JERUK YANG MENYADARKANKU

AURORA
Karya AURORA  Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 05 Maret 2016
JERUK YANG MENYADARKANKU

Saat itu hari mulai senja, dan adzan magrib pun berkumandang seraya mengingatkan ummat manusia untuk melaksanakan kewajibannya. Aku masih lalai dan terbawa asyiknya sebuah tugas yang diberikan dosen tadi siang, disaat ketika diri saya sedang mengerjakan tugas dengan penuh semangat tiba-tiba ada seorang pemuda yang mengetuk pintu kamar sambil meneriaki namaku dalam sunyi. Dia adalah temanku yang barusan pulang dari minimarket untuk membeli keperluannya. Ketika saya bergegas dan membukakan pintu, tiba-tiba disodorkan kepadaku kantong hitam yang hampir penuh isinya, kantong tersebut berisikan jeruk dengan ukuran sedang ( kataku dalam hati ?Kayaknya dia tau buah yang saya sukai?) dan dibarengi dengan ucapan terima kasih.

Jeruk dengan dominasi warna orange tersebut tak langsung ku sentuh (mencicipinya), aku masih terlalu terbuai dalam rayuan mesra tugas sang dosen yang diberikan kepada setiap mahasiswa di kelasku. Beberapa jam yang kulakukan penuh dengan pemikiran akstra akhirnya waktunya tiba untuk beristirahat dan melanjutkannya dengan sembari memasrahkan diri dan bersujud kepadanya. Setelah selesai kulakukan Ibadah Sholat magrib dan dilanjutkan dengan sholat Isya, saya terduduk dalam tumpukan bantal sambil membuka secara perlahan kulit dari buah tersebut. Setelah mencicipi beberapa buah jeruk tersebut tak lantas langsung kuhabiskan seluruh pemberian temanku, saya mengambil beberapa langkah pendek sambil memegang satu buah jeruk ke arah lemari buku kemudian mengambil sehelai tisu. Yah, aku meletakkan buah jeruk dan beralaskan tisu tersebut untuk beberapa hari dengan dibarengi pantauan setiap harinya.

Satu hal yang aku sadari bahwa buah jeruk tersebut mulai membusuk dan menghadirkan bau yang tak sedap untuk dicium, saya kemudian meletakannya dalam sebuah katong plastik untuk dibuang. Jeruk yang beberapa hari kemarin terlihat segar kini telah berubah menjadi sebuah jeruk yang bau dan hancur secara perlahan (seperti kehilangan identitas dan keindahannya). Aku menyadari bahwa suatu saat aku akan mengalami hal tersebut, ketika aku tua dan mulai bau dan membusuk ? Hal tersebut yang sering orang katakan sebagai Kematian?.

Dari hal diatas saya menyadari bahwa satu-satunya satuan yang kekal di dunia ini adalah waktu, hal diatas mengajariku bahwa waktu dan kematian adalah guru yang sangatlah berharga di dunia ini, Jadi maksimalkanlah hidup dan umur kalian, janganlah lewatkan sedetikpun untuk mengerjakan hal yang hasilnya akan merugikanmu kelak.

  • view 88