memilih dalam rumitnya rasa

AURORA
Karya AURORA  Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 11 Agustus 2016
memilih dalam rumitnya rasa

Hidup adalah tentang memilih, mencintai dan memaafkan. Namun terkadang hidup memerlukan sebuah kesan nyaman dalam kemasan apapun. Agar kita mampu memberikan yang terbaik untuk sesama.

Diantara kemacetan panjang, hiruk pikuk kota yang ditawarkan saat senja, aku masih terduduk pada kursi kayu panjang di sudut kafe terbaik kota ini. Menghabiskan waktu dengan berbicara lewat tulisan-tulisan baru yang selalu kujadikan alat untuk berkisah tentang hidup.

Lebih dari pada semuanya, diantara semua kesibukan yang ada, kusisipkan sebuah kenangan pada tempatku berpijak “Kota Ambon”, tempat dimana kaki ini pertama kali melangkahkan kaki yang kaku, tempat dimana aku mencoba melafalkan pertama kali kata-kata indah di dunia dan kota dimana aku belajar arti penting kehidupan, dan tak terkecuali “Cinta”. Bagi sebagian orang, Cinta adalah hal yang candu dan terkadang menyakiti insan yang mencoba merasakan keindahan setiap inci dari rasa yang dititipkannya. Namun tidak denganku, Kota ini selalu menghadirkan keunikan dan rasa cinta yang tak mampu aku abaikan, tentang keluarga, tentang sahabat dan tentang “Dia”. Sosok wanita yang selalu kujadikan motivasi dan alasan untuk berjuang dan membangkitkanku disaat aku terjatuh begitu dalam.

Layaknya perang batin yang bergulir, ingin kunikmati setiap rasa yang ada, namun jujur ku tak mampu untuk mencicipinya. Kenyataan memaksakan dan menarikku sekuat-kuatnya untuk memilih untuk bertahan dalam mencinta, atau memilih untuk menghilang dengan pahitnya rasa yang kupendam dalam diamku. Perang ini tak dimulai dengan semauku, namun dengan sedikitnya persentase perasaan yang selalu kulibatkan dalam setiap aktifitas, memaksaku melupakan pahitnya mengagumi sosok yang kukenal belasan tahun itu. Sosok polos, ramah dan wanita terindah yang kulihatnya melangkahkan kaki dihantaran pasir putih.

Dalam malam yang masih bias kucicipi indahnya, ku serahkan kepada-Nya. Sang Pemilik hati untuk memberi jawaban terbaik untukku. Paling tidak untuk tetap mencintai, atau melangkah meninggalkan  setiap rasa yang ada. Untukmu Tuhan, apabila terciptanya dia “Hambamu itu” hanya untukku maka dekatkanlah dia. Namun bila dia tercipta untuk mencadi sosok malaikat hambamu yang lain, maka jauhkanlah dia secara perlahan.

 

Workshop Coffee – Ambon, 06/08/2016