasikan 20 Maret 2016
KUBURAN KAMI DIMANA-MANA

Sejarah Indonesia adalah sejarah pemuda, tentang demonstrasi, tentang niat suci dan demi perubahan yang lebih besar untuk kemaslahatan ummat. Namun dibalik teriakan yang lantang dari tiap pemuda, mereka selalu berfikir tentang tanda Tanya besar yang dimiliki bangsa ini yakni tentang peristiwa 1965. Banyak diantara mereka yang berusaha mencari tahu, namun tak sedikit juga yang bersikap apatis akan sejarah bangsa ini, sejarah yang salah satunya Hak Asasi Manusia begitu diinjak-injak dengan bangganya tanpa sedikitpun merasa bersalah pada apa yang telah diperbuat.

Berbicara tentang 1965 berarti kita mengenang kembali peristiwa mengenaskan G30S PKI, namun jauh dari peristiwa tersebut, ada yang disebut sebagai ?akibat? dari peristiwa itu. Generasi muda yang lahir pada zaman millennium mungkin tidak banyak yang tau, dan kalaupun ada berarti tak banyak dan diantara generasi muda mereka lebih menyukai mempelajari sejarah lewat buku ajar yang keaslian sejarahnya masih dipertanyakan.

KUBURAN KAMI DIMANA-MANA, adalah gabungan dari kata yang menunjukkan dalamnya kesedihan, kekecewaan dan rasa memaafkan walaupun dalam keterpaksaan, Pada tahun 1964-1965 presiden Ir.Soekarno berinisiatif dan mengambil langkah konkrit dengan mengirim ribuan pelajar Indonesia ke luar negeri untuk menuntut ilmu dan kelak akan diaplikasikan di Indonesia demi mengembangkan kemajuan pada beberapa sector sesuai yang telah mereka pelajari. Pelajar-pelajar Indonesia yang biasa disebut MAHID (Mahasiswa Ikatan Dinas) tersebut? tersebar di berbagai negara di Benua Eropa diantaranya Praha, Belanda, Paris dan kota-kota dengan pendidikan maju lainnya.

Tulisan ini adalah untuk menghormati mereka yang dapat dikatakan ?Dipenjara tanpa Jeruji? tersebut, tentang mereka yang kini menjadi asing di negara sendiri, tentang mereka yang dicabut kewarganegaraannya, dan tentang mereka yang lebih mengerti arti sebenarnya Indonesia. Tersebar di berbagai negara dengan tanpa status warga negara membuat mereka disebut ?Eksil?, kata yang tak mereka inginkan namun begitu kuat melekat dalam setiap individu. Merekalah orang-orang yang menjadi korban kekejaman peralihan kekuasaan saat itu (yakni dari Seoharto dan Seokarno). Pada realitanya, tak sedikit dari para eksil yang sakit bahkan meninggal dinegara mereka berdomisili, dan mereka merasa seakan dikubur hidu-hidup dalam pikiran, ingatan dan pahitnya masa lalau.

Mereka dianggap penghianat karena menolak kepemimpan sang dictator Indonesia, menolak tokoh yang kalian sering sebut sebagai Bapak Pembangunan. Para eksil tersebut sering dianggap sebagai komunis dan ketika sat itu tiba mereka hanya mampu menahan rasa sakitnya dengan penuh ketenangan. Salah satu diantara mereka ada salah satu tokoh yang begitu luar biasa yang selalu bercerita lewat baitan puisinya beliau adalah Opa Chalik Hamid yang penggalan puisinya ia tuangkan perasaannya tentang kejadian memalukan ini.

?Kuburan kami ada di mana-mana, kuburan kami berserakan di mana-mana, di berbagai negeri, berbagai benua. Kami adalah orang orang Indonesia yang dicampakkan dari Indonesia, paspor kami dirampas sang penguasa, tak boleh pulang ke halaman tercinta. Kami terus didiskriminasi dan dicampakkan,?

?

Puisi tersebut adalah gambaran singkat perasaan mereka para eksil yang seakan dicampakkan bahwa sering kali merasa dibuang oleh negara Indonesia, dan dengan kata lain pemerintah yang otoriter tersebut seakan telah memilih tempat kuburan bagi masing-masing dari mereka. Dalam beberapa sejarah yang diajarkan selama ini di sekolah, kajian sejarah hanya sebatas kulit mereka tidak mengajari generasi muda tentang peristiwa menyedihkan tersebut sehingga jangan heran ketika hari ini generasi muda melihat sejarah sebagai hal yang lucu dan wajar bila ditertawakan. Yah, generasi yang apatis telah mereka lahirkan secara perlahan tanpa mereka sadari, dapat anda bayangkan begitu banyak sejarah yang tak diajarkan dan lebih dari pada itu adalah mereka adalah generasi yang selalu ingin menyusui dan telah berjalan jauh dari sifat lahiriah manusia yakni rasa keingintahuannya.

Kaum Millenial ini tak ingin mengetahui hal lebih jauh tentang sejarah,mereka berfikir bahwa apa yang mereka pelajari sejak Sekolah dasar adalah benar adanya. Dan dengan sendirinya sejarah Indonesia dengan mudahnya mereka abaikan.

Kuburan mereka ada dimana-mana dan kuburan tersebut dipenuhi rasa cinta, amarah dan rasa yang menolak dengan lantang realita yang telah terjadi kepada mereka. Kuburan mereka begitu berserakan di berbagai tempat dan hingga sekarang mereka seakan ditutupi dengan kain gelap oleh mereka yang berkewajiban menjadi Nahkota Republik ini.

Besar harapan saya semoga kedepan akan ada hari dimana mereka diingat dan dijadikan sebagai orang yang pantas menerima sesuatu yang lebih baik sehingga dapat mengikis secara perlahan amarah dan kekecewaan pada negara ini.

Salam

?

Para Pemikir

  • view 120