AKU PEREMPUAN YANG DIPEREBUTKAN

Bung Maman
Karya Bung Maman Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 09 Maret 2017
AKU PEREMPUAN YANG DIPEREBUTKAN

Aku perempuan. Bermimpi apakah aku semalam? Aku mencintai dan dicintai dua lelaki dalam satu kedipan.

Setiap hari aku mendapati ponselku nyala dan bersiul dengan nada lembut. Berbagai macam ucapan bermunculan di layarnya. Aku membacanya. Aku tersenyum bahagia tanpa perlu jauh-jauh memikirkan seberapa tulus mereka menulisnya?

Kata-kata yang penuh pujaan itu membahagiakan. Aku penasaran, bila benar hukum kebaikan dibalas kebaikan, lantas kebaikan atau kebahagiaan apa yang telah aku berikan kepada orang lain selama ini sehingga Tuhan yang maha pemurah telah menghadiahkan aku kebahagiaan yang rutin setiap hari seperti ini. Dua orang lelaki, yang sekali lagi aku tak peduli setulus apa mereka mengirimkannya, mengirimkan kata yang lembut, yang mesra, yang sopan dan meyakinkan.

Kedua-duanya menyediakan berbaris senyum. Aku terhibur. Dan mau tak mau, aku senyum-senyum sendiri. Ah, kata-kata, dengan kekuatannya yang sederhana, sudah bikin aku bahagia atau setengah gila.

Mereka menawan. Aku tertawan: setidaknya aku tak punya banyak kata yang protes melawan kebahagiaan.

Sekali-kali aku membayangkan dari keduanya.

***

Lelaki yang pertama

Aku menjumpainya di sebuah tempat makan yang tak mewah tapi menyenangkan. Kami berempat. Aku, temanku, pacar temanku dan dia.

Sambil menikmati hidangan di meja makan, kami saling bicara. Saking terbawa suasana canda, kadang kami tertawa-tawa. Tapi dia, lelaki yang pandai bercerita, yang sering menguasai pembicaraan diantara kita dan yang sejak detik pertama membuat aku kagum, sering mencuri pandang ke arahku. Kadang tatapan kami berbenturan. Dia tidak pemalu. Dia tersenyum. Aku menunduk menyimpan senyumnya.

Perjumpaan itu singkat. Bahkan terlalu singkat untuk ‘rasa ingin’ yang hendak berlama-lama.

Selang beberapa hari, ponselku bergetar. Nomor baru. Seseorang mengirimku pesan. Dan segera aku mengenal sang pengirim: lelaki yang aku kenal di meja makan. Kami pun segera menjadi akrab, begitu akrab sebagai teman. Dan dalam beberapa kesempatan, kita berjumpa. Berdua.

Dalam kedekatan kami, aku segera mengenal banyak hal darinya: dia pandai merayu, bukan pemalu.

Tapi yang terutama, ia pandai menghiburku dengan lagu. Ia bisa menyanyikan 2-5 lagu hampir tiap hari untukku. Suaranya, yang tinggi, yang menggema indah dan yang memenuhi seluruh pendengaranku, membuat aku selalu rindu.

“Kamu suka musik?”

Aku hanya mengangguk.

“Kenapa?”

“Aku nggak tau”.

“Baiklah, aku juga nggak tau kenapa tiba-tiba suka musik”.

Tangannya yang lincah segera menyentuh dawai demi dawai gitar itu. Dawai gitar itu memanjang melintasi garis-garis pemisah. Aku tak tahu ada berapa garis yang memisahkan. Tapi ia seperti jenjang bunyi: dari satu garis ke garis lain menghasilkan tingkat bunyi yang berbeda. Aku memperhatikannya: titik-titik yang ia tekan terlihat acak. Tapi tiap petikan dengan kombinasi titik-titik tertentu yang ia tekan oleh jari tangan kirinya menghasilkan kombinasi nada yang indah.

“Kamu memperhatikan gitar ini?”

“Aku memperhatikan jarimu yang bergerak dari satu senar ke senar yang lain, dari satu posisi ke posisi lain melampaui garis-garis yang ada itu. Aku mendengar keindahan sebuah bunyi”.

“Perhatikan lagi”.

Ia memainkan lagi. Aku mendengarkan dan menyaksikan lagi: jarinya bergerak lebih cepat.

“Indah”, aku berseru. Dia lalu memandangku dan bilang:

“Gitar, atau mungkin alat musik yang lain, menyatakan satu hal: ia miniatur perbedaan yang indah. Tak kan ada keindahan bunyi tanpa perbedaan jenjang-jenjang nada. Kamu bisa dengarkan bunyi itu, kombinasi nada yang indah, bukan?”

Aku mengangguk. Aku tak mengerti tapi mengagumi. Dan kekaguman yang terus membuat aku mengikuti setiap uraiannya.

“Mau lagu apa?”

 “Nyanyikan sesukamu. Aku akan mendengarkan”, ucapku.

Ia bernyanyi. Kombinasi nada mengiringinya. Dan aku dibuai keindahannya.

***

Lelaki yang kedua

Dia tak pandai bermain gitar. Tangannya gagap untuk sekedar memetik dawai. Caranya gugup untuk sekedar berlagak gitaris. Sekali waktu, ia pernah memaksakan itu. Aku tertawa-tawa. Sungguh lucu.

Ia bisa nyanyi tapi tak sepandai yang pertama. Tapi diam-diam aku suka berteman dengannya. Juga sangat akrab. Ia punya cara menghibur yang manis. Ia seorang yang terlahir dengan keahlian meracik kalimat. Aku sering dibuai oleh cara dia menuliskan kata-kata.

Ia lelaki yang puitis. Aku tak persis tahu arti kata ‘puitis’. Tapi aku menyebut label itu pada siapapun yang pandai meramu kalimat sehingga terdengar seperti sebuah lirik lagu atau kalimat-kalimat puisi.

“Kamu bisa menghibur dua sampai tiga perempuan dengan kata-kata. Dan semuanya hanyalah kata-kata yang gombal, yang kosong. Bagaimana aku bisa yakin denganmu?”, candaku kepadanya suatu kali.

“Meracik kalimat adalah sebuah kesenian. Setiap kesenian mengandung unsur keindahan. Dan keindahan tak lain untuk memberikan hiburan, kadang juga mengandung pendidikan pada jiwa. Apa yang aku lakukan pada mereka sesuatu yang salah?”

Siang itu, dia habis membacakan satu puisi untukku “Lagu Orang Usiran” yang diindonesiakan oleh Chairil Anwar, puisi yang berisi rintihan seorang Yahudi Jerman yang terusir tapi terdengar begitu romantis narasi kalimatnya.

“Apakah kerjaanmu berpuisi untuk menggoda orang-orang?”

“Hahaha, hukuman yang terlampau buru-buru. Puisi itu menggugah. Ia banyak macamnya. Ia bisa menggugah muda-mudi yang sedang dimabuk asmara. Ia bisa menggugah keprihatinan sosial. Ia bisa menggugah perlawanan atas pemerintahan yang dzalim. Bahkan puisi juga bisa menggugah rasa kebangsaan, sentimen dan peperangan untuk merebut kemerdekaan?”.

Aku mendengarkannya. Kini ia menulis lagi sebaris puisi yang katanya untukku:

Bila kamu menanyakan tentang puisi

Sastrawan bisa mengantarkanmu

Tapi bila kau menanyakan cintaku

Aku bisa menunjukkanmu

Ia tersenyum bangga. Aku tersenyum sembari menyimpan sesuatu yang diam-diam: bahagia.

Perempuan mana yang tak suka pada setiap uraian puji yang menawan?

***

Kedua lelaki, yang saling bersahabat itu adalah sahabat-sahabatku. Itu yang aku pikirkan. Setiap hari, mereka membuat duniaku begitu ramai dengan kata-kata yang indah atau nyanyian-nyanyian yang menggugah.

Tapi aku tidak menyadari kebahagiaan itu, pujian-pujian itu, adalah pembuka malapetaka.

Masing-masing mereka menggunakan kata-kata atau nyanyian-nyanyian bukan sekedar membuatku bahagia. Di tangan mereka, semua itu adalah alat. Dan setiap alat hanyalah sekedar alat. Ada tujuan yang hendak dicapai.

Dulu aku begitu lugu. Mereka berdua menawarkan persahabatan. Aku mengiyakan. Mereka berdua menggiring aku pada permainan kata-kata atau nyanyian, aku terbawa. Aku suka dan lama-lama bahagia. Lama-lama seperti sebuah perangkap. Tapi siapa yang sanggup melawan kebahagiaan? Siapa yang sanggup keluar dari kenyamanan yang mereka berikan?

Mereka, sebagai sahabat, mula-mula mendekatiku dengan kata-kata atau nyanyian. Dan aku terbawa. Mereka bergantian menawarkan perjumpaan, basa-basi makan, atau sekedar tongkrongan. Siapa yang bisa menolak saat masing-masing mereka bilang: “ini demi persahabatan”.

Atau, aku menolak dan mereka dengan kompak menghukum aku dengan julukan “sombong”: aku perempuan yang tak cukup kuat pertahanan hati dari setiap hukuman atau godaan julukan sombong: kata yang menusuk daya tahan hatiku.

Atau, aku menolak dengan cara yang halus dengan banyaknya kesibukan yang tak mungkin aku tinggalkan. Mereka justru lebih pandai dan lebih halus dengan menawarkan bantuan. Atau, aku akan tetap bersikeras mencari alasan dan itu hanya akan menunjukkan semakin jelasnya pada diriku bahwa aku memang sekedar menghindarinya. Dan hukuman itu berlipat dua kali.

Aku adalah perempuan yang terlalu peka dengan permainan emosi. Daya tahan emosiku seolah terukur oleh mereka. Mereka tak pernah berhenti berjuang demi aku, demi kesediaanku menemaninya. Dan akhirnya aku memang menjadi teman mereka, ikut undangan-undangan mereka yang bergantian. Dan lama-lama, aku semakin dekat dan semakin susah menolaknya. Dan petaka lain dimulai.

***

Kata-kata yang semula untuk kebahagiaan perlahan mengekang. Kata-kata itu atau nyanyian-nyanyian itu kian hari kian terdengar seperti alunan sendu permohonan atau rayuan yang tak habis-habis menyihir dan meminta hati. Di luar pengetahuan, kedua lelaki itu sedang bersitegang: ketegangan yang diam-diam. Dan aku yang lugu tak berfikir sampai sejauh itu: cinta memicu ketegangan dan perang.

“Drupadi”, temanku pernah bilang, “pernah menjadi sayembara antara Karna dan Arjuna. Mereka bermusuhan bukan saja karena keberpihakan politik Karna kepada Duryudana, atau kebencian Karna pada para Pandawa yang telah menyepelekan soal kastanya yg sudra. Karna juga menyukai Drupadi”.

Aku tertawa. Waktu itu aku tidak percaya. Dan sampai saat ini aku memang belum percaya sampai petaka-petaka ini menjadi bagian dari yang harus aku alami.

Ketegangan itu kini makin menjadi. Mereka saling membangun kata-kata yang hanya bisa dipahami sebagai ketegangan dan perang. Masing-masing mereka menyoroti setiap gerakku. Perlahan aku rasai mereka mulai memberi batas-batas pada gerakku.

Aku rasa kini aku sudah seperti sebongkah barang. Mereka memahkotaiku dengan sedikit kata ‘perempuan yang istimewa’ untuk membenarkan perseteruan mereka merebutku.

Pada puncaknya, mereka membawaku pada dilema untuk memilih. Memilih, kata mereka, akan mengakhiri perang. Tapi aku ragu permusuhan bisa berakhir secepat itu. Dan persahabatan bisa terobati.

***

Aku akan pergi. Tapi biarkan aku menulis sebagai permintaan maaf dan pengakuan kelemahan masing-masing kita.

Semula aku berfikir kita akan sanggup menjalani persahabatan sebagai tiga orang: aku seorang perempuan dan kalian dua orang lelaki. Semula aku berfikir, kita akan sanggup hidup dalam permainan kata-kata atau nyanyian yang bahagia tanpa tenggelam pada jebakan rasa. Aku kira kata-kata sekedar kata-kata dan rasa sekedar rasa tanpa pernah bertautan. Rupanya aku salah: kata-kata yang kalian mainkan bertaut diam-diam dengan rasa dan kita merasakan.

Sementara aku menikmati kebahagiaan yang kalian berikan. Rupanya kalian dalam seteru dan sitegang. Aku mulai merasa menjadi bukan seperti manusia melainkah sebongkah barang yang kalian perebutkan. Dengan sedikit kata yang istimewa: “aku perempuan yang istimewa”, kalian membenarkan perebutan.

Kalian mulai menjadi dua orang lelaki yang menganggap dunia kelelakian, kesatriaan, dan kejantanan dicirikan melalui penaklukan-penaklukan pada perempuan. Dan aku mulai menjadi perempuan yang takluk dan tak dapat keluar dari kutukan kebahagiaan. Aku seolah tak sanggup mengambil keputusan.

Kata-kata dan nyanyian kadang-kadang menjadi alat di dalam dunia lelaki untuk menaklukkan perempuan. Dan aku baru merasakan sampai sejauh ini, sampai persahabatan diam-diam terluka dan kita perlu memulai dari awal untuk memperbaikinya.

 

  • view 113