Aib

alivia sasa
Karya alivia sasa Kategori Filsafat
dipublikasikan 24 Juni 2018
Aib

Aku bisu dan tuli, maka jangan dekati. Bauku busuk menyengat dan aku suka bersembunyi. Tapi sesungguhnhya aku benci sekali pada rahasia. Maka sebarkanlah, kabarkan pada khalayak. Sekeras apapun teriakan dan tumpukan gunjingan tak jadi soal. Karena aku bisu dan tuli, maka jangan dekati...

 

Aku bisu dan tuli, maka bicaralah atau diam. Seterang apapun kau menjelaskan sebuah pemahaman, aku hanya akan melihatmu dari dua mata. Mulut yang terbuka atau gerakan  terkunci, sama saja. Sepanjang apa kau bercerita, akulah yang akan mereka-reka akhirnya. Tentu saja tanpa ucapan, apalagi mendengarkan. Sering aku melihat kaki-kaki berlari, mulutnya menguap dan tangan yang mengacungkan jari dalam sebuah pagelaran, pertunjukkan dari tiap-tiap kecaman. Entah berapa lama, mereka terus saja menggerakkan organnya dan tetap, akulah si pengarang cerita yang akan menentukan akhirnya. Jangankan perbincangan, bahkan aku tak bisa mendengarkan ucapanku sendiri. Karena aku bisu dan tuli, maka bicaralah atau diam...

 

Aku bisu dan tuli, maka hanya penglihatan dan perasaan. Setiap hari yang aku lakukan adalah memerankan sebuah adegan untuk menutupi borok yang makin menjadi, agar tak terembus. Tapi jika luka itu tak lagi mampu sembunyi, cari aku lalu caci maki. Injak-injak saja. Aku tak akan membalasmu. Aku hanya bisa merasakan tragedi dari rintik, gerimis, hujan, halilintar dan melihat pelangi setelahnya. Tanpa tahu untuk apa merasakan itu, aku hanya melihatnya saja, lalu melipatnya rapi. Dengar! Dengarkan aku!! Tak ada satupun yang percaya padaku,maka jangan pendam. Ceritakan sesukamu atau bertingkah dengan menanggalkan otak. Apapun yang kau muntahkan tak mampu aku kembalikan apalagi sebarkan sebagai noktah. Akulah doa yang membangunkanmu menjelang pagi tapi selalu kau pungkiri. Aku tak mungkin menghabisimu dengan memaki diriku. Dan karena doa tak mampu menjaga, kututup kau dengan mantra-mantra, agar mulut dan telingamu benar-benar tak bisa berbuat apa-apa. Sudahlah aku bisu dan tuli, yang bisa aku lakukan hanya melihat, lalu merasakan...

 

Aku bisu dan tuli, maka jangan sampai kebocoran terjadi. Setiap malam, menjelang pergantiannya aku meritualkan aji-aji untuk menguatkan ucapan dan pendengaran agar terus keliru. Agar aku tak benar melihat, tak benar merasakan. Setiap kali hendak terucap, mulutku segera merapat lalu telinga mengunci kami menjadi bisu dan tuli. Haha....akulah bisu dan tuli, maka segala yang terjadi jangan dipungkiri...

 

Aku bisu dan tuli, sampai mati.

Oh ya, panggil saja aku Aib.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  • view 24