Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Kisah Inspiratif 4 Maret 2016   11:40 WIB
Sebutir Benih...

Kami dibesarkan dengan empati yang luarbiasa terhadap orang lain dan lingkungan. Kami bertiga : saya, kakak perempuan, dan kakak laki-laki saya. Dari yang bisa saya ingat, Papa dan Mama menanamkan benih kasih sayang itu sejak kami kecil.

Rumah kami mulai dulu selalu saja ramai penghuni. Saya ingat, di Belawan dulu, ada tiga orang keponakan Papa yang ikut tinggal di rumah. Begitu lulus SMA, mereka dititipkan ke Papa, untuk dicarikan pekerjaan. Dan ketika sudah bekerja pun mereka tetap tinggal di rumah. Hingga masing-masing menikah dan berkeluarga.

Almarhum Mama, adalah seorang yang supel. Teman Mama banyak. Mama pun sangat aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial, dan hobi berorganisasi. Barangkali itu yang membuat kami bertiga menjadi orang yang 'tidak pernah bisa diam'. Aktif disana sini, tak jarang sampai kelimpungan sendiri membagi waktu. Seingatku, di tempat manapun Mama pernah singgah dan berinteraksi, tidak ada seorangpun yang tidak mengingat Mama. Mulai dari level ibu pejabat sampai dengan sekuriti.

Mama selalu melibatkan banyak orang dalam kesehariannya. Sekedar minta tolong dibelikan nasi bungkus, membeli obat ke apotik, hal-hal remeh yang sebenarnya bisa Mama kerjakan sendiri. Sempat dulu aku berfikir Mama bossy :) Namun, setelah beranjak dewasa dan memahami nilai-nilai dalam hidup, akupun mengerti bahwa tujuan utama Mama hanya satu : agar orang-orang itu bisa mendapat pemasukan tambahan. Terbukti, sosok Mama is definitely unforgettable, bagi semua orang.

Saat Mama wafat tahun lalu, tamu tak henti-hentinya berdatangan untuk takziah. Banyak yang mengkhususkan diri untuk datang padahal mereka tinggal di luar Pulau Jawa. Bahkan orang-orang yang luput kami kabari pun, satu persatu muncul tanpa kami tahu darimana mereka mendengar kabar duka tersebut. Mulai dari tukang urut, mantan pembantu rumah tangga zaman baheula, penjaga toko, para tetangga dan ibu-ibu majelis ta'lim di lingkungan rumah lama di bilangan Cilincing, Jakarta Utara. Semua melepas Mama dengan penuh cinta.?

Sedangkan sosok Papa, adalah salah satu manusia paling inspiratif dalam hidupku. Papa lah yang berperan menanamkan dengan kuat rasa welas asih terhadap sesama. Dengan cara yang tidak pernah bisa terlupakan :)

Aku ingat Papa seringkali mengajak kami pergi berjalan kaki ke tempat-tempat yang lokasinya cukup jauh dari rumah. Sangat menantang untuk anak-anak belia seusia kami. Hijrah ke Jakarta setelah bertugas hampir 10 tahun di Belawan, Sumatera Utara. Kami lalu tinggal di salah satu kawasan yang sama sekali tidak bisa dibilang elit. Padahal saat itu Papa menjabat sebagai direktur sebuah rumah sakit BUMN. Mobil kami saat itu adalah sedan Honda keluaran lama. Nyaris antik :)

Akhir pekan paling asyik buat kami, adalah saat Papa membangunkan kami subuh-subuh, untuk mengejar mobil omprengan (mobil los bak yang bagian belakangnya dibikin jadi semacam bemo), yang jam operasinya sudah harus selesai sebelum matahari naik sepenggalah. "Pake sendal jelek aja." kata Papa. Menaiki omprengan, kami berkelana ke kawasan persawahan di daerah Marunda. Saat itu kami memang memiliki beberapa petak lahan sawah disana. Nyemplung sepuasnya di sawah. Tanpa alas kaki :) Menangkap belut, mandi lumpur, dan hal-hal luarbiasa lain yang membuat kami norak bukan kepalang. Lalu kami pulang saat matahari mulai hangat. Dengan baju kumal penuh lumpur, dan bertelanjang kaki. Beruntung bila masih ada mobil omprengan yang lewat. Bila tidak, ya naik angkot diiringi tatapan geli penumpang lain. Malu? Udah putus urat malunya. Yang ada hanya rasa gembira di hati.

Hal yang tak kalah asyiknya adalah saat bulan Ramadhan tiba. Papa selalu punya kebiasaan, setiap menjelang sepuluh hari terakhir Ramadhan, mengajak kami berbelanja ke supermarket grosir, untuk membuat paket-paket sembako sederhana. Paket-paket itu kami bagikan kepada orang-orang yang berhak. Bukan dengan cara diundang ke rumah. Tapi kami yang harus hunting.

Di malam hari :) Setelah sholat tarawih, kami bersiap, dan mulai bergerilya dari jam 10 malam. Prinsip Papa unik perihal mustahik. Papa berpandangan, bahwa orang-orang yang masih bekerja mencari nafkah hingga tengah malam, di hari-hari terakhir bulan Ramadhan, adalah mereka yang pasti sangat membutuhkan uluran tangan. Mereka tidak meminta-minta sumbangan, mengharap-harap bantuan, melainkan menjaga kemuliaan diri dengan tetap bekerja keras. Walau harus begadang semalaman. Mereka lah orang-orang yang kekurangan, namun tidak pernah mau berhenti berusaha. Papa berkata, mereka lah orang-orang yang sebenarnya punya keyakinan paling tinggi perihal rezeki. Sebuah konsep yang melekat erat di kepala saya. Sampai sekarang.

Tak banyak paket yang kami bagikan. Namun lebih dari cukup untuk membuat kami tidur lelap dengan senyum merekah di bibir dan di dalam hati. Kenikmatan yang tak mungkin bisa terlukis dengan kata-kata.

Pengalaman masa kecil itu lah, yang pada akhirnya menjadi semacam candu bagi kami. Ada rasa ketagihan setiap kali memandang wajah-wajah penuh rasa syukur. Ada kepuasan manakala satu kesulitan kita lepaskan. Ada kenyamanan setiapkali mengangkat satu beban dari pundak orang lain.?

"Jangan jadi manusia yang tangannya sering di bawah. Jadilah manusia yang tangannya selalu berada diatas. Dan ketika tangan kananmu memberi, jangan sampai tangan kirimu mengetahui." That's what my father always said :)

Ma...Pa... Jazakumullah khairan katsira. Barakallaahu fiikum.

Benih kebaikan yang telah kalian tanam, dan tumbuhkan dengan darah, peluh, dan airmata, kini tumbuh subur bak pohon rindang di hati kami. Tak henti-henti kami mendoakan surga bagi kalian. Semoga kelak Allah persatukan kita semua dalam jannah-Nya.?

?

Sekelumit rindu dari putri terkasih untuk almarhumah Mama, sebait cinta untuk Papa.

Sukatani, 4 Maret 2016

Karya : Yudith Rachma Fadhil