Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 13 Agustus 2016   12:13 WIB
Indonesiaku yang semakin mengeriput

Ribuan kilometer jauhnya rumah indah kami terbentang

Rumah yang dipenuhi oleh cerita, protes dan dikekang

Debu menambah rasa bosan, udara segar yang kami puja seakan marah kepada para penguasa

Bahkan untuk merasa hidup, ribuan lampu pun tak mampu mengusir gelapnya jalan berlubang

 

Dan diantara ribuan malam, pacarku masih tertidur lemah dan kelaparan

Dengan bertelanjang dada, melawan dinginnya aroma busuk yang dibuat mereka

Sekelompok tikus yang masih saja mereka Tuhankan.

Tikus yang menggigit setiap helai benang kebebasan, yang puluhan tahun dikenakannya.

 

Sampai kapan harus kami gadaikan kebebasan kami, untuk sesuap nasi yang dibuat oleh tangan-tangan kotor kalian

Yang dengannya, setiap tetesan ait mata, kami jadikan sebagai penghilang rasa dahaga

Masihkah kami dianggap bangsa yang merdeka.? Disaat setiap inci tanah yang kami sebut surga itu telah diobral

Kepada mereka para penghuni jeruji yang masih saja berbicara tentang Tuhan

 

Kau Besar, namun dengannya pula kau dianggap kecil tak berjarak

Kau kuat, namun lemah ketika dihadapkan dengan Tuhan-Tuhan yang mereka ciptakan

Kau subur, dengan teriakan dan darah yang kami basahi setiap pohon kemunafikan

Dan, kau luas, namun setiap incinya dijadikan kubur para pejuang kesetiaan.

 

Untukmu, tanah tempat generasi sebelum kami terbaring damai dalam pelukan Ilahi. Kami gadaikan Tuhan kami atas nama keamanan dan kesejahteraan para penghuni tanah berdebu ini.

Untukmu, tanah tempat ribuan orator sejati negeri ini mengobral murah nyawa mereka demi kebanggaan. Jadilah rumah termewah, Selamat bertambah tua dan mengeriput.

Jangan basahi generasi muda kami dengan air liur kebohongan. Jadilah yang terhormat, karena untukmu kugantungkan cita dan harapanku.

 

Refleksi 71 tahun HUT Republik Indonesia.

Karya : AURORA