KurinduITD - Meredam Diskriminasi Antar Umat Beragama di Indonesia Dengan 3M

budi setiawan
Karya budi setiawan Kategori Agama
dipublikasikan 20 November 2016
KurinduITD - Meredam Diskriminasi Antar Umat Beragama di Indonesia Dengan 3M

 

Kerukunan Umat Beragama di Indonesia 

Kerukunan umat beragama di Indonesia adalah kunci terbentuknya persatuan dan kesatuan bangsa dan negara. Kerukunan umat beragama akan tercipta apabila adanya toleransi dalam kehidupan beragama untuk mencapai sebuah kesejahteraan hidup. Toleransi adalah sikap saling pengertian dan menghargai tanpa adanya diskriminasi dalam hal apapun, khususnya dalam masalah kehidupan beragama.

Seperti yang kita ketahui, Indonesia memiliki keberagaman yang begitu banyak. Tidak hanya masalah adat istiadat atau budaya seni, tetapi juga termasuk agama. Walau mayoritas penduduk Indonesia memeluk agama Islam, ada beberapa agama lain yang juga dianut di negeri tercinta ini. Kristen, Khatolik, Hindu, Buddha dan Kong Hu Chu contoh agama yang banyak dipeluk oleh warga negara Indonesia.

Setiap agama tentu mempunyai aturan masing-masing dalam beribadah. Namun, perbedaan ini bukanlah alasan untuk kita berpecah belah. Sebagai satu saudara dalam tanah air yang sama, kita harus menjaga kerukunan umat beragama di Indonesia agar negara ini tetap menjadi satu kesatuan yang utuh.

Kemajemukan Bangsa Indonesia yang terdiri atas puluhan etnis, budaya, suku, dan agama. Membutuhkan konsep yang memungkinkan terciptanya masyarakat yang damai dan rukun. Dipungkiri atau tidak, perbedaan sangat beresiko pada kecenderungan konflik. Terutama di picu oleh pihak-pihak yang menginginkan kekacauan di masyarakat. 

Belakangan ini adanya kasus-kasus yang menunjukkan gejala intoleransi atas nama agama dan keyakinan kembali menguat di Indonesia. Berangkat dari insiden terbakarnya masjid di Tolikara yang menimbulkan reaksi keras umat islam. Menyusul kemudian peristiwa pembakaran dua gereja serta pembongkaran paksa puluhan geraja di Aceh Singkil. 

Ini menunjukkan bahwa nilai-nilai toleransi beragama di Indonesia yang terkenal dengan sangat ramah semakin memudar. Sehingga menyebabkan gesekan-gesekan sosial keagamaan akibat sikap merasa benar sendiri dan mementingkan kepentingan diri sendiri. Kebebasan dalam demokrasi tidak diinterprestasikan secara utuh sehingga menyebabkan sikap anarkis yang menjadi sikap sosial. Jangan sampai kata KURINDU INDONESIA TANPA DISKRIMINASI terlontar kembali dari hati sanubari Ibu Pertiwi. 

Pemerintah sendiri telah menyadari akan adanya konflik antar umat beragama. Berbagai kebijakan pemerintah telah diterbitkan untuk memperbaiki keadaan. Berbagai rambu peraturan telah disahkan agar meminimalisir bentrokan-bentrokan kepentingan antar umat beragama. Jargon yang dikampanyekan oleh pemerintah yang dikenal dengan sebutan Tri Kerukunan, meliputi kerukunan intern umat beragama, kerukunan antar umat beragama, serta kerukunan antara umat beragama dan Pemerintah. Diharapkan mampu menjadi inspirasi untuk mewujudkan kebersamaan dalam berbagai perbedaan. Jangan sampai terjadi pengekangan atau pengurangan hak manusia dalam menjalankan kewajiban dan ajaran agama yang diyakininya.

Pancasila Sebagai Pedoman Hidup

Fungsi agama yang telah bergeser dari sebagai pembawa misi suci dalam mengatur hidup manusia menjadi harmonis kini menjelma kekerasan antar sesama. Nilai-nilai toleransi antar umat beragama tidak lagi dijadikan pedoman bertingkah laku dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Saat nilai toleransi dan kerukunan antar sesama tidak dikedepankan dalam suatu tindakan, maka yang terjadi adalah konflik sosial-keagamaan serta disintergrasi Bangsa Indonesia. 

Dalam pembukaaan UUD 1945 pasal 29 ayat 2 telah disebutkan bahwa "Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya sendiri-sendiri dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya" Sehigga kita sebagai warga Negara sudah sewajarnya saling menghormati antar hak dan kewajiban yang ada diantara kita demi menjaga keutuhan Negara dan menjunjung tinggi sikap saling toleransi antar umat beragama. 

Upaya dalam merajut rasa toleransi beragama dan rasa persaudaraan serta perdamaian antar pemeluk agama yang lain tidak cukup hanya dengan faktor nilai-nilai agama saja, tetapi juga dibutuhkan nilai-nilai Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 1945 sebagai empat pilar kebangsaan sebagai upaya menghindari aksi kekerasan atas nama agama. Pancasila sebagai pedoman hidup berbangsa dan bernegara tentunya harus dijadikan pijakan oleh umat beragama di Indonesia dalam setiap bertindak dan berbuat di antara sesama manusia. 

Tiga Jurus Dalam Meredam Diskriminasi Antar Umat Beragama di Indonesia

Pluralitas agama hanya dapat dicapai seandainya masing-masing kelompok bersikap lapang dada satu sama lain. Dengan Atas Nama Cinta sikap lapang dada dalam kehidupan beragama akan memiliki makna bagi kemajuan dan kehidupan masyarakat plural Indonesia. Berikut ini tiga jurus dalam meredam diskriminasi antar umat beragama di Indonesia:

  1. Sikap saling mempercayai atas itikad baik golongan agama lain.
  2. Sikap saling menghormati hak orang lain yang menganut ajaran agamanya.
  3. Sikap saling menahan diri terhadap ajaran, keyakinan dan kebiasan kelompok agama lain yang berbeda, yang mungkin berlawanan dengan ajaran, keyakinan dan kebiasaan sendiri. 

Contoh Toleransi antarumat beragama antara pemeluk Agama Islam dan Kristen di Gereja Kristen Jawa (GKJ) Joyodiningratan dan Masjid Al Hikmah, Serengan, Kota Solo, Jateng. yang tercipta sejak dahulu menjadi bukti bahwa perbedaan dan keyakinan tidak menyurutkan semangat pemeluk Kristen dan Islam setempat untuk saling menjaga kerukunan, menghormati dan mengembangkan sikap toleransi. Bangunan Masjid Al Hikmah didirikan pada tahun 1947 sedangkan GKJ Joyodingratan didirikan 10 tahun sebelumnya atau sekitar 1937. namun Toleransi antarumat beragama telah tercipta sejak lama disini. 

Misalnya, saat pelaksanaan Idul Fitri yang jatuh pada Minggu. Pengelola gereja langsung menelepon pengurus masjid untuk menanyakan soal kepastian perayaan Idul Fitri. Kemudian pengurus gereja merubah jadwal ibadah paginya pada Minggu menjadi siang hari, agar tidak mengganggu umat Islam yang sedang menjalankan shalat Idul Fitri. Contoh lainnya adalah pengurus masjid selalu membolehkan halaman Masjid untuk parkir kendaraan bagi umat kristiani GKJ Joyoningratan saat ibadah Paskah maupun Natal.

Hal tersebut merupakan contoh kecil toleransi antar umat beragama yang hingga saat ini terus dipelihara. Baik pihak gereja maupun Pihak masjid, saling menghargai dan memberikan kesempatan untuk menjalankan ibadah dengan khusyuk dan lancar bagi masih-masing pemeluknya. seandainya terdapat oknum tertentu yang akan mengusik kerukunan antar umat beragama di tempat tersebut, baik pihak masjid maupun gereja akan bergabung untuk mencegahnya (sumber:markijar.com). 

Berdasarkan uraian diatas, maka dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa nilai pluralisme yang dimiliki Bangsa Indonesia hendaknya harus selalu kita jaga dengan berpegang teguh pada Pancasila sebagai pedoman hidup dan melaksanakan tiga jurus dalam meredam diskriminasi antar umat beragama di Indonesia, yaitu sikap saling mempercayai, saling menghargai, dan saling menahan diri, guna menjaga kerukunan antar umat beragama di Indonesia supaya NKRI tetap utuh dari segala macam bentuk perpecahan. Kemajemukan yang dimiliki juga harus dipandang sebagai kekayaan sosial-budaya yang mempererat rasa kekeluargaan dan persaudaraan. 

Peran pemerintah dan rakyat Indonesia bersama-sama kita aktif merevolusi hati, saling menghargai perbedaan dengan memperhatikan Tri Kerukunan antar umat beragama di tengah kemajemukan, sehingga Menjadi Indonesia Tanpa Diskriminasi seperti karya Denny JA bukanlah mimpi belaka dan “Bhineka Tunggal Ika,” seperti yang termaklumat dalam pancasila sebagai ideologi Bangsa Indonesia dapat benar-benar terwujud. Semoga.

 

  • view 469