Surat Cinta dari Iberia

Budi mch.
Karya Budi mch. Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 07 Februari 2016
Surat Cinta dari Iberia

Ghuadzalit. 29 Ramadhan Tahun 92

Untuk Saidah

Betapa sesungguhnya engkau harus bergembira wahai Saidah, Ramadhan ini adalah sebuah berkah bagi negeri dan agama kita. Kiranya kau dan seluruh penduduk Rabat sudah mendengar kabar bahwa pasukan kami hampir berhasil menaklukan semenanjung Iberia. Aku kira bukan hanya kau dan seluruh Rabat yang senang, namun juga seluruh saudara Muslim pastinya sedang bersuka-cita.

Sesungguhnya ketika aku hendak berangkat menuju Ceuta, malam itu aku sangat berat hati meninggalkan mu Saidah. Namun sungguh aku hanya bisa berserah dan menitipkanmu pada Allah Ta?ala. Sekalipun kau melepas kepergianku dengan senyuman, sungguh kala itu aku hanya berusaha menahan keharuan, supaya senyuman mu tetap dapat ku lihat hingga aku berpaling untuk pergi. Ada banyak cerita yang sangat ingin aku sampaikan padamu Saidah. Tadinya aku berencana menceritaknya langsung padamu. Namun karena sesuatu hal, maka aku hanya bisa menitipkan sepucuk surat ini kepada seseorang, untuk dia sampaikan kepadamu.

Tahukah kau Saidah? Aku sempat gentar ketika menyebrangi selat Iberia. Tiba-tiba Jenderal Thariq bin Ziyad menyuruh perahu kami memutar arah ke sebuah teluk di timur Algharitsas. Menuju sebuah tempat yang kami berinama Jabal Al-Fatah, sebuah bukit karang yang tinggi. Beliau juga menyuruh kami membakar perahu kami. Sungguh membuatku sangat keheranan, namun aku akhirnya mengerti, kami harus membakar perahu-perahu itu, supaya kami tidak punya pilihan, supaya kami tidak bisa kembali ke Ceuta, supaya kami segera memenuhi panggilan berjihad dijalan Allah. Sungguh Beliau adalah seorang jenderal yang bisa membangkitkan semangat juang kami. Sampai saat ini sudah dua kota yang kami taklukan Saidah. Semoga Allah membukakan kembali kota-kota berikutnya sampai semenanjung Iberia ini berada dibawah kekuasaan kaum Muslimin.

Selama di Iberia ini aku berkenalan dengan seorang saudara, dia sangat baik dan banyak menolongku Saidah. Namanya Akmal bin Zubair, dia orang Marrakesh, namun kedua orang tuanya berasal dari Damaskus. Seperti kita Saidah, sewaktu kecil keluarganya pindah ke Maroko. Seandainya saja kedua orang tua kita masih ada, mungkin saja mereka mengenal orang tua Akmal. Ketahuilah Saidah dia pemuda yang sangat baik, gagah dan shaleh, dia banyak menolongku. Termasuk menolongku untuk menjaga hartaku yang paling berharga.

Satu hal penting yang harus engkau ketahui wahai adikku. Dalam peperangan di Ghuadzalit, aku terkena sebuah busur panah dari tentara Visighot, kini keadaanku cukup parah Saidah, ?Aku telah kepayahan. Aku merasa Waktuku didunia ini tidak akan lama lagi. Maafkan aku Saidah, aku tidak bisa menjagamu lebih lama lagi. Namun pada hari yang sama ketika aku menulis surat ini, aku telah menyerahkan tanggung jawabku kepada sahabatku. Aku sebagai wali mu Saidah, meminta Akmal untuk mau menjadi suami mu. Aku menjelaskan dan menggambarkan seperti apa engkau apa adanya, tanpa ku tutup-tutupi, dan dia bersedia kunikahkan dengan engkau wahai Saidah Binti Khatibi.

Ketika kau membaca surat ini mungkin aku sudah pergi sebagai seorang syuhada yang syahid di medan perang. Kau pernah berkata mengenai urusan jodohmu kau serahkan pada ku bukan? Kalau begitu aku kirimkan sepucuk surat cintaku ini bersama seorang lelaki yang kelak akan menjadi cintamu. Aku telah berwasiat pada Akmal agar dia yang mengantarkan surat ini langsung ketanganmu. Jadi Lelaki yang ada bersamamu sekarang, dia adalah muhrim mu, dialah imam mu sekarang Saidah. Binalah rumah tangga dengannya! Kelak ceritakanlah pada putra-putrimu bahwa pamannya adalah seorang syuhada yang gagah berani. Maafkan Aku Saidah, aku tidak pulang, ku cukupkan kepulanganku hanya dalam surat ini. Jangan menangis Saidah! Tersenyumlah seperti saat kau melepasku pergi ke Ceuta.

Dari yang selalu mencintaimu,

Said bin Khatibi

  • view 210