Gadis di Lorong Kelas

AURORA
Karya AURORA  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 09 April 2016
Gadis di Lorong Kelas

Layaknya siang seperti biasa, matahari enggan untuk berhenti melaksanakan tugasnya menyinari bumi, panasnya menembus lapisan atap yang terbuat dari anyaman pohon sagu yang mengering, hawa panas menyelimuti seluruh ruangan kelas, butiran keringat terlihat mulai menetes dari wajah anak-anak yang mulai lesuh dan tak berdaya, raut wajah mereka seakan meminta kepada Sang Maha Tunggal untuk segera menggeser matahari ke belahan bumi lain.

Disaat anak-anak yang yang lain sedang terduduk lemas dan lesuh, ada seorang anak yang begitu semangat, ayunan langkahnya seakan menantang terik panas matahari diluar sana. Beberapa tangkai bunga mawar dipegangnya erat, menuju ujung lorong dari deretan kelas yang saling berhadapan, dari kejauhan terlihat sebuah vas bunga yang kosong melambaikan tangannya seraya menjemput kedatangan Andi. Andi adalah seorang ketua OSIS, keperibadiannya yang luar biasa membuatnya diberikan amanah oleh para siswa pada pemilihan 1 tahun yang lalu sebagai ketua OSIS.

Sepak terjangnya di sekolah memang begitu membanggakan, satu kali menjadi juara olimpiade fisika tingkat SMA se-Kabupaten, menjadi Paskibra termuda pada peringatan hari kemerdekaan di Ibu Kota Provinsi dan menjadi inovator termuda pada kompetisi Ecovillage Competition tingkat Nasional.

Tak hanya deretan prestasi itu, Andi adalah sosok yang selalu memimpin teman-temannya ketika menunaikan sholat di sebuah musholah, bangunan kecil di belakang sekolah yang keadaannya begitu memprihatinkan. Lapuknya kayu seperti ukiran kaligrafi menjadi hiasannya, beberapa sinar matahari berbentuk bulat menembus lapisan atap yang dibuat dari daun sagu itu, entah berapa tahun umur bangunan kecil itu. Namun bila dilihat sengan saksama, bangunan itu mungkin sudah ada sejak generasi pertama sekolah ini, paling tidak hampir 25 tahun yang lalu (tanpa direnovasi sekalipun).

Sesampainya di ujung lorong kelas, Andi langsung memasukan beberapa tangkai bunga mawar yang segar itu beberapa vas bunga, kebiasaannya tersebut sering di salahartikan, hingga beberapa temannya menganggapnya sangat feminism. Setelah diperbaikinya posisi vas tersebut dia beranjak menuju ruang kelasnya untuk bersiap memulai pelajaran yang terakhir, hari ini adalah ujian tengah semester dan seperti biasa, Andi duduk di deretan paling depan sambil membagikan lemaran jawaban dan soal yang diberikan oleh Ibu Widya untuk dibagi ke teman-teman yang berada dibelakangnya.

Suasana begitu hening, mata anak-anak itu hanya tertuju pada deretan soal yang dipenuhi angka itu, Yah, hari pertama selalu dihiasi oleh Matematika, salah satu mata pelajaran yang sangat Andi? sukai. Jarum jam dinding disamping kelas terus bergerak memutar dengan cepatnya, anak-anak lain sibuk untuk menghitung, mencoba mencari jawaban, dan ada juga yang bersikap layaknya dukun, komat-kamit mulutnya tak terhenti, entah itu berdoa atau sedang mereka-reka jawaban yang harus diisi pada bagian pilihan berganda.

Sejam kemudian, gerak anak-anak itu mulai kelihatan, ada beberapa teman yang memanggil Andi dengan raut wajah yang sangar seperti ingin menelannya hidup-hidup, Yah, itu adalah komplotannya Zainal seorang anak yang nakal, kebiasaannya saat ujian hanya satu yaitu ?mengancam? apabila yang dimintainya tidak memberi jawaban. Walaupun jawaban yang hendak diberi temannya itu adalah jawaban yang salah, dengan kode membentuk lambing ?peace?.

Ketika waktu selesai, Andi menyerahkan lembaran jawaban kepada Bu? Widya yang berada tepat di depannya, diambil ranselnya kemudian meninggalkan kelas untuk melakukan tugas berikutnya sebagai ketua OSIS. Andi berjalan dengan santai menuju ruangannya, dan dari depan kelasnya terlihat seorang siswi mengangkat vas bunga yang diisinya tadi ,lalu mencium dengan khidmat aroma bunga mawar merah tersebut. Andi terhenti sambil mereka-reka, siapa sebenarnya siswi dengan rambut sebahu itu, dia terlihat begitu menyukai bunga yang baru diletakkan Andi tadi, wajah Andi mulai memerah, dahinya mengerut seakan sedang berfikir keras menebak nama siswi yang dilihatnya barusan.

Andi duduk di kursinya, namun pikirannya telah berkelana jauh meninggalkan ruangan OSIS seakan sedang menjalankan misi pribadi yaitu mencari tahu siswi feminim tadi, usaha Andi pun sia-sia, tak ada bayangan apapun tentangnya, ?Tadi itu siapa yah, kok ga pernah aku lihat sebelumnya..? Ucapnya dalam hati sambil berusaha berfikir lebih keras.

Dari depan ruangan OSIS, suara teman-temannya terdengar jelas layaknya orang sedang demonstrasi, suara langkah kaki mereka tak kalah hebat, seakan memakai sepatu kaca milik cinderela yang menimbulkan bunyi yang kuat, Kedatangan teman-temannya merusak segala hal misterius yang di pikirkannya.

?Ngapain kamu Ndi, sendirian aja..? Sapa Fachrul dari depan pintu

?Iya nih Andi, gaya kamu kayak orang lagi kesusahan aja..Cerita dong kalau kamu punya masalah.? Tambah Indra dengan sigapnya

?Tidak apa-apa kok shob, aku cuman lagi memikirkan ujianku tadi, apa sudah maksimal jawabanku? Jawabnya seolah-olah menghindar dari pertanyaan berikutnya

?

Andi berdiri merapihkan tumpukan buju di mejanya kemudian mengajak kedua sahabatnya itu untuk melangkah pulang bersama-sama. Yah, Andi, Fachrul dan Indra adalah sahabat sejak kecil, mereka menghabiskan waktu bersama-sama, bahkan untuk melanjutkan sekolah saja mereka selalu berkomitmen untuk melanjutkan di sekolah yang sama. Itu adalah usulan si Fachrul yang cenderung setia kepada kedua temannya itu.

Andi seakan lupa tentang hal yang dipikirkannya tadi, seorang siswi dengan rambut sebahu itu, perjalanan mereka diiringi keceriaan dan tertawa bersama-sama untuk melupakan jarak 4 km yang harus mereka tempuh untuk sampai di kampung mereka.

  • view 107