GARIS WAKTU by FIERSA BESARI

Bunga Asih Pratiwi
Karya Bunga Asih Pratiwi Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 02 Juli 2017
GARIS WAKTU by FIERSA BESARI

  • Dimensi Tentangmu

Kau menjadi seseorang yang memorak-morandakan jagat rayaku. Dengan cara yang termanis, kau memintaku untuk merasakan dan mensyukuri segala hal yang cepat atau lambat akan berakhir.

Izinkanlah aku mengabadikan perjalanan kita, agar aku tidak lupa bahwa suatu ketika diantara perjumpaan dan selamat tinggal, malam pernah dipenuhi senyum, senja pernah menjadi bait puisi, hujan pernah menghantarkan kerinduan, dan tangan kita pernah saling bergandengan.

  • April, tahun pertama

Kau pun pamit undur, menyisakan wangi yang pekat mewarnai udara. Tanpa mau bertanggung jawab, kau tinggalkan aku termabuk sendirian.

Jika kasmaran adalah narkotik, maka kau adalah bandarnya. Dan aku bagaikan pecandu yang rela menggadaikan jiwa demi menatap matamu sekali lagi.

  • Mei, tahun pertama

Sebuah "Hai! Apa kabar?" mampu membuat seseorang gagal move on . Aku mulai intens berbincang denganmu. Setelah "Hai! Apa kabar?", ada "Jangan lupa makan", dan "Selamat tidur". Dan disetiap obrolan kita, aku selalu berusaha mati-matian untuk terfokus pada kata-katamu.

  • Mei, tahun pertama

..., tak usah mengharapkanku menitipkan sesuatu yang belum tentu bisa kau jaga. Meski mungkin, pengharapan darimu hanyalah pengharapan dariku semata. 

Jangan memikat jika kau tak berniat mengikat.

  • Juni, tahun pertama

Lagi-lagi imajinasiku menertawakanku karena selalu berhasil menemuimu. Sementara realitas? Dalam realitas, kita berdua hanyalah dua orang yang berlari.

  • Juni, tahun pertama

Ketika orang lain melakukan sesuatu untuk disukai dan kau melakukan sesuatau karena kau suka, tak perlu meminta mereka untuk mengerti.

Dirimu hanya ada satu di muka bumi ini.

  • Agustus, tahun pertama

Jika aku yang kau rasa menenangkanmu, lantas mengapa ia yang menenangkanmu? Siapa gerangan dirinya? Dari mana datangnya?

Ya... aku mengalah. Aku mengalah karena aku percaya, kalau kau memang untukku, sejauh apapun kakimu membawamu lari, jalan yang kau tempuh hanya akan membawamu kembali padaku.

  • September, tahun pertama

..., aku mampu untuk memandangimu dari kejauhan tanpa berhenti mendoakan. Aku juga mampu menjadi rumah untukmu, menunggumu yang tak tahu arah pulang. Sungguh aku mampu merindukanmu tanpa tahu waktu, tanpa sedikit pun alasan. Untukmu, aku mampu.

  • Oktober, tahun pertama

Aku suka matamu yang cokelat penuh hasrat, membuat melangkah pergi darimu terasa sangat berat.

Biarlah 'apa kabar' menjadi pengganti 'aku rindu'; 'jaga dirimu baik-baik' menjadi pengganti 'aku sayang kamu'; tangannya menjadi pengganti tanganku untuk menuntunmu; pundaknya menjadi pengganti pundakku untukmu bersandar.

  • November, tahun pertama

Aku ingat pertama kali melihatmu. Kau selalu mampu membuatku jujur mengenai segala hal, kecuali satu; perasaanku.

..., kau tahu aku akan tetap menjadi orang yang sama, yang merindukanmu dengan sederhana, mengejarmu dengan wajar, menyayangimu dengan luar biasa, dan menyakitimu dengan mustahil.

  • Desember, tahun pertama

Betapa kau riang setiap kali aku menghiburmu dengan hidung tomat dan wajah bercat putihku. Tawamu lepas, mata cokelatmu berbinar. 

Ketidaktegasan adalah sesuatu yang ada di antara kau dan aku.

 

  • Februari , tahun kedua

Kalau kau sedang rapuh, simpan sejenak hatimu. Biarkanlah 'proses' dalam 'waktu' menyembuhkan. 'Perasaan' memang tidak bisa diburu-buru, tapi juga jangan berlama-lama meratapi seseorang yang tidak bisa menghargaimu. Ketahuilah, beberapa tangan melepaskan genggamannya saat hidupmu bertambah sulit agar tanganmu kosong dan digenggam oleh seseorang yang takkan pernah melepaskanmu.

  • Maret, tahun kedua

Aku pun dengan sukarela menjadi pemeran pengganti untuk meredakan malam-malammu yang muram. Aku yang mendengarkanmu hingga jam satu pagi, adalah aku yang kau nafikan lagi dan lagi. .... Aku ingin kau rindukan, aku ingin kau kejar, aku ingin kau buatkan puisi.

  • Mei, tahun kedua

Aku yakin pikiranku baik-baik saja, duduk manis di kepalaku, berharap tak ada hal buruk yang akan menimpa hatiku. Dan jika sampai hatiku hancur suatu saat nanti, aku tahu pikiranku selalu dapat diandalkan untuk membantunya kembali sembuh.

  • Mei, tahun kedua

Aku tidak mahir mengejar, tapi aku tahu cara menunggumu. Aku tidak mahir berkata-kata, tapi aku tahu cara mendoakanmu. Aku tidak mahir memberi saran, tapi aku tahu cara mendengarkanmu... Tapi, selama aku mampu, mimpi-mimpi kita adalah prioritas.

  • Juni, tahun kedua

Kau bertanya, mengapa harus engkau? Aku tidak pernah punya jawabannya. Aku rasa kita tidak bisa memilih siapa yang patut kita taruh dalam hati kita. Aku bersamamu untuk menuntun, bukan menuntut; menggandeng, bukan menarik paksa; memercayai, bukan mencurigai; membahagiakan, bukan membahayakan.

Jadi, jangan menyerah... jangan hari ini.

  • Juli, tahun kedua

Terima kasih karena telah menuntunku untuk tersenyum ketika beranjak tidur. Jika kata 'sayang' terlalu berlebihan untuk memaparkan apa yang aku rasakan, biarkan aku menjadi seseorang yang menjagamu ketika kau rapuh, dan menarikmu turun ketika kau terlalu angkuh. Akan tetapi, jika kata 'sayang' tidak berlebihan, maka izinkanlah aku mengucap 'aku menyayangimu'. ...tanpa batas waktu.

  • Agustus, tahun kedua

Kata-kata semacam, "Jalani saja dulu," tidak sepatutnya dijadikan landasan untuk mengawali sebuah hubungan. 

Lantas, bagaimana dengan kau dan aku?

  • Agustus, tahun kedua

Bukankah hidup ini sebetulnya mudah? Jika rindu, datangi. Jika cemburu, tenangkan. Jika lapar, makan. Jika mulas, buang air. Jika salah, betulkan. Jika suka, nyatakan. Jika sayang, tunjukkan. Manusianya yang sering kali mempersulit segala sesuatu. Ego mencegah seseorang mengucap "aku membutuhkanmu".

  • Septembertahun kedua

Jadi, untukku calon pendampingku kelak, aku tidak tahu sampai kapan aku bisa jatuh cinta padamu. Tapi aku jamin, aku akan jadi orang yang terbangun disebelahmu dan mengatakan "Hidup akan baik-baik saja selama kita memiliki kita."

  • Septembertahun kedua

Aku akan mendampingimu saat kau sibuk dengan tugas kuliah

Aku akan mendampingimu saat kita mendampingimu saat kita di pelaminan mengikat janji untuk menikah

Aku juga akan mendampingimu ketika kita menjadi bunda dan ayah

Aku akan mendampingimu... hingga napasku berakhir sudah

  • Oktober, tahun kedua

Jika kau dan aku berniat ke arah yang lebih serius, tak benar rasanya membiarkanmu datang hanya untuk melihat-lihat hidupku, tanpa betul-betul mengenal orang-orang hebat yang pertama kali mengajarkanku agar aku bisa menjadi diriku hari ini. Menerimaku, berarti juga menerima keluargaku. Karena keluargaku, kelak akan menjadi keluargamu.

  • November, tahun kedua

..., temani langkahku dalam perjalanan menuju kedewasaan. Tegapkan aku bila aku jatuh. Rundukkan aku saat aku terlampau angkuh.

  • Desember, tahun kedua

Jika kemudian hari aku berpulang, jangan tangisi aku seperti aku menangisi orang-orang yang telah mendahuluiku. Sesungguhnya, aku tidak pernah menyesal telah hidup sejauh ini dan menyentuh hidupmu...

 

  • Januari, tahun ketiga

.... "Setidaknya aku sudah mencoba."

  • Maret, tahun ketiga

Teruntukmu seseorang di kejauhan, tak usah khawatir. Jarak terjauh kita adalah "waktu". Tabungan terindah kita "rindu". Langkah ini akan tertuju padamu;

  • Mei, tahun ketiga

Kau harus sabar menghadapi mood-ku yang naik turun.

  • Juli, tahun ketiga

Aku lupa, ada campur tangan Tuhan dalam gerak-gerikku;

  • Agustus, tahun ketiga

Apakah kau masih merindukanku dan bagian kecil cerita kita? Ataukah hanya aku yang merasakan ini?

..., hal terberat bukanlah saat raga kita berjarak, melainkan saat hati kita berjarak.

  • Agustus, tahun ketiga

Aku menyayangimu segenap-genapnya aku.

Mencintai sesuatu bukan berarti tidak pernah jenuh. Mencintai sesuatu berarti bisa menerima konsekuensi kejenuhan, kemudian lanjut menjalani.

  • September, tahun ketiga

Aku bisa bertahan menunggumu berubah. Aku bisa mengalah menghadapi egomu.

Aku bisa muak dengan perkelahian-perkelahian kita yang terlalu sering, atas apa yang terlalu absurd untuk diungkit. Sampai-sampai, aku tidak tahu lagi alasan kita berkelahi.

  • September, tahun ketiga

Apa kau sadar? Mencari seseorang yang menyukaimu karena kelebihanmu, takkan seselit mempertahankan seseorang yang bertahan karena kekuranganmu. 

Camkan itu sebelum kau memutuskan untuk berkhianat hanya karena dan nafsu sesaat.

  • September, tahun ketiga

Akan ada titik di mana kita merasa tidak tahu lagi harus berbuat apa, harus berkata apa,dan harus bagaimana.

  • September, tahun ketiga

Kumainkan rekaman perihal kita, lagi dan lagi, di kepala yang hampir pecah. 

Kau ingat saat kita saling tersenyum dan berkenalan? Kau ingaat saat kita saling mengkhawatirkan? Kau ingat saat kita dipisahkan jarak? Kau ingat saat kita mencoba bertahan, meski tiada tahu kapan lagi bisa saling menetap? Kau ingat saat kita saling mengingatkan untuk mengingat satu sama lain? Kau ingat saat kita menjadi jarang berbincang? Kau ingat saat kita semakin menghilang?

Aku marah, bukan berarti tak peduli. Aku diam, bukan berarti tak memperhatikan. Aku hilang, bukan berarti tak ingin dicari.

  • Oktober,  tahun ketiga

Bukankah semua pertemuan akan menemui perpisahannya masing-masing?

Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya kau ingin melompat mundur pada titik-titik kenangan tertentu. Namun tiada guna, garis waktu takkan memperlambat gerakannya barang sedetik pun. Ia hanya mampu maju, dan terus maju. Dan mau tidak mau, kita harus ikut terseret dalam alurnya.

  • Oktober, tahun ketiga

Ketidakpastian ini harus segera dipastikan.

...tidak semua perjuangan berakhir dengan kemenangan.

  • Oktober, tahun ketiga

Kita pernah menyenangkan, pernah punya impian bersama, pernah punya cerita. Apa yang pernah kita punya sangat berharga, dan tidak ada yang bisa mengubah itu. Maaf. Aku pergi

  • Desember, tahun ketiga

Perkenalkan, namanya adalah “Kenangan”.

Tuhan mengirimkan dua wajah untuk Kenangan; memang kodratnya seperti itu. Wajah cantiknya untuk membantu kita menghargai apa yang pernah kita punya, dan wajah buruknya untuk membantu kita menghargai kehidupan.

  • Januari, tahun keempat

Setelah musnah, apa yang akan kita lakukan? Kita selalu punya dua pilihan: memperbaiki, atau mengganti dengan yang baru. Sebisa mungkin, perbaiki hal yang rusak. Namun, jika sudah mentok, tak perlu dipaksa. Beberapa hal memang lebih baik direlakan untuk berakhir dan dihargai kenangannya

  • Januari, tahun keempat

Aku ingin kembali menjadi anak kecil, di mana segalanya begitu sederhana. Berkelahi karena main petak umpet, bukan karena perasaan. Yang diperebutkan adalah mobilmobilan, pukan pacar orang lain. Yang dikoleksi adalah robot-robotan, bukan mantan kekasih. Bersedih karena putus benang layangan, bukan karena putus cinta.

  • Maret, tahun keempat

Bukankah punya pasangan juga tidak menjamin seseorang menjadi bahagia?

...nikmatilah saat-saat sendiri. Berkomitmenlah saat sudah ada kesiapan, bukan karena alasan kesepian. Ingat saja bahwa akan ada saatnya seseorang yang punya pacar putus, akan ada saatnya seseorang yang kuat menjadi rapuh, akan ada saatnya seseorang yang berpasangan menjadi jomblo, dan akan ada saatnya juga seseorang yang jomblo mempunyai pasangan.

Bukankah hidup ini serangkain repitisi? Lantas, haruskah kita takut jatuh hati karena pengalaman patah hati?

  • Juli, tahun keempat

“Rasa” adalah anomali yang tidak bisa diprediksi. “Rasa” bisa datang dan pergi kapan pun dia mau. “Rasa” bukanlah sesuatu yang porsinya harus sama. Kadang, “Rasa” yang kau beri tidak berbanding lurus dengan “Rasa” yang kau terima.

  • Oktober, tahun keempat

Semoga ini hanya bunga tidur.

Kalau saja aku tahu waktu itu adalah kali terakhir aku melihatmu, aku akan mengucapkan hal yang lebih baik.

  • Oktober, tahun keempat

...seseorang tidak pernah benar-benar pergi selama kita masih menyimpannya di dalam hati.

Cinta takkan pernah habis meski wujud telah habis.

  • Desember, tahun keempat

Karena, sahabat bukanlah ia yang bermanis-manis di hadapan kita. Ia adalah seseorang yang berkata jujur, seburuk apa pun kenyataan, agar kita tidak lupa diri.

Jabat erat, tepuk pundak, melangkah bersama.

  • Desember, tahun keempat

Wajar saja kalau aku mengingatmu sewaktu-waktu. Kau adalah seseorang yang pernah kukejar mati-matian, sebelum membuat jiwaku mati sungguhan.

Adalah gengsi yang membuatku tidak mau menyapamu. Mungkin kau pun sama; bertahan di tepian keangkuhan, tak mau jadi orang pertama yang mengucap salam.

  • Maret, tahun kelima

Pada suatu ketika, jagat raya mempertemukan kita dengan caranya yang sederhana. Pada suatu ketika, pula, jagat raya memisahkan kita dengan caranya yang luar biasa. Setelah melalui proses yang panjang, aku bahagia akhirnya kita dapat dipertemukan kembali.

  • Maret, tahun kelima

Aku masih bercengkerama dengan kesendirian ketika hujan mengajakku kembali pada episode terindah dalam hidupku. Ia menggiringku untuk mengenangmu dengan khidmat.

  • Dimensi Setelah Mengikhlaskanmu

Terima kasih banyak.

Cinta bukan melepas, tapi merelakan. Bukan memaksa, tapi memperjuangkan. Bukan menyerah, tapi mengikhlas. Bukan merantai, tapi memberi sayap

 

 

 NB : Kalimat per kalimat diatas diambil dari penggalan cerita buku "Garis Waktu" karya Fiersa Besari

  • view 360