IZINKAN AKU MELUPAKANMU

AURORA
Karya AURORA  Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 27 Maret 2016
IZINKAN AKU MELUPAKANMU

Malam masih saja sama dengan yang kemarin, aku masih terdiam dalam kesendirian, sendiri dan termenung dalam rasa dan kesendirian hatiku. Kesunyian dalam diri ini membawaku ke ujung pekat malam dan merengkuhku dalam kesepian yang begitu mendalam. Semakin, dan semakin aku terhanyut dalam kesendirian yang dibaluti ketidakpastian akan rasa ini.

Gerak jarum jam seolah mengejekku, bersama teman sejati yang selalu menemaniku melewati pekatnya malam, seakan mengisyaratkan bahwa ayunan malam ini tak jua menghantarkanku pada kenyamanan lelap, layaknya aku telah terperangkap dalam sebuah rasa yang tak menentu. Rasa yang selalu ingin aku ingkari, namun tidak pernah benar-benar aku berani. Terkadang aku berfikir bahwa sebagai seorang lelaki, aku sangat tak punya nyali, bahkan untuk membisikkannya pada netra dunia atau mengabarkan sebuah romantisme sederhana yaitu kejujuran atas rasa yang terpendam ini.

Bahkan disuatu malam aku mencoba membisik kepada-Nya, apakah seperti ini kehendak yang digariskannya untuk aku arungi.? Dalam sebuah kesempatan aku belajar akan nasib dan takdir yang tak bisa diubah-Nya kecuali atas kemauan diri sendiri, apakah benar begitu adanya.? Apakah sepantasnya kenangan itu ada.? Ratusan kali mencoba mnyadarkan diri yang lemah ini, namun tak begitu kuat untuk menerima kenyataan ini.

Kadang-kadang aku hanya mengetuk tepian kayu pintunya saja, terlalu takut jika harus benar-benar mengetuk, lantas masuk dan singgah. Biarlah jika harus berdiri berjam-jam sekedar memandang lewat jendela milikku sendiri. Aku tak mudah mengupas jiwaku, kemudian memancarkannya pada orang lain. begitulah, sudah terbiasa bersemayam dengan diam.?Dengan besandar pada restu kerelaan, jangan tanya apa. Lebih dari sekedar nyanyian renungan. Lebih dari semua itu. Aku malu.

Dulu, kau menarikku dari kesepian. Engkau ibarat cahayaku dalam kegelapan. Sekarang, setelah takdir kita selesai, aku kan kembali berada dalam gelapku tanpa cahayamu. Aku sadar, Mungkin dalam perjalanan panjang kita pun, engkau telah tersadar. Aku tak pantas untukmu. Aku hanyalah serpihan debu yang tak berarti, sedangkan engkau laksana puteri bagiku. Dan jujur, aku selama ini tersilau.

Bahkan jika suatu hari engkau telah berhasil memilih lelaki yang akan berdiri di sampingmu. Bahkan jika pria itu bukan aku, aku tetap akan selalu mendukungmu selama cinta ini masih di dalam hati.

Pada akhirnya, Sekarang, ijinkanlah aku belajar melupakan.?Melupakan semua kenangan yang ada dalam memori ini. Melupakan semua tawamu, melupakan semua kebaikanmu, melupakan semua tatapan itu. Ijinkanlah aku buyar dalam hitam pekat tak bermasa yang kan selalu abadi.

Maka, ijinkan lah aku melupakanmu. Ijinkan aku belajar melupakan setiap kata darimu, setiap tatapan mesra yang hanya mampu kupandangi walau tak bertemu, setiap jawaban dengan suara indah dalam setiap baris jawabanmu bahkan setiap kehadiranmu yang bagiku kuanggap anugerah.

Saat aku menulis tulisan ini, aku masih sangat mencintaimu walau ku tahu engkau tak pernah mencintaiku bahkan untuk menganggapku dan rasa ini ada. Bukankah engkau pernah begitu arogan ketika yang ingin saya tau cuman kabarmu hari ini, ketika kepedulianku yang tulus hanya kau anggap deretan kata tak berarti dan ketika wajahmu kau palingkan didepanku.

Wahai engkau yang melumpuhkan hatiku. Maafkan aku untuk semua salahku dan ijinkanlah aku belajar melupakanmu. Semoga suatu saat kau akan mengerti atas dalamnya rasa ini, dan maaf karena aku terlalu jauh terbuai dalam indahnya cinta.

Aku akan melupakanmu, dan semua rasa yang bersemayam dalam diri ini.?

?

?Karena bagiku, jatuh cinta adalah patah hati paling sengaja?

?

Salam

?

Orang yang mengagumimu

  • view 481