Memupuk Kesedihan

alivia sasa
Karya alivia sasa Kategori Filsafat
dipublikasikan 22 Juni 2018
Memupuk Kesedihan

Bolehkan jika itu kesedihan? Bolehkan berbagi kisah sedih? Maaf jika tidak sama, aku bukan kisah bahagia atau semacam hal-hal inspiratif yang bisa dibagi. Meski ‘mengalami’ tak pernah sama dengan ‘merasakan’ tapi tetap saja aku ingin berbagi, agar kalian bisa mengerti atau paling tidak sedikit memahami.

Aku adalah kesedihan.

Aku pikir, tak ada satu pun orang yang terlahir sebagai kesedihan. Jadi kumasukkan kesedihan dalam kategori ‘sulit’ yang dalam Al-Insyirah menjadi satu fase kehidupan, aku hanya perlu melaluinya saja, karena bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sehingga yang kulakukan tiap malam adalah mengumpulkan seluruh kesedihan, mengikatnya erat, membungkus pada sebuah kotak, rapat, menghias dengan pita lalu menyimpan di bawah kolong, begitu seterusnya dengan anggapan ‘ini hanyalah satu fase, karena hanya satu dari seluruh kehidupan pastilah hanya menjadi bagian kecil, teramat kecil malah’. Jadi tiap malam sebelum berpindah alam aku terus melakukan kegiatan itu, mengemasi kesedihanku. Mula-mula aku menaruh di bawah kolong, kemudian di lemari, saat lemari penuh aku mulai menata di atas ranjang sehingga tiap malam aku tidur berjubel dengan kotak kesedihan. Semakin lama ruanganku makin penuh, tak terasa tujuh tahun berlalu. Aku berkutat dengan kesedihan-kesedihan itu. Kini bahkan tak tersisa tempat berbaring, untuk tidur aku harus melakukannya dengan berdiri, diantara celah tiap kotak. Sekarang sudah tak ada tempat, aku berencana meletakkan di depan kamar tapi, itu menakutkan. Kotak-kotak yang ku hias selama ini akan beku oleh pengabaian. Pengabaian sendiri harusnya bukan jadi hal besar karena aku hanyalah satu dari tujuh milyar manusia yang hidup di bumi, belum lagi jika dibandingkan dengan seluruh spesies yang pernah ada. Jadi, mari saling memperhatikan. Jika kau ingin memberikan bantuan, inilah saatnya. Inilah waktu yang tepat mengulurkan tangan. Ayo sini, duduk sini dekat aku. Genggam tanganku erat.

Apakah kau memiliki ruang kosong? Aku ingin menitipkan satu bok kesedihanku padamu. Ah!! Meski ‘mengalami’ tetap saja tidak sama dengan ‘merasakan’, turut merasakan, terima sajalah. Agar aku tidak pecah dan berserak di jalan-jalan. Agar aku tetap mampu berdiri dan berjalan meski tak lari. Agar aku tak sembunyi. Ayo sini, duduk sini dekat aku. Akan aku ceritakan tentangku. Aku adalah kesedihan. Namaku Leya, usiaku 19 tahun dan selamanya akan seperti itu. Aku adalah bagian dari seorang perempuan yang… ah!! Nanti juga kamu paham.

 

 

 

  • view 31