Penikmat Pagi Menanti Mentari

Cut Winda Afrionita
Karya Cut Winda Afrionita Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 16 Maret 2016
Penikmat Pagi Menanti Mentari

Setiap perjalanan pasti akan menyisahkan kenangan. Kenangan itu selalu terjadi dalam dua sisi. Kenangan pahit dan bahagia. Banyak dari kita mengelompokkan sesuatu kenangan hanya pada satu sisinya.


"Kemaren pendakiannya seru banget. Pokoknya puas deh bisa mendaki kesana. Rasanya mau kembali lagi kesana."

"Menurut saya gak. Apa. Hujan, capek, mana matahari terbit dan terbenamnya gak dapat."

Kurang lebih seperti itu gambaran pengelompokkan kenangan dalam setiap perjalanan. Padahal jika kita telusuri, maka kita akan mendapatkan kedua kenangan tersebut.

Pendakian pun dimulai.

Hari itu, kami semua sudah mempersiapkan perjalanan menuju gunung Cikuray di daerah Garut Jawa Barat. Gunung yang memiliki ketinggian 2821 MDPL tersebut disebut-sebut menjadi gunung tertinggi di daratan Garut. Kami pun berencana melakukan perjalanan selepas sholat Jumat, 4 Maret 2016.?Rencana cukup matang sudah dipersiapkan mulai dari jam berkumpul, barang yang akan dibawa hingga urusan dengan pendanaan.?

Aku berangkat dari Jakarta Timur menuju Bandung selepas menunaikan kewajiban mengajar di sekolah pada hari kamis. Perjalanan yang kuawali dengan berdoa serta bersyukur itu tak akan pernah kulupakan hingga aku sampai di kos salah satu teman di Bandung (daerah Cilimus, UPI). Sesampainya aku di sana, aku disambut oleh beberapa teman yang ada di kos tersebut. Gelak tawa tercipta malam itu.

Aku pun menanyakan perihal keberangkatan esok hari. Kami semua sepakat untuk berkumpul di kos salah satu teman pada pukul 09.00 WIB. Saat berkumpul di sana kegiatan yang dilakukan adalah mempersiapkan semua logistik dan peralatan pendakian ke dalam masing-masing ransel yang kami bawa.

Malam pun tiba dan tidur beberapa jam pun tersita.

"Cut, mau ikut ke rumah Nadya sekarang? Biar bisa langsung berkemas."

"Owh, boleh Bang. Kebetulan aku sudah beberes tinggal masukkan barang sedikit ke tas."

"Oke. Ditunggu di atas."

Kurang lebih seperti itu percakapan aku bersama seorang senior yang menjadi ketua dalam pendakian kali ini. Kulihat jam pada handphone menunjukkan pukul 07.43 WIB. Aku segera bergegas dan mulai memasukkan pakaian yang digunakan sebelumnya dan langsung menuju ke kamar kos yang berada tepat satu lantai di atas kos ?yang kutempati malam tadi.

Kami pun berangkat menuju kos Kak Nadya (seniorku semasa kuliah di Padang) dan tiba pukul 08.29 WIB. Setiba di sana kami langsung menyiapkan peralatan yang sudah ada. Hingga akhirnya ketua pendakian kali ini berkata,

"Cut, kita ke pasar dulu yuk. Beli logistik yang belum dibeli. Kalo sempat kita sekalian ke tempat penyewaan tenda."

"Oke"

Aku hanya mengikuti intruksi yang diberikan ketua. Hingga kami berbelanja ke pasar Gerlong (Geger Kalong) dan menuju tempat penyewaan tenda untuk meminjam beberapa peralatan pendakian.

Kami tiba kembali di kos Kak Nadya kurang lebih 10.30 WIB. Di sana kami tidak mendapati Kak Nadya di kos. Mungkin beliau tengah keluar untuk membeli sesuatu pikirku.?

Setengah jam berlalu Kak Nadya pun datang. Kak Nadya memberitahukan kami bahwa satu orang teman pendakian kami sedikit terlambat datang ke kos karena masih bersiap-siap.

Kami pun mulai membereskan peralatan yang bisa kami masukkan. Oh ya, 2 orang teman pendakian lagi sudah datang ke kos. Kami pun mulai membagi tugas sesuai dengan porsi agar ADIL.

?

Ketika tengah asyik membereskan peralatan, kami mendengarkan bahwa sudah ada panggilan bagi kaum pria muslim untuk menunaikan kewajiban sebagai muslim yaitu sholat Jumat. Mereka pun berangkat (seniooku berjumlah 3 orang)

Tidak lama setelah mereka menuju ke mesjid terdekat, tibalah 2 orang teman pendakian yang tadi belum siap untuk mendaki. Kulihat jam, sekitar pukul 12.14 WIB. Telat 3 jam dari jam berkumpul. Aku merasa bahwa hal ini sudah terlalu telat, namun aku berusaha untuk biasa saja dalam menanggapi hal ini. Karena aku pun baru kenal mereka di siang ini yang akan berangkat mendaki bersama.?

Selepas Jumat, kami masih berkemas dan makan siang hingga kami mulai siap meluncur dari Bandung ke Garut pada pukul 15.15 WIB. Cukup telat bagiku. Karena daerah yang akan kami datangi belum pernah kami datangi sebelumnya (kami bertujuh sebagai pemula menuju gunung Cikuray).

Benar adanya. Kami tiba di kawasan kaki gunung Cikuray sekitar pukul 22.00 WIB. Hal itu sudah dilengkapi dengan nyasar beberapa kali, ban motor salah satu teman pecah, knalpot motor salah satu motor senior berbau, hingga perjuangan 2 motor yang memaksakan hingga tower tempat istirahat sebelum pendakian esok hari.

Sempat merasa hari tidak berpihak pada kami. Karena sejak keberangkatan banyak kejadian. Mulai dari telat berkumpul hingga akhirnya kami harus menuju tower menggunakan mobil sewaan di bawah kaki gunung mengingat motor yang sudah tidak sanggup untuk mendaki menuju tower lagi.

Malam itu menunjukkan pukul 00.35 WIB ketika kedau tenda telah ditegakkan. Malam ini pun kami memutuskan bahwa besok akan mendaki gunung Cikuray pada pukul 07.00-08.00 WIB. Rentang yang dibuat agar terlambat masih bisa memperkirakan sampai di pos 7 tampat kami mendirikan tenda nantinya sebelum malam menjelang.

Aku memutuskan untuk tidur. Karena aku tahu, aku ingin bertemu sang mentari menampakkan dirinya. Maka aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk tidur sejenak.

05.10 WIB

Aku terjaga dan mengingat bahwa aku belum sholat subuh. Maka, bergegaslah aku bangun untuk melaksanakan kewajiban tersebut bersama senior yang ternyata ada yang belum melaksanakan sholat subuh juga.

Singkatnya, karena kami tidak mengkondisikan waktu dengan baik dan tidak memahami alur pembagian tugas, maka pendakian yang direncanakan akhirnya molor. Kami mulai pendakian pukul 10.00 WIB.

Pendakian yang direncanakan hanya berlangsung 8 jam menuju pos 7, ternyata tidak sesuai harapan. Beberapa teman mengalami ujian saat perjalanan pendakian. Belum sampai di pos 1, salah satu teman sudah tidak kuat mendaki dikarenakan mual dan muntah di dalam perjalanan. Kami memutar otak untuk tetap membawa ia hingga puncak yang sudah kami rencanakan. Kami pun memutuskan untuk mengurangi beban ransel yang ada pada teman tersebut dengan membagikan kepada teman lainnya. Hingga akhirnya dia sanggup berjalan walaupun tertatih untuk melanjutkan pendakian.

Belum selesai sampai di sana, perjalanan kali ini bagiku cukup terasa berat. Mengapa? Belum 10 menit berjalan, kami sudah berhenti dikarenakan ada teman yang tidak sanggup jika diteruskan. Perjalanan yang ditempuh juga cukup lambat. Aku yang semula memiliki stamina cukup, serasa mulai sesak pada bagian dada. Maklum dikarenakan aku mempunyai riwayat asma.

Ujian demi ujian pun berlanjut. Salah seorang teman lainnya tiba-tiba magh yang dimilikinya kambuh dan ia tidak membawa obat magh tersebut. Oke, perjalanan pun semakin lama dikarenakan hal ini. Selang beberapa menit kemudian, magh yang dialami teman pendakianku tersebut menyusul dengan asma yang sudah lama tidak muncul. Belum lagi hujan mulai turun disela-sela pendakian kami yang baru melewati pos 2.

Kami pun memutar otak untuk menyelesaikan ujian ini.?

Pendakian yang berat memang dari pos 1-3 karena jaraknya lumayan jauh. Namun, dari pos 3-7 cukup ringan karena jaraknya yang dekat. Kami pun memutuskan untuk mendirikan tenda di pos 3, bukan pos 7. Kami tidak ingin ada hal yang terjadi kepada teman-teman pendakian yang sejatinya tidak menginginkan adanya hal buruk dalam pendakian kali ini.

Setelah mendirikan tenda di pos 3, aku pun melihat jam 15.40 WIB. Waktu yang cukup lama untuk mendaki hingga pos 3. Namun, aku dan teman-teman bersyukur karena kami semua sampai di sini tanpa satu kurang pun.

Malam ini (baca malam minggu) kami mulai menyusun lagi agenda untuk besok. Kami berencana melakukan pendakian ke puncak tanpa membawa ransel. Mengingat kondisi tubuh beberapa teman yang tidak dalam kondisi fit. Kami memutuskan untuk melakukan pendakian pada pukul 02.00 WIB (dalam rencana). Namun, yang menjadi sesal, bahwa salah satu dari kami tidak bisa ikut dikarenakan kondisinya yang belum fix. Mba Ratna, sakit magh yang dideritanya masih belum sembuh. Namun, kami tetap berdoa semoga esok beliau bisa ikut.

Malam itu dilalui dengan obrolan 4 orang seniorku tentang kehidupan. Hal yang menarik adalah beberapa mereka baru kenal saat memulai pendakian ini. Namun, mereka sudah terlihat begitu akrab. Ah gunung, engkau selalu bisa mendekatkan setiap insan yang merindukan kedamaian dan keramahanmu.

22.30 WIB aku memutuskan untuk tidur selepas melaksanakan kewajiban yang tak ingin kutinggalkan demi hobi duniaku ini. Hingga bunyi alarm itu mengganggu telingaku.?01.45 WIB.

Ternyata seniorku sudah bersiaga baik. Namun, karena hal-hal teknis yang sejak awal tidak mampu kami selesaikan, maka kami pun berangkat pada pukul 02.52 WIB tanpa Mba Ratna.

Kami memulai pendakian ini dengan niat menyapa mentari dipuncak tertinggi Garut. Mengawali dengan menanti keluarnya dari peraduan malam. Perjalanan yang diharapkan dapat menyisahkan kenangan manis.

Perjalanan dimulai. Diawal kami mampu berjalan cukup stabil dengan kondisi badan fit. Hingga seorang sahabat yang diawal pendakian sudah tidak kuat dan muntah, pada pendakian kali ini merasakan kondisi tubuh yang sama. Bahkan dalam pendakian kali ini beliau harus dibimbing dengan tarikan tangan dari teman-teman hingga sampai puncak.

Kami berjalan cukup lambat. Mentari sudah mulai berjalan keluar dari peraduannya hingga aku melihat sedang berada dimanakah kami. Kami masih di pos 6 saaat mentari tidak sanggup lagi menunggu untuk terus menampakkan dirinya. Hingga akhirnya 3 dari kami telah dahulu menuju puncak untuk mewakili salam kami pada sang mentari. Kami bertiga (aku, ketua pendakian, dan seorang teman yang sakit) berjalan dengan tertatih hingga puncak.

Kami mulai menyapa mentari ketika ia sudah mulai menari indah bersama awan dan angin pagi itu.?Ah mentari, aku tak bisa melihat indahmu dalam balutan awan pagi dan semilirnya pagi ini.

Sempat merasakan kekecewaan karena salah satu harapan ketika mencapai puncak pendakian adalah menanti mentari pagi berjalan dengan indahnya.?

Namun, kekecewaan itu silih berganti menjadi sebuah harapan baru. Bahwa tidaklah akan membahagiakan bisa berdiri dipuncak tertinggi dalam suatu pendakian jika teman-teman sependakianmu hanya mampu menatap indahnya sinar mentari dibalik dedaunan hutan karena ia tak sanggup kau bawa ke puncak tertinggi.

Melihat seseorang teman yang sepertinya sudah tidak sanggup untuk menuju puncak namun saat ini berdiri untuk sama-sama mengabadikan kenangan dalam bingkai foto, terasa begitu meluntuhkan ego ketika ingin sampai puncak saat mentari masih diperaduan.

"Cut pendakian itu tentang bagaimana kita bisa sampai puncak bersama-sama. Sunrise (matahari terbit) itu adalah bonusnya."

Kata-kata tersebut mengalir dari mulut ketua pendakian kali ini. Senior yang sudah ku kenal sejak 2011 silam. Benar, bahwa melihat matahari terbit hanyalah bonus. Namun, bagaimana kita mampu mencapai puncak bersama dengan menanggalkan semua keegoisan diri adalah proses yang mesti disyukuri wahai penikmat pagi yang selalu menanti mentari.

?

Gunung Cikuray, 2821 MDPL. 4-6 Maret 2016

  • view 251