Mengapa Path?

Cut Winda Afrionita
Karya Cut Winda Afrionita Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 21 April 2016
Mengapa Path?

Sosial media saat ini menjadi kebutuhan bagi manusia untuk mengeksplor dirinya. Diawali dengan facebook yang hingga saat ini masih digunakan untuk menyebarluasakan informasi, hingga path yang tengah tren. Entah berapa banyak lagi sosial media yang ada dalam jaringan internet, namun saya hanya memiliki beberapa di antaranya. Saya memiliki beberapa media sosial seperti facebook, twitter, instagram, path, dan Whatsapp.

Sejak memiliki akun sosial media, salah satu aktivitas keseharian yang saya lakukan adalah membuka secara bergantian setiap sosial media yang saya miliki. Biasa diawali dengan membuka line, lalu dilanjutkan membuka instagram. Setelah instagram menuju facebook, path dan whatsapp. Kegiatan ini cukup berlangsung lama dari sejak awal saya menginstal setiap programnya di handphone yang saya miliki.

Beberapa bulan yang lalu, secara tidak langsung saya merasa jengah dengan aktivitas media sosial ini. Ketika saya membuka facebook, isi yang saya temui sama dengan ketika saya mengunjungi path. Ketika saya mengunjungi path, saya menemui isi intagram teman-teman yang di share ke path mereka secara bersamaan.

Saya merasakan hanya menghabiskan cukup banyak waktu untuk mengulang-ulang melihat yang sama. Pernah suatu ketika saya membuka akun instagram yang saya miliki (baca: @Cafrionita). Saya menemukan seorang adik junior telah mengunggah foto ketika dia tengah makan bersama-sama dengan teman-temannya ke sebuah cafe baru yang ada di kota Padang. Tidak lama kemudian, jemari saya membuka facebook dan menemukan foto tersebut telah dibagikan ke jejaring facebooknya dan muncul pada halaman awal facebook saya. 

Tidak hanya sampai di situ, ketika saya buka path, gambar tersebut muncul juga (dengan tulisan/caption yang sama tentunya).

Saya akhirnya memutuskan untuk mengurangi waktu yang terbuang dengan cara menghapus beberapa akun mungkin. Saya pun mulai menyortir.

Facebook. Akun pertama yang saya miliki adalah tempat berbagi dan bersilaturahmi kepada keluarga yang berada di luar negara hingga teman-teman semenjak TK. Jika saya menutup akun ini, maka saya akan banyak kehilangan informasi dan kesempatan untuk bersilaturahmi kepada orang-orang yang saya kenal. Maka facebook bukanlah pilihan tepat (menurut saya).

Twitter. Mungkin bisa menjadi pilihan. Karena secara langsung pun saya jarang untuk berbagi di twitter ini. Saya lebih banyak berbagi di facebook. Namun, banyak akun-akun inspiratif yang saya ikuti dan dengan mudah saya akses di twitter untuk menambah ilmu pengetahuan yang saya inginkan. Baik, mungkin belum waktunya twitter dihapus saat itu.

Instagram. Media sosial tempat berbagi kenangan dalam wujud visual. Cukup memiliki alasan bagi saya untuk mempertahankan akun ini karena sebagai tempat menyimpan kenangan. Selain itu, banyak juga akun-akun pembawa pengetahuan bagi saya.

Whatsapp. Oh, akun ini mungkin belum tepat untuk dihapus. Karena, dalam media sosial ini saya memiliki keluarga baru yang terbentuk dalam sebuah grup. Saling memberikan semangat untuk mengenal Islam lebih dalam lagi. Mengenal kehidupan lebih baik dari sebelumnya.

Pilihan terakhir jatuh pada path. Path. Mengapa saya mesti menghapus akun ini?

Bagaimana jika saya ingin menulis sesuatu kisah? Masih ada facebook. Toh, banyak dari mereka yang menulis di path terang-terangan membagikan tulisan tersebut ke facebook.

Bagaimana jika saya ingin membagikan foto? Masih ada instagram. Tempat media sosial yang digunakan penggunanya untuk membagikan kenangan visual.

Bagaimana jika saya mengikuti mereka yang terkenal sehingga saya masih memperoleh ilmu? Banyak orang terkenal yang kita kenal membagikan ilmu mereka justru bukan di path, melainkan di twitter. Walaupun saya pernah mendengar seorang junior mengatakan kepada seorang teman "Kok kakak masih menggunakan twitter? Sudah gak zaman. Sekarang path."

Alasan itulah yang menyebabkan saya memutuskan untuk menghapuss akun jejaring path saya beberapa bulan yang lalu. Karena, menurut saya, masih ada jejaring sosial lain yang bisa saya gunakan melebihi path yang hanya lagi ngetren dikalangannya.


  • Anis 
    Anis 
    1 tahun yang lalu.
    saya sudah baca semua mbak

    mengpaus, kekaring.
    akun 'Polisi Bahasa Bayangan' kayaknya seneng kalo tau

  • Polisi Bahasa
    Polisi Bahasa
    1 tahun yang lalu.
    disitu => di situ
    mensortir => menyortir

  • Ayin Elfarima
    Ayin Elfarima
    1 tahun yang lalu.
    Hai, Mbak Winda. Salam kenal.
    Saya malah gak pernah punya 'Path', mbak. Gak tertarik buat akun di situ. Selain itu, kebanyakan medsos juga bikin bingung. Seperti yang Mbak Winda tulis, saya juga termasuk yang sering share apa yang saya upload di IG ke FB dan Twitter.
    Tulisan Mbak Winda ini jadi menambah keyakinan saya untuk gak bergabung di situ.