Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Filsafat 2 Juli 2018   05:20 WIB
Surabaya Trauma

Aku pernah menjadi keluarga pasien di sebuah RSUD di Surabaya, Soetomo. Adalah Ibu, dan menurutku itu bukanlah pengalaman yang mengenakkan. Sejak saat itu setiap mendengar Surabaya yang terlintas dalam benakku adalah Rumah Sakit dan segala tetek bengek lingkungannya. Tapi aku harus ke Surabaya, aku harus di Surabaya untuk beberapa waktu mendatang karena ada agenda disana. Barangkali Tuhan sedang mencoba menyembuhkan trauma dengan melatih sedemikian, sedikit-sedikit terpapar kontak dengan zat alergen, Surabaya. Dengan begini, dengan cara seperti ini, kelak kau akan biasa saja. Kau akan baik-baik saja saat mendengar Surabaya. Aku mencoba, ‘ini hanya Surabaya’ pikirku. Dan ini yang aku alami, setiap hendak berangkat balik ke Surabaya, aku tegang. Saat melihat bis jurusan Surabaya dan aku naik, jantungku takikardi, segala uratku tegang dan aku perlu pegangan. Jadi aku akan meraih apa saja yang ada dan bisa disentuh. Terkadang aku mengenggam tanganku, meremas lengan jaket atau tas ransel yang ku pangku, kadang juga pegangan yang ada di angkutan itu. Lalu dadaku penuh, aku sesak, mataku panas dan tiba-tiba aku menangis. Kutarik nafas panjang, ku hirup sebanyak-banyaknya udara. Semoga semua baik-baik saja, sampai di terminal Surabaya, lanjut ke angkot WK turun di Soetomo dan selalu seperti itu. Rasa-rasanya tak ada akses lain, bis dan angkot siap menguliti setiap perjalananku. Seminggu, sebulan, satu tahun, perjalanan pulang-pergi ke Surabaya tidaklah berubah.  

Memasuki tahun ketiga menunjukkan prognosa yang tak lebih baik. Hal yang lebih nyata terasa, nyeri menjalar ke sebagian kepala, seperti migrain dan terkadang mual sampai ingin muntah, seketika tubuhku kehilangan daya. Susah payah bahkan hanya untuk menegakkan kepala,  itu yang selalu aku alami saat baru menginjakkan kaki di Surabaya, melihat Soetomo di hadapanku. Dan ketidakmampuanku mengungkapkan akan menambah keterpurukan itu. Lagipula siapa yang akan mengerti dengan ‘serangan panik’ semacam ini.

Tuhan, mungkin kelak akan ada masa dimana Surabaya bukanlah hal besar, Surabaya tidak apa-apa, tapi itu nanti di waktu yang bahkan belum diketahui. Lalu, bagaimana dengan sekarang? Waktu ini? Baiklah, akan kurelakan. Maaf, untuk Surabaya tidak bisa, aku trauma.

#berkemas

Karya : alivia sasa