Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Lainnya 20 Juni 2018   04:32 WIB
Penyembah Doa

Mak, banyak ibu-ibu yang melahirkandan bayi-bayi yang mati kelaparan. Tersebab sebuah ambisi yang begitu besar,menggebu, lalu menghabisi, kami. Nafas-nafas ini jadi berarti jika sesuai dengan yang dimengerti, sepertinya hidup tapi tak hidup. Atau kami hidupkan diri kami, lalu mati jadi bayi-bayi yang kelaparan tadi.

Pagi tadi aku melihat seorang wanita menengadahkan tangan di bawah pohon kamboja. Sehelai daun jatuh tertunduk, per helai, demi helai hingga menumpuk pada pangkuan lalu ia menangis.

 

Malam. Setangkai bunga bersinar lalu jatuh tepat di kedua telapak tangan, aku tersenyum menyaksikan kesabaran. Ia menangis tersedu hingga terjungkal. Aku terus mengamati, semacam apa yang ia cari?

 

“puan, apa yang hendak kautunjukkan? Apa yang hendak kau cari? Bukankah bunga yang lembah nan cantik telah di pangkuan?”

 

Sambil tersedu ia mengadu, “aku tak hendak memerdekakan kamboja dari putiknya. Aku hanya ingin terus melihatnya menjadi bunga dengan aroma semaunya. Aku hanya ingin melihatnya dan merasakan aromanya”

 

“puan, bukankah yang seperti itu tiada? Bukankah telah terbentuk waktu tertentu untuk berlalu?”

 

“untuk itu aku tersedu”

 

“ah!! Puan, dengarkan aku. Katakan ini pada tangismu, kau adalah memori terbaik yang pernah singgah dalam ingatanku,tak perlu jadi nyata apalagi selamanya. Keberadaanmu adalah lebih dari cukup. Karena kau, aku berani bermimipi, aku merangkai lagi pejalananku yang selama ini sembunyi, karena kau aku merasa pantas bermimpi lalu, kau juga yangmengingatkanku kembali, mengajarkan tentang kehilangan. Tak mungkin aku menahan kebebasanmu dengan menunda kenyataan. Terimakasih sudah pernah datang, terimakasih telah menitipkan pikiran yang kau paksakan. Kau telah merangkai kisah hingga khatam. Kini, kembalilah pada ketiadaan

 

“hei kau!! Yang baru saja ucapkan itu. Kau telah mengambil rasaku, kau hilangkan kemampuanku untuk mempercayai. Mengapa berucap demikian? Kau telah melukaiku, kau telah mengambil segala kebahagiaanku untuk bersanding denganmu. Tapi!! Aku memaafkanmu. Ya, aku memaafkanmu. Sudah saatnya mereka kembali padaku”

 

“terimakasih”

 

***

 

mak, bilakah hidup hanya tentang hidup dan mati hanya tentang mati saja. mungkin aku tak hendak kenal-mengenal semacam manusia. biar kita hidup sebisa-bisanya, berdiri di dunia kita lalu mati melipat diri.

Karya : alivia sasa