Seberkas Kesulitan dalam Menu Makanan

alivia sasa
Karya alivia sasa Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 27 Juni 2018
Seberkas Kesulitan dalam Menu Makanan

Aku kerap kesulitan jika ditanya tentang rasa. Entah itu perasaan, makanan ataupun lainnya. ‘Bagaimana rasanya?’ adalah pertanyaan yang menurutku janggal. Dalam segala hal yang aku lakukan hanya menghadapi, mengalami kemudian melaluinya. Aku tak sempat mengidentifikasi atau menerka-nerka perasaan apa yang seharusnya ada dan turut dalam sebuah peristiwa. Jadi aku selalu mengabaikannya, perasaan itu.  Aku tak pernah menanyakan pada diriku apakah ia baik-baik saja? Apakah tidak apa-apa? Suatu pagi, saat aku bergegas memulai aktivitas sebuah pesan masuk,

“hei wanita kuat, selamat pagi”

Pesan itu (aku masih ingat) dikirim oleh Galih. Dan demi satu ungkapan itu aku rela jatuh cinta. Mungkin karena dia ‘si perasaan’ merasa bahwa ada seseorang yang mampu melihat dirinya bahkan melebihi aku, si pemilik.

 

Bayangan itu kembali mengusik tepat saat aku menyelesaikan makananku. Saat itu jam makan siang, seorang teman merekomendasikan warung di pinggiran jalan dengan menu ala mahasiswa ‘rasa bintang lima, harga kaki lima’, aku mah ayo aja. Setelah selesai ia antusias bertanya, “bagaimana rasanya?”. Saat memutuskan untuk makan itu artinya aku sedang lapar dan perasaan yang mengikuti sesudahnya pastilah kenyang.

Air mineral di depanku ke teguk habis, kemudian mengambil tisu yang telah disediakan dan membersihkan mulut lalu membuang di piring kosong bekas tempat makan yang lebih terlihat seperti habis di lap, tak menyisakan satu butir nasi pun. Temanku memasang ekspresi tegang demi mendengar jawabanku, ia kembali mengulang.

“bagaimana rasanya?”

“kenyang” sambil nyengir kuda kepersembahkan senyuman terbaik untuknya.

 

Barangkali yang sedikit lebih penting sebelum orang lain adalah diri sendiri. Hai diriku, apa kabar? Bagaimana hari ini? Apa kau baik-baik? Apa tidak apa jika seperti ini?

  • view 34