Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Proses Kreatif 20 April 2016   13:53 WIB
Mahasiswa dan Dosen Pembimbingnya

Ada beberapa orang adik menceritakan pengalaman mereka selama menyusun proposal skripsi. Dari beberapa, ada satu cerita yang menarik.

Seorang adik bercerita bahwa dia mengajukan proposal kepada dosen pembimbing dengan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Setelah proposal diberikan kepada dosen tersebut, dosen tersebut mengatakan bahwa perlu waktu untuk membaca proposal tersebut. Mahasiswa pun menyetujui hal tersebut.

Dua minggu berlalu, mereka pun (dosen dan mahasiswa) bertemu kembali untuk membicarakan hasil dari proposal tersebut. Hasilnya adalah Sang dosen menyatakan bahwa penelitian tersebut terlalu sukar untuk dilaksanakan. Maka, mahasiswa disarankan untuk mengganti dengan metode penelitian lain dan mencari masalah baru.

Awalnya mahasiswa melakukan beberapa diskusi dengan dosen untuk mempertahankan metode ini, namun tetap saja dosen memberikan masukan untuk diganti atau dia tidak akan banyak membantu saat seminar nanti. Mahasiswa pun mengalah.

Mahasiswa mencari masalah baru dan menemukan pengganti sebelumnya. Metode yang digunakan adalah SSR (Single Subject Research). Kembalilah si mahasiswa kepada sang dosen. Cerita lama pun berulang. Proposal ditahan beberapa waktu, tidak terlalu banyak coretan dan diusulkan kembali untuk diganti dikarenakan penelitian SSR tidak lagi tren dan tidak bisa digunakan lagi penelitiannya. Diskusi pun tetap dilakukan mahasiswa dan hasilnya sama dengan kisah sebelumnya.

Namun, bedanya kali ini masalah yang ada diusulkan untuk diganti ke metode kualitatif dan ada beberapa saran. Melihat cukup ada kemajuan dari hasil bimbingan, mahasiswa pun semangat untuk memperbaiki proposal dan mencari sumber-sumber yang disarankan. Tak lama, mahasiswa pun kembali untuk memberikan perbaikan kepada dosen (untuk diletakkan beberapa waktu).

Beberapa minggu kemudian, ketika sang mahasiswa kembali menemui dosen, tak ada coretan di proposal yang telah lama berada ditangan dosen tersebut. Setelah ditanyakan, dosen pun menyatakan agar penelitian ini diganti saja karena penelitian dengan metode kualitatif ini tidak valid dan tidak digunakan lagi. Lebih baik ganti ke penelitian dengan metode Quasi Experimen yang lagi tren (DI KAMPUS TERSEBUT).

Lanjut kepada beberapa cerita berdasarkan hasil diskusi ternyata dosen tersebut terlihat sedikit (entah bisa disebut apa) takut atau rendah diri dengan dosen lain yang baru saja menamatkan pendidikan doktor (S3) nya dan saat ini tengah menunjukkan taringnya dikampus tersebut. Sehingga, terlihat sang dosen mencari aman yaitu dengan mengarahkan mahasiswa bimbingannya kepada penelitian yang (mungkin) disukai oleh dosen doktor tersebut. Jika tidak, maka mahasiswa harus memilih untuk lanjut sendiri tanpa mendapat bimbingan.

Cukup tentang kepedihan yang dirasakan oleh mahasiswa tersebut. Entah berapa banyak mungkin air mata yang telah ia keluarkan. Hanya, ada beberapa yang perlu diperhatikan.

1. Apakah hanya karena TREN suatu metode di kampus tersebut maka penelitan yang lainnya dianggap tidak layak naik cetak lagi..?

2. Apa ini metode bimbingan seorang dosen kepada mahasiswanya tanpa memberikan titik terang kepada mahasiswa yang sudah buntu karena sudah berusaha..?

3. Mengapa penelitian kualitatif, kuantitatif, SSR, dan PTK tidak lagi dianggap layak di penelitian 2016 ini..?

4. Bagaimana caranya mahasiswa untuk melaksanakan penelitian yang tidak dimengerti padahal sebuah masalah yang diangkat menjadi penelitian adalah yang dipahami..?

5. Apakah karena kerendahan diri seorang dosen satu terhadap dosen lainnya harus menjadi penghalang untuk mahasiswa yang ingin mencoba melakukan sebuah penelitian..? Jika iya maka akuilah bahwa "saya adalah dosen yang tidak berani tampil dimuka umum untuk diskusi memecahkan permasalah mahasiswa bimbingan saya jika ada dosen doktor itu."

Mengapa hanya nomor 5 yang saya jawab..? Karena menurut pendapat saya pribadi, akar permasalahan pertanyaan sebelumnya adalah jawaban nomor 5.

NOTE: Catatan yang tidak berniat untuk menjatuhkan atas nama DOSEN ataupun atas nama MAHASISWA yang merasa ada PEMBELA. Namun, lebih kepada seseorang yang sudah bergelar master dan sudah melanglang buana di dunia proposal dan skripsi, namun tidak memberikan pencerahan yang nyata kepada mahasiswanya.

?#‎BelajarLagi?
?#‎MahasiswaBelajar?
?#‎DosenJugaHarusBelajarTerus?
?#‎BelajarSepanjangHayat?
?#‎SemangatMahasiswa?

 
 

Karya : Cut Winda Afrionita