Niat?

Cut Winda Afrionita
Karya Cut Winda Afrionita Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 16 Februari 2016
Niat?

Pagi ini mentari bersinar cerah seraya tersenyum menyambut datangnya hari baru dan semangat baru ketika bulan ini curah hujan di Indonesia (khususnya DKI Jakarta dan sekitarnya) cukup banyak turun.

Kereta jurusan Depok-Jatinegara pagi ini terlambat beberapa menit dari jadwal keberangkatan. Namun, kondisi kereta masih cukup lengang, mungkin karena hari ini hari libur. Tidak banyak pegawai negeri dan karyawan swasta yang bekerja. Hanya tampak beberapa pekerja (sepertinya) kantoran yang berada di dalam gerbong kereta. Beberapa lainnya terlihat Ibu dan Bapak (sepertinya) hendak berjualan (mungkin ke Tanah Abang). Beberapa di sudut lain terlihat ibu-ibu beserta anak-anaknya (sepertinya juga) hendak menikmati liburan. Kemana? Ke tempat wisata mungkin. Ke mall mungkin. Ke.... mungkin. Hehehehe J

Aku pun lupa dengan aktivitas yang seharusnya aku lakukan di gerbong ini. Melanjutkan bacaan buku yang sempat tertunda beberapa hari dikarenakan (sok) kesibukanku untuk urusan dunia yang tiada habisnya. Namun, lagi-lagi bacaan ku tertunda melihat beberapa pemuda yang bekerja sama mengangkat beberapa kardus yang tidak aku ketahui apa isinya.

?Lumayan Akh. Jika semua lancar, sebelum zuhur bisa kelar Akh. Jadi kita pada bisa jalan-jalan ke Monas, hehehe?

?Iya. Tapi, kita zuhuran ke Istiqlal dulu ya. Baru ke Monas. Okeh??

?Siap?

Ya Allah, maafkan aku yang mendengarkan obrolan mereka secara sengaja setelah melihat mereka masuk ke dalam gerbong kereta. Namun, terselip bahagia ketika mereka tersenyum bersama-sama merasakan kebahagiaan atas aktivitas yang mereka laksanakan. Pikiranku kembali pada masa itu.

?Buat apa sih mau ibadah bareng-bareng begitu? Urusan ibadah toh pribadi sama Allah. Masa diumbar-umbar. Riya tau?

Pikiran itu kembali melayang-layang. Benarkah mereka riya? Benarkah mereka niat riya dengan mengumbar-umbar kebaikan yang dilakukan secara berjamaah? Ya Allah. Jauhkanlah kami dari pikiran-pikiran negatif yang berlandaskan ataupun tidak.

Baik, kembali ke arti riya. Riya merupakan perbuatan mengumbar-umbar hal yang dilakukan (biasanya perbuatan baik) untuk menimbulkan simpati dari orang lain. Perbutan ini biasanya mengharapkan pujian, elu-eluan dan simpati dari orang-orang yang ada disekitarnya. Apakah perbuatan yang dilakukan segerombolan pemuda sebelumnya perbuatan riya karena terlihat seperti sebuah kebaikan yang diumbar-umbar dalam pelaksanaanya?

Mari kita bedakan antara perbuatan riya dan fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan). Saat berlomba dalam kebaikan, banyak orang-orang yang secara individual bergerak ataupun berjamaah. Mengapa banyak orang memilih berjamaah? Ini dikarenakan banyak faktor.

  1. Saat melakukan perbuatan baik secara berjamaah, semangat untuk berbuat kebaikan akan terasa lebih. Contoh, ketika kita terasa berat membaca Al-Quran satu juz dalam satu hari, maka muncullah komunitas ODOJ (One Day One Juz) yang mewadahi bagi sahabat-sahabat yang ingin mencoba belajar membaca Al-Quran satu juz dalam satu hari. Komunitas ini dibentuk bukan sebagai ajang pamer bagi anggota di dalam grupnya siapakah yang kholas terlebih dahulu atau siapakah yang memiliki info kajian dan membagikan kepada teman-teman dalam grup. Komunitas ini dibentuk untuk saling mengingatkan bagi mereka yang membaca Al-Quran masih terhalang oleh pekerjaan, waktu, dan alasan lainnya. Selain itu, komunitas ini berdampak baik salah satunya bisa mengeratkan persaudaraan sesama muslim di daerah (yang mungkin) belum kita kunjungi. Dalam satu grup ada yang dari Jogja, Kalimantan, Sumatera Barat, ataupun lainnya. Ini hanya salah satu contoh dari sekian banyak conoth kegiatan berjamaah yang bertujuan berlomba-lomba dalam kebaikan bukan untuk riya.
  2. Menjadi pengingat. Terkadang kita terlalu sibuk untuk urusan dunia, hingga lupa uruan akhirat. Jika kita selama ini bergerak sendiri dalam melaksanakan kebaikan, maka ketika kita lupa ataupun terlalu sibuk, maka hal tersebut akan terus berlalu. Jika kita bersama-sama, ada sahabat yang mengingatkan ketika kita lupa.
  3. Pekerjaan terasa lebih ringan. Jika satu karung berisi beras 50 Kg diangkat sendiri tentu sangat berbeda apabila diangkat berdua ataupun bertiga. Maka, ketika kebaikan kita lakukan bersama-sama, maka akan lebih ringan.
  4. MLM berbonus surga. MLM? What? Hehehehe. Tenag dulu. Mungkin sahabat semua sering mendengar bisnis MLM dimana semakin banyak kaki (downline atau jaringan), maka akan semakin banyak bonus yang akan diperoleh bagi orang pertama. Mengapa ini tidak diterapkan saat berbuat kebaikan? Contoh, si A mengajak si B untuk sholat subuh berjamaah. Setelah 1 bulan, si B sukses untuk sholat subuh berjamaah tanpa paksaan. Hingga akhirnya si A dan si B berangkat ke mesjid dengan hati ikhlas. Tanpa disadari si A, si B mengajak si C dan si D sholat subuh berjamaah di mesjid. Selanjutnya bergulir terus kebaikan tersebut. Alangkah indahnya bila kebaikan tersebut dapat dialirkan ke pada saudara sesama Muslim.

Intinya, ketika mereka berjamaa melaksanakan kebaikan, In syaa Allah bukan dikarenakan mereka riya. Hanya, mereka ingin berbuat kebaikan bersama-sama untuk mencari ridho Allah SWT hingga dapat ditemukan kembali bersama-sama di Jannah-Nya, Aamiin.

Ingat, beda ya riya dan fastabiqul khairat? Setiap kita punya cara dalam berdakwah. Media yang digunakan juga berbeda. Intinya, adalah menyampaikan kebenaran dan kebaikan semata-mata mencari ridho Allah SWT. Karena, banyak dari kita yang lupa bahwa jika perbuatan baik tidak dicontohkan dan disebarluaskan, maka akan banyak orang-orang yang berjamaah dalam kejahatan dan maksiat karena sudah terlalu banyak tersebar di dunia ini. Maka, berhuznudzon jauh lebih baik.

  • view 132