Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 19 Desember 2017   07:41 WIB
Sebelum Dilan

Ingat ya dek, Dilan itu hanya seorang tokoh, fiktif dan hidup di pikiran seseorang. Dan jika kamu masih ngotot dia nyata. Itu di tahun 90-an, udah usang, catet. Seperti Milea yang percaya bahwa hanya ada satu Dilan di bumi, bukankah kamu juga? Dan itu sudah untuk Milea. Seperti halnya Galih untuk Ratna, Dilan untuk Milea. Titik.

Membaca ‘Dilan’ mengingatkanku pada sebuah obrolan di angkot WK, angkot Surabaya jurusan Wilangun-Keputih. Seorang ibu-ibu yang bersebelahan sedang asik membicarakan seseorang.

“iya, yang ini beda. Meski geng motor tapi sopan, rajin, pinter”

Ini lagi ngomongin anak siapa??? batin.

“bener, saya juga suka sama itu. Sinetron yang mendidik”

Sinetron??? Usut punya usut ternyata yang diomongin adalah mas Boy, Anak Jalanan. Aku jadi ingat Dilan. Dalam versi Bapak Pidi yang diutarakan perantara Milea, agaknya beliau juga ingin menginvasi geng motor jadi komunitas yang beda, penuh makna.

Menurutku, andai semua anggota geng motor seperti Dilan, mungkin tak akan ada anggota geng motor seperti Anhar.

Maksudku, meski keduanya anak berandal, tapi Dilan pintar dan selalu mendapat rangking pertama di kelasnya. Sedangkan Anhar pernah tidak naik kelas.

Setelah ini, selepas bioskop akan menjamur geng motor yang semuanya beranggotakan ‘panglima tempur’, membuntut cewek yang ditaksir sambil bilang ‘kamu cantik tapi aku belum mencintaimu. Enggak tahu kalau sore. Tunggu aja’. Bagaimana lagi? Agaknya dari dulu hingga sekarang geng dan motor adalah simbol dari kejayaan, sebuah kemerdekaan.

Karya : alivia sasa